Beranda / Khutbah Jum'at / Pelajaran Dari Kisah Thufail bin Amr – Khutbah Jum’at

Pelajaran Dari Kisah Thufail bin Amr – Khutbah Jum’at

KHUTBAH PERTAMA

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ.

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ صَلَّى ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

Mari kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mengerjakan perintah-perintah Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Takwa adalah sebaik perbekalan kita menuju Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah: 197)

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Thufail bin Amr ad-Dausi, salah seorang sahabat Rasulullah. Ia adalah seorang yang mulia, pemimpim kaumnya, ahli sya’ir dan cerdas. Pada kisah masuk Islamnya Thufail bin Amr mengandung pelajaran yang banyak. Kita akan dengarkan kisahnya dan kita ambil pelajaran berharganya.

Thufail menceritakan bahwa ia datang ke Mekah sementara Rasulullah tengah berada di kota itu. Datanglah beberapa orang Quraisy kepadanya seraya mengatakan:

يا طُفيل، إنَّك قدمت بلادنا، وهذا الرجل الذي بين أظهرنا قد أعضل بنا، فرّق جماعتنا، وإنّما قوله كالسحر، يفرِّق بين المرء وبين أبيه، وبين الرجل وبين أخيه، وبين الرجل وبين زوجته، وإنما نخشى عليك وعلى قومك ما قد دخل علينا، فلا تكلِّمْه ولا تسمع منه

“Wahai Thufail, engkau datang ke negeri kami sedangkan laki-laki ini (Nabi Muhammad) yang ada di tengah-tengah kami benar-benar telah membuat runyam urusan kami. Dia telah memecah belah persatuan kami. Ucapannya seperti sihir. Memisahkan antara seorang anak dengan ayahnya, antara saudara dengan saudaranya, dan antara suami dengan istrinya. Kami sangat mengakhawatirkanmu dan kaummu nanti terjadi juga seperti yang kami alami. Karena itu, jangan berbicara dengannya dan jangan dengarkan ucapannya.”

Thufail bercerita: Demi Allah, mereka selalu menyertaiku sampai aku sepakat untuk tidak mendengarkan sesuatu apapun darinya dan tidak akan berbicara dengannya. Sampai-sampai aku sumpal kedua telingaku dengan kapas ketika melewati masjid agar aku tidak mendengar ucapannya.

Aku pun melewati masjid. Sementara itu Rasulullah sedang shalat di depan Ka’bah. Aku berdiri di dekatnya dan Allah ternyata berkehendak memperdengarkan kepadaku sebagian dari ucapannya. Aku mendengarkan ucapan yang baik. Maka aku pun berkata kepada diriku sendiri:

واثُكلَ أمِّي، إِني لرجل لبيب شاعر ما يخفى عليَّ الحسن من القبيح، فما يمنعني أن أسمع من هذا الرجل ما يقول؟ فإن كان الذي يأتي به حسناً قبلته، وإن كان قبيحاً تركته

“Aduhai kasihan ibuku, bukankah aku adalah seorang yang cerdas, ahli sya’ir, tidak samar bagiku antara yang baik dengan yang buruk. Lantas apa yang menghalangiku untuk mendengarkan ucapan laki-laki ini?! Apabila hal itu baik aku terima dan jika hal itu buruk maka akan aku tinggalkan.”

Kemudian aku berdiam sejenak sampai Rasulullah pulang ke rumahnya. Aku ikuti beliau sampai beliau masuk rumahnya dan aku pun bertamu kepadanya. Kemudian aku katakan kepadanya:

يا محمد، إنَّ قومك قالوا لي كذا وكذا ــــ للذي قالوا لي ــــ فوالله ما بَرحوا يخوِّفونني أمرك حتى سددتُ أذنيَّ بكُرسُف لئلا أسمعَ قولك، ثم أبى الله إلا أن يسمعنيه، فسمعت قلاً حسناً، فاعرضْ عليَّ أمرك

“Wahai Muhammad, kaummu telah mengatakan kepadaku begini dan begini. Demi Allah, mereka senantiasa menakut-nakutiku terhadapmu, sampai-sampai aku sumpal kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar ucapanmu. Kemudian Allah berkehendak memperdegarkan kepadaku. Maka aku mendengar ucapan yang baik. Oleh sebab itu, paparkanlah kepadaku urusanmu.”

Lantas beliau menjelaskan Islam dan membacakan al-Qur’an kepadaku.

فوالله ما سمعت قولاً قط أحسن، ولا أمراً أعدل منه

“Demi Allah aku tidak pernah mendegar ucapan yang lebih baik dan perkara yang lebih adil darinya.”

Maka aku pun masuk Islam dengan mengucapkan syahadat yang tulus. (Hayatu ash-Shahabah 1/215-216)

❀•◎•❀

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Thufail bin Amr:

  1. Perbuatan musuh-musuh Islam

Memang Allah sudah menakdirkan segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Di antaranya adanya kebaikan dan keburukan, orang yang beriman dan orang yang menentang, orang baik dan orang jahat, dan seterusnya. Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin. (QS. al-An’am: 112)

Musuh-musuh Islam itu akan menggunakan berbagai macam cara untuk membuat orang lari dari kebenaran. Entah itu dengan berbohong, tuduhan palsu, provokasi dan seterusnya.

Coba lihat apa yang mereka katakan kepada Thufail; memecah belah, perkataan sihir dan sebagainya. Dan coba bandingkan dengan musuh-musuh Islam zaman sekarang maka tidak ada bedanya.

Lihat saja tuduhan mereka kepada orang yang baik-baik. Seorang yang rajin ke masjid memilhara jenggot dituduh teroris. Dai yang menyerukan tauhid dan memberantas syirik dituduh pemecah belah.

Seorang yang menyelisihi mereka dalam permasalahan yang disana dibolehkan untuk memilih dituduh tidak hormat ulama, tidak menghargai kiay dan seterusnya. Al-Imam as-Sijazi pernah mengatakan:

أن كل من يخالفهم نسبوه إلى سب العلماء لينفروا قلوب العوام عنه

Setiap orang yang menyelisihi mereka disebut menghina ulama untuk membuat lari hati orang awam darinya (kebenaran). (Risalah al-Imam as-Sijazi fi ar-Rad Ala Man Ankara al-Harf wa ash-Shaut 1/45)

Maka jika ada orang-orang yang seperti ini maka mereka tidak ubahnya dengan orang-orang jahiliyyah di zaman Rasulullah.

❀•◎•❀

  1. Memeriksa berita

Teknologi memang sebuah kemajuan yang tidak bisa kita pungkiri. Berbagai perubahan tercipta dengan perkembangan teknologi. Namun, satu hal yang harus kita pahami bahwa teknologi itu mempunyai dua sisi; baik dan buruk.

Salah satu sisi buruknya adalah sebagai media yang efektif dan ampuh untuk menyebarkan berita bohong. Alangkah mudahnya penyebarannya. Oleh sebab itu kita harus bersungguh-sungguh dalam memeriksa berita. Manis jangan langsung ditelan, pahit jangan langsung dimuntahkan. Akan tetapi periksa kembali. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)

Lihat inilah yang dilakukan oleh Thufail, ia langsung bertanya kepada Rasulullah tentang duduk perkara yang sebenarnya. Ia tidak begitu saja menerima apa yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy tersebut.

Maka di zaman kita ini, sifat ini harus kita tumbuhkan. Jangan langsung percaya terhadap perkataan seseorang sampai kita memeriksa kembali dan menimbang dengan timbangan syariat.

Apalagi kita hidup di zaman yang dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خُدَّاعَاتٌ . يُصَدَّقُ فِيْهَا الكَاذِبُ وَيُكَّذَبُ فِيْهَا الصَّادِقُ . وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu; pendusta akan dibenarkan sedangkan orang yang jujur justru dikatakan dusta dan orang yang khianat akan diberi amanat sedangkan orang yang terpercaya akan dituduh khianat.” (HR. Ibnu Majah: 4036 Dihasankan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah no. 1887)

Pemutarbalikan fakta, sebab itulah penting untuk memeriksa kembali setiap berita yang kita dengar. Bisa jadi berita itu berasal dari orang-orang yang dianggap jujur padahal dia sebenarnya adalah pendusta besar.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah… Diantara pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah Thufail bin Amr radhiallahu anhu:

  1. Kritis dalam beragama

Empat belas abad berlalu dari zaman kenabian, membuat kita harus kritis dalam beragama. Bagaimana tidak? Sedangkan Rasulullah telah mengabarkan bahwa nanti setelah peninggalan beliau akan terjadi perselisihan dan penyimpangan yang sangat banyak. Rasulullah n bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

“Sesungguhnya siapa dari kalian yang hidup setelahku, niscaya akan menyaksikan (mendapati) perselisihan yang banyak.” (HR. Abu Dawud: 4609 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 42)

 Dalam hadits yang lain:

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga, tujuh puluh dua akan masuk neraka, hanya satu yang akan masuk surga dan itulah al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud: 4599 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/358)

Al-Imam Ahmad menyebutkan dalam Musnadnya sebuah hadits yang menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu lebih banyak daripada jalan keselamatan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا،ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ – قَالَ يَزِيدُ: مُتَفَرِّقَةٌ – عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan: “Rasulullah membuat sebuah garis untuk kami lalu bersabda: ‘Inilah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat beberapa garis di kanan dan kirinya lalu bersabda: ‘Inilah jalan-jalan -Yazid berkata: yang berserakan- setiap jalan tersebut terdapat setan yang mengajak kepadanya.’ kemudian beliau membaca firman Allah: dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.(QS. al-An’am: 153)” (HR. Ahmad: 4142, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykah Al-Mashabih: 1/36)

Maka berangkat dari hadits-hadits tersebut, kita harus kritis dalam beragama. Gunakan akal yang telah dianugerahkan Allah kepada kita untuk mencari kebenaran.

Kita benar-benar harus kritis dalam beragama karena kerusakan di zaman kita lebih banyak dan lebih parah jika dibandingkan dengan zaman terdahulu. Rasulullah n bersabda:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya (sebelumnya).” ( HR. Bukhari: 7068)

Bayangkan saja, pada zaman Harun ar-Rasyid, khalifah menangkap seorang pemalsu hadits. Sebelum dipenggal, ia mengaku telah memalsukan seribu hadits.

Jika kita tidak kritis dan enggan mengembalikan urusan agama kepada ahlinya maka kita bisa saja terjatuh pada kesalahan dalam beragama. Kita kira hadits Rasulullah tapi ternyata itu adalah buatan manusia yang tidak bertanggung jawab.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين  وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Baca juga Artikel:

Thufail Bin ‘Amr Ad Dausy – Sirah Sahabat

Selesai disusun di rumah mertua tercinta Jatimurni Bekasi, Jum’at 8 Jumadal Ula 1441H/ 3 Januari 2020M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

 

 

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

‘Amr Bin Al Jamuh – Sirah Sahabat

“Orang Tua yang Bertekad Menginjak Surga dengan Kakinya yang Pincang” Amr bin Jamuh adalah salah …

Tulis Komentar

WhatsApp chat