Salafus Shalih di Ramadhan – Semangat Berpuasa & Melatih Anak-Anak

Sebelum datangnya syariat puasa Ramadhan, puasa yang diwajibkan adalah puasa Asyura’ yakni puasa pada tanggal 10 bulan Muharram. Barulah ketika datang kewajiban puasa Ramadhan maka puasa Asyura’ menjadi sunnah.

Ada sebuah riwayat, terkait dengan bagai-mana semangat para sahabat untuk melakukan puasa serta melatih anak-anak mereka. Rubayi’ binti Muawidz s menuturkan:

أَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ n غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : (مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ

Rasulullah mengutus seorang sabahat di pagi hari Asyura menuju desa-desa kaum Anshar yang berada di sekitaran kota Madinah untuk mengu-mumkan: ‘Barang siapa yang sejak pagi sudah puasa, hendaklah dia lanjutkan puasanya. Dan barang siapa yang sudah makan, hendaknya ia puasa di sisa harinya.’ Rubayyi’ mengatakan: Se-telah itu, kami pun puasa dan melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk puasa. Kami pergi ke masjid dan kami buatkan mainan dari bulu. Jika mereka menangis karena minta makan, kami beri mainan itu hingga bisa bertahan sampai waktu berbuka.[1]

Beberapa faidah dari riwayat di atas:

Pertama, semangat dan bersegeranya para sahabat untuk melakukan perintah. Mereka ti-dak butuh iming-iming ini dan itu. Ketika mereka tahu hal tersebut diperintahkan maka mereka segera melakukannya. Beda dengan kita hari ini, walau sudah tahu kewajibannya dan tahu pula ganjarannya, tetapi masih banyak saja yang eng-gan berpuasa dengan alasan tidak kuat.

Kedua, semangat mereka untuk menjadikan anak-anak mereka menjadi manusia yang shalih, ta’at kepada Allah, dengan melatih mereka puasa.

Ketiga, mainan yang mereka berikan kepada anak-anak mereka adalah mainan yang dapat menjadi wasilah untuk keta’tan kepada Allah. Ini adalah satu hal yang harus kita renungkan, sebab banyak sekarang ini kita sebagai orang tua justru malah memberikan mainan yang membuat lalai anak-anak dari ketaatan kepada Allah. Kita beri-kan mereka laptop, gadget, kita sediakan Wifi agar mereka dapat akses internet, kita belikan PS, dll, dengan alasan agar mereka dapat hiburan dan mampu berpuasa. Akan tetapi, kenyataan-nya tidak demikian. Mainan-mainan tesebut jus-tru melalaikan mereka. Betul mereka kuat ber-puasa akan tetapi mereka malah tidak shalat, tidak membaca Al-Quran, dst. Oleh karena itu, lihatlah Salafus Shalih. Silahkan berikan mainan, akan tetapi pastikanlah bahwa mainan itu dapat menjadikan mereka bertambah ta’at dan men-dekat kepada Allah bukan malah sebaliknya.

Baca juga Artikel

Ramadhan Mubarak

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

_________________________________

[1]     HR. Bukhari: 1960, Muslim: 1136

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp chat