Trending

Semua Takdir Allah Ta’ala, Ridhalah Dengan Kepergian Mereka – Khutbah Jum’at

Khutbah kali ini membahas tentang wajibnya kita ridha terhadap takdir Allah atas kepergian orang-orang yang kita cintai karena musibah pandemi covid 19

KHUTBAH PERTAMA

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ  أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله قال الله : ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Pada tahun ke-3 Hijriyah saat kaum musyrik Mekah datang untuk menuntut balas atas kekalahan mereka di perang Badar setahun sebelumnya, setelah bermusyawarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akhirnya memutuskan untuk keluar dan berperang langsung secara terbuka menghadapi orang-orang musyrik itu di luar kota Madinah di dekat gunung Uhud. Kaum munafik yang dipimpin oleh Adullah bin Ubai bin Salul tidak setuju dengan keputusan ini. Karena itulah, di tengah perjalanan menuju medan pertempuran, mereka membelot dan berbalik pulang seraya berkata: “Kami tidak tahu atas dasar apa kami harus membunuh diri kami sendiri?”

Terjadilah perang Uhud yang dahsyat dan Allah menakdirkan kaum muslimin merasakan musibah kepahitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai terluka; gigi seri beliau patah, bibir beliau berdarah bahkan dua lempeng besi melukai dan menusuk pipi beliau. Para sahabat berguguran, mereka yang gugur berjumlah 70 orang dan di antaranya paman Rasulullah yaitu Hamzah bin Abdul Muttalib.

Ketika kabar itu sampai ke telinga orang-orang munafik maka mereka pun mengatakan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “Seandainya kita memiliki sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya (kita tak akan terkalahkan) dan tidak ada yang terbunuh di antara kita di sini (perang Uhud). Katakanlah: “Kalaupun kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (keimanan) yang ada dalam dadamu, dan membuktikan (niat) yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi segala hati.” (QS. Ali Imran: 154)

Mereka juga mengatakan kepada kawan-kawan mereka sebagaimana yang difirmankan Allah:

الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا ۗ قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka takut pergi berperang: “Seandainya mereka mengikuti kita tentulah mereka tidak akan terbunuh.” Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali Imran: 168)

Mereka berandai-andai untuk menyombongkan diri sekaligus menolak takdir Allah atas apa yang telah terjadi.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah……..

Musibah pandemi ini, telah menyebabkan kita kehilangan orang-orang yang kita cintai. Ada diantara kita yang kehilangan ayahnya, ada yang kehilangan ibunya, ada yang kehilangan istrinya, anak-anak, keluarga, sahabat, guru-gurunya, dst dari orang-orang kita cintai. Kesedihan mendalam telah menyelimuti kita semua karena perpisahan dengan mereka.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

Kita boleh bersedih, mata kita boleh meneteskan airnya. Menangis adalah sesuatu yang manusiawi dan bukan tanda kelemahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja menangis karena perpisahan, saat meninggalnya anak kesayangan beliau yang bernama Ibrahim. Yang tidak boleh adalah menyesali takdir dan tidak ridha dengan ketetapan Allah. Kemudian mengucapkan kata atau melakukan perbuatan yang dilarang.

Kalau saja, andai saja, jika saja, dst dari kata-kata yang menunjukkan ketidakridhaan kepada takdir Allah inilah yang tidak boleh. “Kalau saja ibu tidak pergi ke sana maka tentu ibu tidak akan kena virus ini. Kalau saja bapak tetap di rumah tentu bapak tidak akan begini. Andai saja aku tidak menemui si fulan tentu akau tidak akan terinfeksi yang kemudian aku tularkan kepada keluargaku. Jika saja rumah sakit itu tidak menolak anakku maka tentu anakku akan tertolong,” dst dari kata-kata kalau saja, andai saja, jikalau saja. Berandai-andai terhadap sesuatu yang telah terjadi sebagai bentuk ketidakridhaan terhadap Takdir Allah sebagaimana ucapan orang-orang munafik yang menyesali dan tidak ridha dengan takdir Allah atas kematian dan kekalahan pada peperangan Uhud.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah: “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.” (HR. Muslim: 2664)

Dalam kehidupan dunia, seorang muslim harus memiliki empat sifat: Pertama, bersemangat dalam mengejar dan melakukan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dunia apalagi akhirat. Kedua, selalu isti’anah (memohon bantuah kepada Allah). Ketiga, melanjutkan urusan dan terus tanpa merasa lemah. Keempat, jika hasil yang diperoleh bertolak belakang dengan harapan dan maksud maka ini adalah takdir yang harus diserahkan kepada Allah.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…….

Apa yang telah terjadi dan menimpa kita maka terimalah dengan lapang dada. Semua adalah takdir Allah. Ajal setiap insan telah ditetapkan, jika telah tiba waktunya maka tidak seorang pun yang dapat lari darinya. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Kita tidak akan bisa menyematkan orang-orang yang kita cintai itu dari kematian saat ajal telah datang. Allah berfirman:

 وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-A’raf: 34)

Mau kemana akan kita bawa orang-orang yang kita cintai itu untuk menghindarkan mereka dari ajal. Sampai pun kita lindungi mereka di dalam benteng yang kokoh, jika ajal telah sampai maka semua itu tidak akan berguna. Allah berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS. An-Nisa’: 78)

Maka terhadap semua yang telah terjadi, marilah kita katakan:

قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

 Katakanlah semua adalah takdir Allah dan Allah melakukan apa yang Ia kehendaki

Jangan kemudian kita mengatakan andaisaja, kalau saja, jika saja, dst dari kata-kata yang menunjukkan ketidakridhaan kepada takdir Allah. Mari bersabar dan lapang dada menerima semuanya, mari kita siapkan amal shalih kita masing-masing, karena kita semua pun akan menyusul mereka, seraya kita berdo’a mudah-mudahan Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita kembali dengan orang-orang yang kita cintai ini di surga Allah pada hari akhirat nanti.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi, 27 Dzulhijjah 1442 H/ 6 Agustus 2021M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp chat