Beranda / Khutbah Jum'at / Empat Pelajaran Penting Dari Syariat Haji Dan Qurban – Khutbah Idul Adha 1440H

Empat Pelajaran Penting Dari Syariat Haji Dan Qurban – Khutbah Idul Adha 1440H

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللّهُ أَكْبَرُ كُلَّمَا صَلَّى مَصْلٍّ وَكَبَّرَ وَاللّهُ أَكْبَرُ كُلَّمَا صَامَ صَائِمٌ وَأَفْطَرَ, اللّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالحَمْدُ لله كَثِيرًا وَسُبْحَان الله بُكْرَة وَأَصِيْلا

اللهم لَك الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَلَك الْمُلْكُ كُلُّهُ، وَبِيَدِك الْخَيْرُ كُلُّهُ، وَإِلَيْك يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ، عَلَانِيَتُهُ وَسِرُّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أنت الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ؛ رَبٌّ رَحِيمٌ عَفُوٌّ كَرِيمٌ، يَغْفِرُ الذُّنُوبَ، وَيَسْتُرُ الْعُيُوبَ. يُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، وَيُضَاعِفُ الْحَسَنَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ؛ النَّبِيُّ الْأَمِينُ، وَالنَّاصِحُ الْمُبِينُ. رَحْمَةٌ لِلْعَالَمِينَ، وَحُجَّةٌ عَلَى الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Mari kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mengerjakan perintah-perintah Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Takwa adalah sebaik perbekalan kita menuju Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman:

  وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah: 197)

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang mulia terutama sepuluh hari awal darinya. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ، يَعْنِي :عَشْرَذِيْ الْحِجَّةِ، قِيْلَ : وَلامِثْلُهُنَّ فِي سَبِيْل اللهِ؟ قَالَ :وَلَامِثْلُهُنَّ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، إِلَّا رجُلٌ عَفَّرَ وَجْهَهُ فِيْ التُّرَابِ

Hari-hari yang paling utama di dunia ini adalah hari yang sepuluh, yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Dikatakan kepada beliau, “Termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang menutup wajahnya dengan debu (mati syahid)” (HR. Al-Bazzar, Shahih at-Targhib: 1150)

Bulan ini dengan berbagai amalan dan syariat di dalamnya, seperti haji dan qurban, mengajarkan banyak hal kepada kita. Di antara pelajaran yang dapat kita petik dari syariat haji dan qurban ini ada 4 perkara, yaitu:

1. HIDUP UNTUK IBADAH

Semua hidup kita adalah untuk ibadah, karena memang kita diciptakan hanya untuk itu. Bukan untuk sekedar makan, minum dan bersenang-senang. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kapadaku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Di dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. al-An’am: 162)

Di bulan Dzulhijjah ini, ada pelajaran untuk mengingatkan hakikat hidup kita itu. Karena kita ini manusia, mudah lupa, butuh untuk senantiasa diingatkan. Allah berfirman dalam hal ibadah haji agar seorang berangkat haji hanya untuk-Nya:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا َ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imron: 97)

Dan dalam hal ibadah kurban Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (Qs. Al-Kautsar; 2)

Semua itu adalah untuk mengingatkan hakikat besar ini kepada kita semua. Oleh sebab itu, alangkah baiknya kita merenungkan serta mengambil pelajaran dari syariat-syariat di bulan mulia ini, agar kita senantiasa ingat bahwa selamanya kita ini adalah hamba Allah yang harus patuh dan tunduk kepada-Nya.

2. MENYEMPURNAKAN ITTIBA’

Ittiba‘ adalah mengikuti Rasulullah ﷺ, melakukan ibadah sesuai dengan tuntunannya. Hal ini adalah sebuah kewajiban. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21 )

Semua ibadah harus didasarkan pada ittiba’. Dalam kaitannya dengan ibadah di bulan Dzulhijjah ini Rasulullah ﷺ bersabda:

خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ

Ambillah dariku (contoh) tata cara manasik haji kalian.” (HR. Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra)

Dalam riwayat Imam Muslim rahimahullah Rasulullah ﷺ bersabda:

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ

“Agar kalian mengambil cara manasik kalian (dariku).” (HR. Muslim: 1297)

Dalil ini sangat jelas menunjukkan kepada kita tentang kedudukan Ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ dalam melakukan ibadah.

Kwualitas ittiba’ akan menetukan besar kecilnya kemuliaan. Semakin seorang ittiba’, semakin ia mulia dan selamat. Para sahabat menjadi generasi terbaik karena mereka memang benar-benar mewujudkan ittiba’ yang sesungguhnya dalam kehidupan mereka. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, ia menuturkan:

قَدِمَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِسِعَايَتِهِ قَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَ أَهْلَلْتَ يَا عَلِيُّ قَالَ بِمَا أَهَلَّ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu datang dengan membawa si’ayah. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam pun bertanya kepadanya: ‘Dengan apa engkau tadi bertalbiyah wahai Ali?’ Ali menjawab: ‘Aku bertalbiyah dengan talbiyahnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.’” (HR. Bukhari: 4352)

Umar bin Khaththab pernah mengatakan ketika mencium Hajar Aswad:

وَاللَّهِ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْه وَسَلَّم قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Demi Allah aku menciummu padahal aku sangat tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak bisa memberi manfaat atau mudharat. Kalaulah bukan karena aku pernah melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu.” (HR Bukhari: 1532, Muslim: 1270)

Oleh sebab itu, mengambil pelajaran dari syariat di bulan Dzulhijjah yang mulia ini, maka marilah membenahi ittiba’ kita kepada Rasulullah ﷺ. Jangan banyak tanya atau meremehkan, jangan kemudian mengatakan “Ini kan hanya sunnah, tidak wajib.” Jika sesuatu itu memang ajaran beliau ﷺ maka terima dan laksanakan. Agar kita selamat dan menjadi pribadi-pribadi yang mulia.

3. TUNDUK KEPADA PERINTAH ALLAH

Ketundukkan adalah hal yang dituntut dari seorang hamba. Berkaitan dengan bulan yang mulia ini dan syariat di dalamnya maka tidak akan terlepas dari kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Kita dapat mengambil pelajaran dari Nabi Ibrahim alaihis salam dalam hal ketundukan kepada perintah Allah, di antaranya pada dua hal:

Pertama, pada saat diperintahkan untuk meninggalkan isteri dan anaknya yang masih bayi di sebuah lembah yang tak berpenghuni, tidak ada air dan tumbuhan, beliau tunduk dan melaksanakan dengan penuh ketaatan seraya berdoa:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Kedua, setelah anaknya tersebut tumbuh besar, saat hati Nabi Ibrahim sangat bahagia melihatnya beranjak dewasa. Tapi, Allah dengan hikmah-Nya justru memerintahkan untuk menyembelihnya. Ujian dan perintah yang berat tentunya. Namun sekali lagi, beliau tunduk dan taat. Allah berfirman:

  فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; in syaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shofat: 102 )

Ujian dan perintah yang tidak mudah diterima oleh hawa nafsu, akan tetapi Nabi Ibrahim tunduk dan patuh sekaligus percaya bahwa Allah selamanya tidak akan mencelakakan atau menyia-nyiakan hamba-Nya. Akhirnya dengan sikap inilah Nabi Ibrahim mengapai derajat yang amat tinggi yaitu khalilurrahman.

Maka belajarlah dari Nabi Ibrahim, jangan pernah ragu untuk melakukan sesuatu yang merupakan perintah Allah atau meninggalkan sesuatu karena Allah. Percaya bahwa ketundukan akan membawa berkah.

Sebagai contoh, jika kita berada dalam pekerjaan yang haram, bergelimang dengan riba, judi atau maksiat maka tinggalkanlah segera. Tunduk dan patuh kemudian yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang tunduk dan patuh pada-Nya. Ingat sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah azza wajalla melainkan Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari itu.” (HR. Ahmad:21996)

Oleh sebab itu, pelajaran penting ini harus benar-benar kita pahami. Kemudian kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, agar kita menjadi hamba Allah yang sejati.

4. MENJADI PRIBADI YANG BERAKHLAK MULIA

Haji dan qurban disyariatkan untuk beberapa hikmah yang mendalam, di antaranya adalah untuk menjadikan kita manusia berakhlak mulia, membersihkan hati dari penyakit dengki, dan segala kotorannya. Membersihkan lisan dari segala ucapan yang kotor. Allah berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh berkata yang kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.“ (QS. Al-Baqarah: 197)

Lihat bagaimana syariat haji itu menuntut kita menjadi pribadi yang mulia. Tidak mengucapkan ucapan-ucapan kotor yang menyakitkan orang lain.

Dalam syariat qurban juga demikian, kita dianjurkan untuk memberikan bagian kepada orang-orang miskin. Bahkan Rasulullah ﷺ memberikan seluruh hasil sembelihannya kepada orang-orang miskin. Dari Ali bin Abi Thalib, ia menuturkan:

أنَّ النَّبِىَّ ﷺ أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا ، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا فِى الْمَسَاكِينِ

Nabi ﷺ memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. (HR. Bukhari: 1717)

Salah satu hikmahnya adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain di hari bahagia. Dalam bentuk memberikan makanan kepada mereka. Sedang memberikan kebahagiaan kepada orang lain adalah amalan yang paling dicintai Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الناسِ إلى اللهِ أنفعُهم للناسِ ، وأَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ تُدخِلُه على مسلمٍ

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang muslim.” (HR.Tabrani, Ash-Shahihah: 906)

Senang berbagi dan memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang lemah dengan memberikan makanan terbaik dan disukai kepada mereka adalah ciri hamba-hamba pilihan. Allah berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (QS. Al-Insan: 8)

Rasulullah ﷺ dalam sebuah haditsnya pun menjelaskan akan hal tersebut. Dari Ibnu Hani’ menceritakan:

قَالَ أَبُو شُرَيْحٍ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ يُوجِبُ لِيَ الْجَنَّةَ ، قَالَ : طِيبُ الْكَلامِ ، وَبَذْلُ السَّلامِ ، وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ

“Abu Syuraih berkata: ‘Wahai Rasulullah, beritahukan padaku sesuatu yang akan memasukkanku ke dalam surga.’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Ucapan yang baik, menyebarkan salam, dan memberi makan.’” (HR. Ibnu Hibban: 509, Al-Baihaqi dalam Syu’bul Iman: 4943)

Oleh sebab itu, di hari-hari ini ketika umat Islam berada dalam suasana bahagia yaitu hari Raya Idul Adha, alangkah baiknya jika kita sengaja menyiapkan makanan terbaik dan yang paling kita sukai untuk diberikan kepada orang-orang miskin, anak yatim dan dhu’afa.

Apalagi sebagian dari mereka mungkin saja tidak pernah makan daging kecuali satu kali setahun yaitu pada hari Raya Idul Adha saja.
Ibadah qurban mengajarkan kepada kita untuk dapat menjadi hamba yang baik. Tidak hanya baik hubungan dengan Allah namun juga baik kepada sesama hamba-Nya.

Berikan makanan kepada orang-orang miskin, bahagiakan mereka. Mudah-mudahan dengan melakukan hal itu kita dapat menginjakkan kaki di surga Allah subhanahu wata’ala.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

Jangan Suka Mencari-cari Kesalahan Orang Lain – Khutbah Jum’at

KHUTBAH PERTAMA ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ …

Tulis Komentar

WhatsApp chat