
Tafsir Nama Allah Ash Shamad
Allah berfirman:
ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ
Allah adalah Ash Shamad (QS. Al-Ikhlas: 2)
Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menyebutkan banyak makna yang disebutkan oleh para ulama Tafsir. Jika diringkas, menunjukkan kepada 4 garis besar yaitu:
- Sumber Sandaran Makhluk dan Puncak Kepemimpinan:
- Dialah Dzat yang menjadi tujuan seluruh makhluk dalam menyampaikan kebutuhan dan permohonan mereka (Pendapat Ibnu Abbas).
- Dialah Sang Pemimpin (Al-Sayyid) yang telah sempurna dan mencapai puncak dalam kepemimpinan, kemuliaan, keagungan, kelembutan, ilmu, serta hikmah-Nya (Pendapat Ibnu Abbas dan Abu Wail).
- Kelestarian dan Keabadian:
- Dialah Dzat yang kekal setelah seluruh makhluk-Nya fana, Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri yang tidak akan sirna (Pendapat Al-Hasan dan Qatadah).
- Penafian Kebutuhan dan Pembersihan dari Sifat Makhluk:
- Dialah Dzat yang tidak berongga, padat, serta tidak makan maupun minum (Pendapat Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Asy-Sya’bi).
- Dialah Dzat yang tidak keluar sesuatu pun dari-Nya, tidak diberi makan, tidak melahirkan, dan tidak dilahirkan (Pendapat Ikrimah dan Ar-Rabi’ bin Anas).
- Sifat Cahaya:
- Dialah Cahaya yang berkilauan (Pendapat Ibnu Buraidah).
Setelah menyebutan pendapat-pendapat ini, diakhir Ibnu Katsir berkata:
وَقَدْ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ فِي كِتَابِ السُّنَّةِ لَهُ، بَعْدَ إِيرَادِهِ كَثِيرًا مِنْ هَذِهِ الْأَقْوَالِ فِي تَفْسِيرِ “الصَّمَدِ”: وَكُلُّ هَذِهِ صَحِيحَةٌ، وَهِيَ صِفَاتُ رَبِّنَا، عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ الَّذِي يُصمَد إِلَيْهِ فِي الْحَوَائِجِ، وَهُوَ الَّذِي قَدِ انْتَهَى سُؤْدُدُهُ، وَهُوَ الصَّمَدُ الَّذِي لَا جَوْفَ لَهُ، وَلَا يَأْكُلُ وَلَا يَشْرَبُ، وَهُوَ الْبَاقِي بَعْدَ خَلْقِهِ. وَقَالَ الْبَيْهَقِيُّ نَحْوَ ذَلِكَ [أَيْضًا]
“Al-Hafiz Abu al-Qasim ath-Thabrani telah berkata dalam kitab As-Sunnah miliknya, setelah memaparkan banyak dari pendapat-pendapat ini dalam menafsirkan (makna) ‘Ash-Shamad’: ‘Dan semua (pendapat) ini adalah benar, dan itu merupakan sifat-sifat Tuhan kita Azza wa Jalla. Dialah Dzat yang dituju (yushmadu ilaihi) dalam segala kebutuhan, Dialah Dzat yang telah mencapai puncak kepemimpinan-Nya, Dialah Ash-Shamad yang tidak berongga, tidak makan dan tidak minum, serta Dialah Dzat yang kekal setelah (fanya) makhluk-Nya.’ Dan Al-Baihaqi pun menyatakan hal yang serupa dengan itu [juga].”
Implikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Implikasi adalah dampak, akibat langsung, atau konsekuensi yang ditimbulkan dari suatu tindakan, kebijakan, atau temuan penelitian di masa depan Banyak sekali Implikasi dari keimanan kita terhadap nama Allah Ash Shamad ini, diantaranya:
- Hanya meminta dan berharap kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi kepada Ibnu Abbas:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika engkau memohon (meminta), maka mohonlah kepada Allah; dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmizi: 2516)
Sehingga melahirkan sifat iffah (menjaga diri) dari meminta-minta kepada manusia. Auf bin Malik berkata:
«كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً، فَقَالَ: “أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللَّهِ؟” فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا فَبَايَعْنَاهُ، ثُمَّ قَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: “عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَتُصَلُّوا الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ، وَتَسْمَعُوا وَتُطِيعُوا” – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – : “وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا”. فَلَقَدْ كَانَ بَعْضُ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ»
Kami pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu berjumlah sembilan atau delapan orang. Beliau bersabda: ‘Tidakkah kalian berbaiat (berjanji setia) kepada Rasulullah?’ Maka kami pun membentangkan tangan kami dan membaiat beliau.
Lalu seseorang di antara kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah, atas dasar apa kami membaiatmu?’ Beliau bersabda: ‘(Yaitu) agar kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat lima waktu, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin)’. —Lalu beliau membisikkan satu kalimat dengan suara rendah—: ‘Dan janganlah kalian meminta sesuatu pun kepada orang lain’.
Sungguh, aku melihat sebagian dari rombongan tersebut, ketika cambuk salah seorang dari mereka jatuh (saat menunggang unta), ia tidak meminta seorang pun untuk mengambilkan cambuk itu baginya (ia turun sendiri untuk mengambilnya).” (HR. Muslim: 1043)
- Mendahulukan kepatuhan kepada Allah dari pada kepatuhan kepada selain-Nya. Karena Allah-lah As Sayyid. Salah satu teladan dalam hal ini adalah sahabat yang mulia, Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya. Ketika beliau masuk Islam, ibunya mogok makan dan minum agar beliau kembali (murtad) dari agamanya. Namun, beliau radhiyallahu ‘anhu menolak dan tetap teguh di atas keislamannya seraya berkata:
يَا أُمَّهْ، تَعْلَمِينَ وَاللَّهِ لَوْ كَانَتْ لَكِ مِائَةُ نَفْسٍ فَخَرَجَتْ نَفْسًا نَفْسًا مَا تَرَكْتُ دِينِي هَذَا لِشَيْءٍ، فَإِنْ شِئْتِ فَكُلِي، وَإِنْ شِئْتِ لَا تَأْكُلِي. فَأَكَلَتْ
Wahai Ibu, demi Allah, andai engkau memiliki seratus nyawa lalu nyawa itu keluar satu demi satu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apa pun. Jika engkau mau, silakan makan; dan jika engkau mau, silakan tidak makan.
Maka ibunya pun akhirnya makan. Lihat: Tafsir Ibn Katsir (3/429)
Maka hendaknya dalam kehidupan ini, kita hendaknya lebih bergegas jika Allah yang memanggil (azan, shalat jum’at) dari pada panggilan atasan (bos). Kita lebih memilih dipecat dari pekerjaan dari pada tidak bisa shalat atau harus membuka kerudung atau aurat (bagi wanita muslimah)
- Bangga dengan Islam dan kokoh menyakini Allah lah tuhan yang haq, Maha Esa. Tempat bersandar dan meminta kemuliaan dan pertolongan. Dari Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata:
أَوَّلُ مَنْ أَظْهَرَ إِسْلَامَهُ سَبْعَةٌ: رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَأَبُو بَكْرٍ، وَعَمَّارٌ، وَأُمُّهُ سُمَيَّةُ، وَبِلَالٌ، وَصُهَيْبٌ، وَالْمِقْدَادُ. فَأَمَّا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَبُو بَكْرٍ فَمَنَعَهُمَا اللَّهُ بِقَوْمِهِمَا، وَأَمَّا سَائِرُهُمْ فَأَخَذَهُمُ الْمُشْرِكُونَ، فَأَلْبَسُوهُمْ أَدْرَاعَ الْحَدِيدِ، وَصَهَرُوهُمْ فِي الشَّمْسِ، فَمَا مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلَّا وَاتَاهُمْ عَلَى مَا أَرَادُوا إِلَّا بِلَالٌ؛ فَإِنَّهُ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فِي اللَّهِ، وَهَانَ عَلَى قَوْمِهِ، فَأَعْطَوْهُ الْوِلْدَانَ، فَجَعَلُوا يَطُوفُونَ بِهِ فِي شِعَابِ مَكَّةَ، وَهُوَ يَقُولُ: أَحَدٌ، أَحَدٌ
‘Orang yang pertama kali menampakkan keislamannya ada tujuh orang: Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Ammar, ibunya (Sumayyah), Bilal, Shuhaib, dan Al-Miqdad. Adapun Nabi ﷺ dan Abu Bakar, maka Allah melindungi keduanya melalui kaumnya (keluarganya). Sedangkan yang lainnya ditangkap oleh kaum musyrikin, lalu mereka dipakaikan baju besi dan dijemur di bawah terik matahari yang sangat panas. Tidak ada seorang pun di antara mereka melainkan terpaksa menuruti kemauan kaum musyrikin (karena beratnya siksaan), kecuali Bilal. Sesungguhnya ia (Bilal) menganggap remeh dirinya (nyawanya) demi membela agama Allah, dan kaumnya pun menganggapnya rendah. Mereka menyerahkan Bilal kepada anak-anak kecil, lalu anak-anak itu menyeretnya berkeliling di jalan-jalan kota Mekkah, sementara ia (Bilal) terus berucap: ‘Ahad, Ahad’ (Allah Maha Esa, Allah Maha Esa)” (Siyar A’lamin Nubala’ 1/348)
Maka dari sini bagi kita hari ini: Haramnya mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani. Karena bertentangan dengan makna Ash Shamad yang salah satu artinya: Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Demikian pula mengucapkan selamat kepada hari raya agama lain yang merupakan bentuk ridha dan tidak mau mengingkari kesesatan.
Ujian kita tidak seperti Bilal, kita cukup menahan diri untuk tidak mengatakan hal tersebut.
Tentu masih banyak lagi contoh-contoh yang menjadi Implikasi dari mengimani nama Allah Ash Shamad ini, silahkan renungkan.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom


Yuk Gabung !