Beranda / Ilmu Syar'i / Soal Jawab / Benarkah ungkapan “Bumi Pertiwi” itu syirik?

Benarkah ungkapan “Bumi Pertiwi” itu syirik?

Soal: Apakah benar ungkapan “bumi pertiwi” itu syirik? Saya pernah dengar ada ustadz yang bilang begitu. Mohon penjelasannya…

Jawab:

Alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah amma ba’du.

Salah satu syari’at dalam agama kita adalah menghindari kata-kata yang bisa dimaknai dengan makna yang buruk. Banyak dalil yang menunjukkan atas hal ini, diantaranya firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 104, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan Ra’ina, tetapi katakanlah, “Unzurna,” dan dengarkanlah. Dan orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih. (QS. Al-Baqarah: 104)

Kata ra’ina pada dasarnya bermakna baik yaitu “perhatikanlah kami.” Para sahabat ketika mengucapkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak ada maksud mereka selain ini. Hanya saja – sebagaimana yang dijelaskan dalam Tafsir Al-Muyassar – karena orang-orang Yahudi mempelesetkan kata-kata itu dan menggunakannya untuk berbicara kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tetapi dengan maksud yang buruk, yaitu “ru’ūnah (bodoh),” maka Allah melarang penggunaan kata-kata itu demi menutup pintu tersebut. Dan Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar menggunakan kata-kata lain sebagai gantinya, yaitu kata-kata “Unzhurna” yang berarti “Tunggulah, agar kami bisa mengerti apa yang engkau ucapkan”. Kata-kata ini memiliki makna yang sama dengan kata-kata sebelumnya tetapi tidak mengandung sesuatu yang terlarang.

Referensi: https://tafsirweb.com/515-surat-al-baqarah-ayat-104.html

Ungkapan bumi pertiwi perlu kita lihat dulu maknanya, terutama makna dari kata “pertiwi“nya. Dalam KBBI pertiwi mempunyai beberapa makna yaitu; bumi, dewi yang menguasai bumi, tanah tumpah darah; bumi.

Dalam keterangan wikipedia, Pertiwi (Sanskerta: pṛthvī, atau juga pṛthivī) adalah Dewi dalam agama Hindu dan juga “Ibu Bumi” (atau dalam bahasa Indonesia “Ibu Pertiwi”). Sebagai pṛthivī matā “Ibu Pertiwi” merupakan lawan dari dyaus pita “Bapak Angkasa”. Dalam Rgveda, Bumi dan Langit seringkali disapa sebagai pasangan, mungkin hal ini menekankan gagasan akan dua paruh yang saling melengkapi satu sama lain.

Pertiwi juga disebut Dhra, Dharti, Dhrthri, yang artinya kurang lebih “yang memegang semuanya”. Sebagai Prthvi Devi, ia adalah salah satu dari dua sakti Batara Wisnu. Sakti lainnya adalah Laksmi.

Prthvi adalah bentuk lain Laksmi. Nama lain untuknya adalah Bhumi atau Bhudevi atau Bhuma Devi.

Maka dari keterangan ini, secara umum kita bisa mengambil pelajaran bahwa kata pertiwi mengandung dua makna yang penting yaitu; Dewi yang menguasai bumi, Tanah tumpah darah.

Jika kata bumi digandeng dengan kata ini menjadi “Bumi Pertiwi” maka maknanya ada dua:

1. Jika digandeng dengan makna yang pertama maka bumi pertiwi artinya bumi miliknya Dewi yang menguasai bumi. Makna ini jelas salah dan merupakan ucapan yang mengandung kesyirikan. Karena keyakinan kita sebagai umat Islam hanya Allah-lah yang menciptakan, memiliki, menguasai bumi ini tidak ada sekutu bagi-Nya. Kemungkinan besar yang dimaksud oleh ustadz tersebut yang dikatakan oleh penanya adalah makna yang pertama ini, sehingga benar kalau unggkapan bumi pertiwi itu adalah ungkapan yang mengandung kesyirikan.

2. Jika digandeng dengan makna yang kedua maka bumi pertiwi artinya bumi tumpah darah, yaitu negeri yang menjadi asal usul nenek moyang dan bangsa.

Jika yang diinginkan makna yang pertama jelas hukumnya haram karena itu syirik,  adapun jika yang diinginkan makna yang kedua maka tidak mengapa. Dan kita ber-husnuzhan (berbaik sangka) kepada masyarakat Indonesia, in syaa Allah ketika mereka mengucapkan bumi pertiwi yang mereka maksudkan adalah makna yang kedua yaitu negeri tumpah darah mereka bukan makna yang pertama.

Hanya saja, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa termasuk bagian dari syari’at yaitu menjaga pengucapan kata-kata yang mengandung dua kemungkinan; baik dan buruk. Hal ini pula yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau senantiasa menjaga ummatnya dari ucapan yang bisa menjurus ke arah yang buruk. Beliau shallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ أَطْعِمْ رَبَّكَ وَضِّئْ رَبَّكَ اسْقِ رَبَّكَ وَلْيَقُلْ سَيِّدِي مَوْلَايَ وَلَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ عَبْدِي أَمَتِي وَلْيَقُلْ فَتَايَ وَفَتَاتِي وَغُلَامِي

Janganlah seorang dari kalian memerintahkan (budaknya) dengan kalimat; Hidangkanlah makanan untuk rabb kamu, wudhukanlah rabbmu, sajikanlah minuman untuk rabbmu tapi hendaklah dia berkata dengan kalimat sayyidku, maulaku (pemeliharaku). Dan janganlah seorang dari kalian mengatakan ‘abdiy (hamba laki-laki) ku, atau amatiy (hamba perempuan) ku tapi katakanlah: pemudaku, pemudiku dan ghulamku“. (HR. Bukhari: 2552, Muslim: 2249)

Oleh sebab itu, sebaiknya kata bumi pertiwi ini kita hindari, meskipun maknanya benar, untuk kehati-hatian kita dalam beragama karena disisi lain dia memiliki makna yang salah, lebih baik kita katakan bumi Allah. Atau jika kita ingin mengungkapkan negeri maka cukup kita katakan negeri, kampung halaman, negara kita, Indonesia, dll. Wallahu a’lam.

Wallahu a’lam #bantu jawab
Sabtu, 5 Rabiul Awal 1441/2 Nov 2019

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

KITABUT TAUHID BAB 29 – Ilmu Nujum (Perbintangan)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Qatadah bahwa ia berkata: خَلَقَ اللهُ هَذِهِ النُّجُوْمَ …

Tulis Komentar

WhatsApp chat