
Ujub Adalah Awal Kehancuran – Khutbah Jumat
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قال الله: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada awal abad 20 masehi, hiduplah seorang bernama Abdullah Al-Qasimi, dinisbatkan kepada daerah lahirnya yaitu Provinsi Qasim, Arab Saudi, meski sebenarnya ia berasal dari Mesir. Ia lahir tahun 1907 M dan meninggal di Mesir pada tahun 1996 M. Ia adalah seorang intelektual yang sangat cerdas dan kuat dalam membela kebenaran. Ia bahkan masuk ke dalam jajaran para ulama.
Banyak karya hebat lahir dari tangannya. Diantaranya sebuah Kitab dengan judul Ash-Shira’ Baina Al-Islam wa Al-Watsaniyyah (Pertarungan Antara Islam dan Paganisme). Kitab ini diterima secara luas bahkan mendapatkan pujian dari para ulama ahli sunnah. Bahkan ada yang sampai mengatakan; “Dengan kitab ini Al-Qasimi membayar mahar surga”.
Namun sayang, di akhir hayatnya ia menulis sebuah kitab yang menjadi akhir dari keyakinannya dengan judul Hadzi Hiya Al-Aghlal (Inilah Belenggu-Belenggu itu) yang isinya menyebut bahwa syariat Islam adalah belenggu yang membatasi kebebasan manusia dan menghalangi kemajuan. Ia terang-terangan menolak Islam. Karena itu, para ulama pun menvonisnya telah keluar dari Islam. Bahkan, ia yang dahulu membela Islam dan tauhid, justru meninggal dalam keadaan yang sangat tragis yaitu sebagai seorang Ateis.
Apa yang menyebabkan kejatuhan ini? Salah satu faktor terbesarnya adalah ujub, yang tampak jelas dalam bait-bait syair yang ia lantunkan. (lihat buku Rambu-Rambu Dakwah oleh Dr. Firanda Andirja, MA hal: 57-70)
Maka dari kisah nyata ini tampaklah bagi kita betapa berbahaya dan mengerikannya penyakit ujub.
Jamaah yang dirahmati Allah, apa sebenarnya Ujub itu? Dan apa bedanya dengan sombong? Imam Ibnul Mubarak menjelaskan dengan sangat indah:
الْكِبْرُ: أَنْ تَزْدَرِيَ النَّاسَ. وَالْعُجْبِ: أَنْ تَرَىٰ أَنَّ عِنْدَكَ شَيْئًا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِكَ
“Sombong adalah engkau meremehkan orang lain. Sedangkan Ujub adalah engkau memandang bahwa dirimu memiliki sesuatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.” (lihat: Siyar A’lam An-Nubala’: 15/395)
Singkatnya, Ujub adalah penyakit hati saat seseorang merasa memiliki kelebihan dari orang lain sehingga takjub dengan kehebatan dirinya sendiri, baik itu karena kecantikannya, hartanya, ilmunya, atau bahkan karena banyaknya amal ibadahnya.
Jika perasaan ini menyebabkan ia merendahkan orang lain atau menolak kebenaran maka itulah yang disebut dengan sombong. Jadi, ujub adalah cikal bakal sifat sombong. Sementara kesombongan sebab masuk neraka. Nabi bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، إِنَّ الْكِبْرَ مَنْ بَطِرَ الْحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim: 91)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Ujub adalah racun yang mematikan amal. Orang yang ujub lupa bahwa semua kelebihan yang ia miliki hanyalah titipan dari Allah. Ia merasa sukses karena “saya”, ia merasa alim karena “saya”, ia merasa kaya karena “saya”. Padahal, Allah-lah yang memberi kekuatan dan kesempatan.
Ujub telah membinasakan banyak orang; Al-Qasimi, Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan yang terdahulu dari mereka semua yaitu Iblis. Karenanya Nabi bersabda:
ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui, dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. At-Thobroni dalam Al-Awshoth no. 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 1802)
Oleh karena itu juga, segala sesuatu yang menjadi indikasi ujub dan sombong maka diharamkan oleh Allah. Di antaranya sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:
وَإِنَّ مِنْ أَبْغَضِكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدِكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ
“Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan yang paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat adalah Ath-Thartsarun (orang yang banyak bicara/pembual/menguasai majelis), Al-Mutasyaddiqun (orang yang berbicara dengan fasih yang dibuat-buat), dan Al-Mutafaihiqun.” (HR. Tirmidzi: 2018, dishahihkan oleh Al-Albani)
Semoga Allah menyelamatkan kita dari ujub, sombong dan segala sifat tercela yang membinasakan kita di dunia dan akhirat.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kemuliaan di sisi Allah bukanlah karena rupa, harta, atau nasab keturunan. Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Sifat ujub sengat berbahaya. Lantas, bagaimana cara mengobati penyakit Ujub ini sebelum ia membinasakan kita? Ada lima langkah pengobatan yang bisa kita tempuh:
Pertama: Terus Menambah Ilmu. Kenalilah siapa Allah (Ma’rifatullah). Semakin kita mengenal keagungan Allah, semakin kita sadar betapa kerdilnya diri kita. Pelajarilah sejarah para sahabat yang meskipun sudah dijamin surga, mereka tetap merasa takut dan rendah hati di hadapan Allah.
Kedua: Menjaga kebersihan hati. Jangan biarkan hati mengeras karena jauh dari dzikir. Rutinkanlah mengingat Allah agar hati tetap lembut dan terjaga dari rasa bangga yang berlebihan.
Ketiga: Refleksi Diri (Tafakkur). Sadarilah hakikat jasad kita. Seorang penyair pernah berkata: “Aku heran pada orang yang ujub dengan rupanya, padahal kemarin ia hanyalah setetes air mani yang amis. Esok ia akan menjadi bangkai yang menjijikkan di liang lahat. Dan hari ini, di balik pakaiannya yang mewah, ia ke mana-mana memikul kotoran di dalam perutnya.” Apa yang patut kita sombongkan dari raga yang rapuh ini?
Keempat: Mengakui Kelebihan Orang Lain. Tirulah Nabi Musa ‘alaihissalam. Beliau adalah seorang Nabi dan Rasul, namun beliau tidak malu mengakui kelebihan saudaranya dengan berkata:
وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا
Bandingkan dengan Iblis, yang tidak mau mengakui kelebihan Adam sehingga tidak ayal akhirnya ia pun dengan angkuh mengatakan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shad: 76)
Kelima: Banyak Berdoa. Mintalah perlindungan kepada Allah agar kita tidak diserahkan kepada ego diri kita sendiri. Bacalah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
اَللّٰهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَىٰ نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata pun…” (HR. Abu Dawud: 5090, dihasankan oleh Al-Albani)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan hati kita dari benih-benih ujub dan sombong, serta mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah yang penuh ketundukan kepada-Nya.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَصَلَاتَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا يُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Lihat:
Arsip Khutbah Maribaraja.Com
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom





Yuk Gabung !