Hal Yang Paling Disesali Manusia di Hari Akhir

Bacalah terlebih dahulu artikel: Ketika Kematian Telah Mati

Banyak hal yang akan disesali oleh manusia nanti di hari kiamat. Mereka menyandarkan hal-hal tersebut kepada perbuatan diri mereka sendiri. Sehingga, ini menjadi dalil yang sangat kuat yang membantah keyakinan kaum Jabariyah yaitu orang-orang yang menafikan kehendak dari manusia sehingga mereka meyakini semua yang ada -termasuk maksiat- adalah pakasaan dari Allah. Manusia tidak ubahnya seperti kapas yang diterbangkan oleh angin. Padahal, orang-orang kafir dan lalai di hari kiamat menyesali perbuatan mereka bukan berasalan dengan takdir. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa maksiat itu benar-benar kehendak mereka.

Apa saja yang akan disesali manusia di Yaumul Hasrah?

Dari dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa penyesalan manusia nanti di akhirat terbagi menjadi 2, yaitu:

Pertama, meninggalkan amal shalih atau melakukan maksiat secara umum

Allah berfirman:

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

Dia berkata: “Betapa senangnya sekiranya dahulu aku mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr: 24)

Allah berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mukminun: 99-100)

Allah berfirman:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُؤُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepala di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajadah: 12)

Pada hari itu tidak ada yang lebih diharapkan oleh seorang selain mendapat tambahan pahala dan penghapusan dosa. Saat itu pahala sebesar biji sawi pun  lebih berharga dari pada dunia dan seisinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ العَافِيَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ البَلاَءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالمَقَارِيضِ

“Orang-orang yang sehat pada hari kiamat nanti ketika orang-orang yang mendapat musibah diberi pahala amat menginginkan seandainya kulit mereka dipukul ketika di dunia dengan pemukul sehingga terkelupas” (HR. Tirmidzi: 2402, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 8177)

Bahkan orang yang mati syahid, ingin hidup untuk terbunuh lagi berulang kali. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ

“Tidak ada seorang pun yang masuk surga lalu ingin kembali ke dunia beserta seluruh isinya, kecuali orang yang mati syahid. Ia berangan-angan untuk kembali ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali karena melihat kemuliaan yang diterimanya.” (HR. Bukhari: 2817, Muslim: 1877)

Sebagaimana orang-orang kafir saat melihat azab yang mengerikan mereka berkhayal dapat menebusnya dengan harta, ank dan istri mereka. Allah berfirman:

يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ * وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ * وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ

Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan istrinya dan saudaranya, dan kaum keluarganya yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (tebusan) itu dapat menyelamatkannya. (QS. Al-Ma’arij: 11–14)

Oleh karena itulah kita tidak boleh meremehkan kebaikan sekecil apapun, karena sekecil apaun pahalanya akan kita harapkan di ahri kiamat nanti. Nabi bersabda:

لا تَحقِرَنَّ مِنَ المعرُوفِ شَيئًا ، ولَو أَنْ تَلقى أَخاكَ بِوجْهٍ طلْقٍ

“Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, meskipun hanya sekedar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim: 2626)

Baca artikel: Keutamaan Amal-Amal Shalih Sederhana

Kedua, beberapa amal secara khusus

  1. Shalat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرٍ دُفِنَ حَدِيثًا فَقَالَ: “رَكْعَتَانِ خَفِيفَتَانِ مِمَّا تَحْقِرُونَ وَتَنَفَّلُونَ يَزِيدُهُمَا هَذَا فِي عَمَلِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ بَقِيَّةِ دُنْيَاكُمْ”

Nabi ﷺ pernah melewati sebuah kuburan yang baru saja dikuburkan (penghuninya), lalu beliau bersabda: “Dua rakaat yang ringan dari apa yang kalian anggap remeh dan kalian kerjakan sebagai amalan sunnah, yang ditambahkan oleh orang ini (penghuni kubur) ke dalam amalannya, jauh lebih dia cintai daripada sisa dunia kalian.” (HR. Ibnul Mubarak dalam AZ-Zuhd: 31, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: 7715, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir: 920, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’: 3518)

  1. Sedekah

Allah berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesal): “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Nabi ﷺ bersabda:

«يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي! وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟!»

“Manusia (anak Adam) selalu berkata: ‘Hartaku, hartaku!’ Padahal, tidakkah engkau memiliki dari hartamu wahai anak Adam melainkan: Apa yang engkau makan lalu engkau habiskan, Apa yang engkau pakai lalu engkau rusakkan (lusuhkan), Atau apa yang engkau sedekahkan lalu engkau kekalkan (pindahkan sebagai tabungan akhirat)?!” (HR. Muslim no. 2959, Ahmad, An-Nasa’i, dan Tirmidzi)

  1. Mengikuti teman yang buruk

Allah berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ، يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ، لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. Al-Furqan: 27-29)

Lihat:

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud, Arab Saudi (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button