Bahaya Ujub dan Penawarnya

Di zaman kita ini ada seorang sosok intelektual, bernama Abdullah Al-Qasimi dinisbatkan kepada daerah lahirnya yaitu Provinsi Qasim, Arab Saudi. Meski sebenanrnya ia berasal dari Mesir. Ia lahir tahun 1907 M dan meninggal tahun 1996 M. Ia adalah seorang yang sangat cerdas dan kuat dalam emmbela kebenaran. Banyak karya hebat lahir dari tangannya. Diantaranya sebuah KItab dengan judul Ash-Shira’ baina Islam wa Watsaniyyah (pertarungan antara Islam dan Paganisme). Kitab ini adalah bantahan atas seorang Syiah yang bernama Muhsin Al-‘Amili yang mengajak untuk menyembah tempat-tempat suci.

Kitab ini diterima secara luas bahkan mendapatkan pujian dari para ulama ahli sunnah wal jama’ah. Salah satu guru Al-Qasimi mengatakan; “Dengan kitab ini Al-Qasimi membayar mahar surga”.

Tahun 1944, Al-Qasimi meninggalkan Mesir pergi ke negeri Saudi Arabia dan disambut hangat oleh raja Abdul Aziz Alu Sa’ud rahimahullah.

Namun sayang, di akhir hayatnya ia justru meninggal dalam keadaan yang sangat tragis yaitu ia meninggal sebagai seorang Ateis. Apa yang menyebabkan kejatuhan ini? Salah satu faktornya adalah ujub, yang tampak jelas dalam bait-bait syair yang ia lantunkan.

Apa itu Ujub dan Apa bedanya dengan sombong ?

Mari kita perhatikan atsar berikut: Abu Wahb al-Marwazi berkata:

سَأَلْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ: مَا الْكِبْرُ؟ قَالَ: «أَنْ تَزْدَرِيَ النَّاسَ». فَسَأَلْتُهُ عَنِ الْعُجْبِ؟ قَالَ: أَنْ تَرَىٰ أَنَّ عِنْدَكَ شَيْئًا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِكَ، لَا أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّينَ شَيْئًا شَرًّا مِنَ الْعُجْبِ

“Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak: ‘Apa itu takabur?’ Beliau menjawab: ‘Engkau meremehkan orang lain.’ Lalu aku bertanya tentang ‘ujub? Beliau menjawab: ‘Engkau memandang bahwa dirimu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Aku tidak mengetahui ada sesuatu yang lebih buruk bagi orang yang shalat (ahli ibadah) daripada ‘ujub’.” (Siyar A’lam An-Nubala’: 15/395)

Ujub adalah merasa memiliki kelebihan dari orang lain. Jika perasaan ini menyebabkan ia merendahkan orang lain atau menolak kebenaran maka itulah yang disebut dengan sombong. Ujub adalah cikal bakal sifat sombong. Sementara kesombongan sebab masuk neraka. Nabi bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، وَلَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، الرَّجُلُ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، فَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ اللّٰهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، إِنَّ الْكِبْرَ مَنْ بَطِرَ الْحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ“.

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan, dan tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari keimanan.” Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya seseorang itu suka jika bajunya bagus dan alas kakinya (sandal) bagus.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim: 91)

Segala sesuatu yang menjadi indikasi ujub dan sombong maka diharamkan oleh Allah. Di antaranya sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:

وَإِنَّ مِنْ أَبْغَضِكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدِكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللّٰهِ، قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارِينَ وَالْمُتَشَدِّقِينَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ ؟ قَالَ : الْمُتَكَبِّرُونَ

“Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan yang paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat adalah Ath-Thartsarun (orang yang banyak bicara/pembual), Al-Mutasyaddiqun (orang yang berbicara sombong/fasih yang dibuat-buat), dan Al-Mutafaihiqun.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui arti Ath-Thartsarun dan Al-Mutasyaddiqun, lalu apakah Al-Mutafaihiqun itu?” Beliau bersabda: “Orang-orang yang sombong (Al-Mutakabbirun).” (HR. Tirmidzi: 2018, dishahihkan oleh Al-Albani)

Metode Pengobatan:[1]

  1. Menambah Ilmu: Terus belajar mengenal Allah (Asma’ wa Sifat), meneladani Sunnah Nabi ﷺ, serta sejarah hidup para Sahabat dan Tabi’in.
  2. Waspada Ghaflah: Menghindari kelalaian dan kerasnya hati dengan merutinkan zikir serta mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan.
  3. Refleksi (Tafakkur): Menyadari bahwa badan akan sakit dan kembali ke tanah, harta akan lenyap, kekuatan akan runtuh, akal bisa rusak, ketampanan menyimpan kotoran, dan nasab (keturunan) bukanlah penentu kemuliaan; karena timbangan kemuliaan hanyalah takwa (lihat QS. Al-Hujurat: 13).

Seorang penyair pernah berkata:

عَجِبْتُ مِنْ مُعْجَبٍ بِصُورَتِهِ … وَكَانَ بِالْأَمْسِ نُطْفَةً مَذِرَةْ

وَفِي غَدٍ بَعْدَ حُسْنِ صُورَتِهِ … يَصِيرُ فِي اللَّحْدِ جِيفَةً قَذِرَةْ

وَهُوَ عَلَى تِيْهِهِ وَنَخْوَتِهِ … مَا بَيْنَ ثَوْبَيْهِ يَحْمِلُ الْعَذِرَةْ

“Aku heran pada orang yang ujub dengan rupanya, padahal kemarin ia hanyalah setetes nuthfah yang amis.” “Dan esok setelah keindahan rupanya itu, ia akan menjadi bangkai yang menjijikkan di liang lahat.” “Padahal dalam keangkuhan dan kesombongannya, di balik dua helai pakaiannya ia memikul kotoran (najis).”

  1. Mau mengakui kekurangan diri sendiri dan mengakui kelebihan orang lain.  

Lihatlah Nabi Musa, yang mengatakan:

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku. (QS. Al-Qashash: 34)

Bandingkan dengan Iblis, yang tidak mau mengakui kelebihan Adam sehingga tidak ayal akhirnya ia pun dengan angkuh mengatakan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shad: 76)

—————-

[1] Diterjemahkan dan diringkas dari artikel alukah.net dengan judul Al-Kibru wa Al-‘Ujub

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Mengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !