Beranda / Ilmu Syar'i / Soal Jawab / Bolehkah Puasa Syawal Sebelum Qadha’ Ramadhan?

Bolehkah Puasa Syawal Sebelum Qadha’ Ramadhan?


Soal: Seorang wanita yang memiliki qadha’ puasa Ramadhan bolehkah ia berpuasa Syawal sebelum menunaikan qadha’ ataukah memang harus melakukan qadha’ terlebih dahulu?

Jawab:

Alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah amma ba’du.

Para ulama berselisih pendapat mengenai kebolehan puasa sunnah seperti puasa enam hari bulan Syawal, puasa Asyura‘, dll, sebelum menunaikan qadha’ puasa Ramadhan yang statusnya wajib, menjadi dua pendapat:

Pertama, hukumnya boleh. Ini adalah madzhab jumhur (mayoritas) ulama yaitu madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i. Hanya bedanya, madzhab Hanafi memandang boleh puasa sunnah sebelum qadha’ tanpa karahah (tidak makhruh). Sementara madzhab Maliki dan Syafi’i memandang kebolehan ini dengan karahah (makhruh)

Kedua, hukumnya tidak boleh dan tidak sah. Ini adalah mazhab Hanbali.

Disebutkan dalam fatwa Islamweb, bahwa pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat ulama ini adalah pendapat jumhur yang mengatakan boleh tanpa karahah:

والراجح ما ذهب إليه الأولون، لقوله الله تعالى: ( ومن كان مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر ) [البقرة: 185] ولم يقيد الله تعالى القضاء بالاتصال برمضان ولا بالتتابع. وقد روى البخاري ومسلم عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: ” كان يكون علي الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان”

“Pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah madzhab yang pertama (jumhur), berdasarkan firman Allah:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 185)

Dalam ayat ini Allah tidak mensyaratkan bahwa qadha’ harus ittishal (berkesinambungan) dengan Ramadhan dan tidak pula harus tatabu‘ (berturut-turut). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, bahwa ia berkata:

كان يكون علي الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان

Dahulu aku memiliki tanggungan puasa Ramadhan, aku tidak mampu mengqadha’nya kecuali pada bulan Sya’ban.”

(Lihat artikel Islamweb.net dengan judul Jawaz Shaum At-Tathawwu’ Liman ‘Alaihi Qadha’)

Alasan lainnya adalah : “Karena qadha’ Ramadhan waktunya lapang sedangkan puasa di hari-hari ini (diantaranya puasa enam hari di bulan Syawal) waktunya sempit, sehingga tidak bisa lagi didapat apabila sudah terlewat.” (Lihat artikel Islamweb.net dengan judul La Haraj Fi Shaum At-Tathawwu’ Liman ‘Alaihi Qadha’ min Ramadhan)

Tetapi, diantara para ulama juga ada yang memisahkan antara keutamaan mendapatkan pahala yang disebutkan dalam hadits dengan hukum kebolehan.

Artinya jika ingin mendapatkan pahala yang disebutkan dalam hadits maka hendaknya menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu dengan melakukan qadha baru setelahnya berpuasa Syawwal. Akan tetapi, kalau dari sisi kebolehan puasa Syawal sebelum qadha’ maka hukumnya boleh.

Disebutkan dalam jawaban Islamqa ketika ditanya dengan pertanyaan serupa:

إذا أرادت الأجر الوارد في حديث النبي صلى الله عليه وسلم  : ” مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ . ” رواه مسلم رقم 1984 فعليها أن تتمّ صيام رمضان أولا ثم تتبعه بست من شوال لينطبق عليها الحديث وتنال الأجر المذكور فيه .

أمّا من جهة الجواز فإنه يجوز لها أن تؤخرّ القضاء بحيث تتمكن منه قبل دخول رمضان التالي .

“Apabila dia (si-wanita) ingin mendapatkan pahala yang disebutkan dalam hadits Nabi :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian ia iringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka ia seperti puasa setahun penuh. (QS. Muslim: 1984)

Maka ia harus menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu kemudian ia iringi dengan puasa enam hari bulan Syawal untuk merealisasikan kandungan hadits dan menggapai pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut.

Adapun dari sisi kebolehan maka ia boleh mengakhirkan qadha’ dimana memungkinkan baginya untuk melakukan qadha’ sebelum masuk Ramadhan berikutnya. (Lihat artikel Islamqa.info dengan judul Hal Tabda’u Al-Mar’ah bi Qadha Ramadhan Au bi Sitti Syawwal)

Oleh sebab itu kesimpulannya, memang idealnya seharusnya menunaikan qadha’ terlebih dahulu. Namun jika kondisi tidak memungkinkan untuk melakukan yang ideal tersebut, semisal jika dia memperkirakan bila dia mengqadha’ dulu semua puasanya maka akan habis bulan Syawal, maka boleh baginya untuk melakukan puasa Syawal sebelum selesai qadha’.

Baca juga Artikel:

Puasa Enam Hari Di Bulan Syawwal

Pondok Jatimurni BB 3 Bekasi, Bekasi, Ahad, 15 Syawwal 1441H/ 7 Juni 2020 M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Covid-19 Mengingatkan Kita Untuk Segera Keluar Dari Kenyamanan Hidup – Khutbah Jum’at

Di tengah pademi Covid-19 yang melanda, marilah kita melihat hikmah dibalik semuanya. Berikut adalah teks …

Tulis Komentar

WhatsApp chat