Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / BERSAMA KELUARGA (Art.Salayok96)

BERSAMA KELUARGA (Art.Salayok96)

Bagi sebagian besar orang, keluarga adalah segalanya. Kebahagiaan mereka adalah ketika berkumpul bersama. Untuk itulah mereka tak segan berdesak-desakan di arus mudik lebaran, harapan membuncah dapat berkumpul bersama dalam ranjutan kasih sayang keluarga besar. 

Wajar, itu adalah tabiat manusia. Hanya orang-orang yang berhati batu saja yang justru tidak suka berkumpul dengan keluarganya. Oleh sebab itulah, ketika Allah menceritakan tentang kebahagiaan nanti di hari kiamat, salah satunya tatkala seorang dapat kembali pada keluarganya. Allah berfirman:

{فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (8) وَيَنقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا (9)} [الإنشقاق : 7-9]

 Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. (QS. Al-Insyiqaq: 7-9)

Maka dari itu, sebagai seorang manusia biasa, apabila masih terbuka kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, ambillah. Meski harus hidup sederhana, meski harus tinggal di gubuk berdinding papan.

Jika masih bisa bekerja mencari nafkah tanpa merantau; berpisah meninggalkan keluarga, lakukanlah. Meski harus pas-pasan, walau gaji tak sebesar di pulau seberang. Karena apa? Karena berkumpul bersama keluarga adalah kebahagiaan.

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan:

مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَامَ أَوْ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلَادُهُ أَبْرَارًا، وَ إِخْوَانُهُ صَالِحِيْنَ، وَ رِزْقُهُ فِيْ بَلَدِهِ الَّذِيْ فِيْهِ أَهْلُهُ

“Di antara kebahagian anak Adam (seorang); istrinya shalihah, anak-anaknya baik, kawan-kawannya shalih dan rezekinya berada di negeri tempat keluarganya berada.” (Al Adabusy Syar’iyyah 3/267 cet. Muassasah ar Risalah, 1419H)

Akan tetapi, jika seandainya takdir berkata lain. Sawah ada di seberang lautan. Apa boleh buat, jalani. Tapi, tetap jangan lupakan keluarga. Kalau memang kita tak bisa bersama di dunia, mintalah kepada Allah agar kita dipertemukan di surga-Nya. Bukankah Allah telah berfirman:

{جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ (23) سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24)} [الرعد : 23-24

“Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-Ra’du: 23-24)

Sekarang, tinggal usaha kita, mencari tahu apa saja syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan janji Allah itu. Keluarga, semoga kita dapat tetap bersama, baik di dunia maupun di akhirat.  Aamiin.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah – Ini Sudah Cukup Untuk Mengantarkanku

Manakala Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu tiba di Syam, para pembesar; panglima dan komandan pasukan …

Tulis Komentar