Beranda / Hikmah Hidup / BUKAN DUIT ATAU JABATAN

BUKAN DUIT ATAU JABATAN


Jika kita memperhatikan, tidak sedikit orang yang lebih memilih menjadi bayang-bayang orang lain ketimbang menjadi pribadi sendiri.
Contoh mudah, ketika Pak Jokowi jadi Presiden, saya yakin orang-orang yang mengenal beliau juga turut bahagia dan bangga. Mungkin saja, tukang sayur tempat beliau biasa membeli sayur akan mengatakan dengan bangga: “Saya ini loo, juga dikenal Pak Jokowi… Kalau tidak percaya, coba aja tanya sama dia.” 
Sering kita mendengar seorang menyebut dan membangga-banggakan kakek atau neneknya. “Kakek saya dahulu adalah seorang dermawan, sehingga dikenal oleh orang sekampung.”
Begitulah sebagian orang, bangga dengan kebesaran orang lain. Sebagian anak bahkan menjadi sombong karena kekayaan orang tuanya. Sebagian lain menjadi sok berkuasa disebabkan ia anak Walikota. Padahal, yang kaya dan berkuasa itu bukan dia, tapi bapaknya.
Kita semua bisa mengatakan: “Saya pernah kenal dengan Fulan. Saya pernah berteman dengan Alan.” Tetapi hal itu bukanlah kebanggaan. Kebanggaan yang sesungguhnya adalah kitalah yang menjadi orang sukses. Dan perlu dipahami, bahwa kesuksesan itu bukan duit atau jabatan, tapi bagaimana kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Disenangi karena keramahan, dikenang karena kedermawanan. Persis seperti kata orang-orang tua dahulu:
Pulau pandan jauh di tengah
Di balik pulau angsa dua
Habis badan dikandung tanah
Budi baik terkenang jua
Oleh sebab itu, mari menjadi orang sukses. Ubah wajah Anda yang cemberut menjadi tersenyum. Ubah wajah yang murung menjadi ceria. Ubah watak Anda yang kikir menjadi dermawan. Ubah tabiat Anda yang pemarah menjadi penyantun. Ingatlah sabda Nabi:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحَاسِنُهُمْ أَخْلاقًا
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. (HR.Thabrani, Mujamus Shagir: 605 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahih 2/389). Semoga bermanfaat. Zahir al-Minangkabawi

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah – Ini Sudah Cukup Untuk Mengantarkanku

Manakala Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu tiba di Syam, para pembesar; panglima dan komandan pasukan …

Tulis Komentar