Cinta Nabi Bukan Hanya Kata, Tapi Harus Ada Bukti Nyata

Rasulullah sosok yang dirindukan, tidak hanya oleh manusia tetapi juga oleh tumbuhan dan gunung.

Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَى شَجَرَةٍ أَوْ نَخْلَةٍ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَوْ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَجْعَلُ لَكَ مِنْبَرًا قَالَ إِنْ شِئْتُمْ فَجَعَلُوا لَهُ مِنْبَرًا فَلَمَّا كَانَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ دُفِعَ إِلَى الْمِنْبَرِ فَصَاحَتْ النَّخْلَةُ صِيَاحَ الصَّبِيِّ ثُمَّ نَزَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ الَّذِي يُسَكَّنُ

Bahwa Nabi ﷺ pernah di suatu hari Jumat berdiri di atas sebatang pohon atau pohon kurma lalu ada seorang wanita atau seorang laki-laki Anshar berkata, Wahai Rasulullah, “Bagaimana kalau kami buatkan mimbar untuk baginda?.’ Beliau menjawab, “Silakan, bila kalian kehendaki.” Maka mereka membuatkan untuk beliau sebuah mimbar. Ketika hari Jumat beliau naik ke atas mimbar lalu batang pohon kurma tadi berteriak bagaikan teriakan bayi. Maka kemudian Nabi ﷺ turun menghampiri batang pohon tersebut lalu memeluknya sehingga teriakannya melemah hingga bagaikan rintihan bayi yang sedang didiamkan. (HR. Bukhari: 3584)

Dalam riwayat lain terdapat tambahan, Nabi bersabda: Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya kalaulah aku tidak memeluknya maka pasti dia akan senantiasa begini hingga hari kiamat karena sedih berpisah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah memerintahkan agar batang kayu tersebut dikuburkan.(HR. Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwah: 2/558)

Pohon kurma itu menangis karena merasa kehilangan Rasulullah. Seorang yang sangat ia cintai. Pohon kurma itu rindu kepada Rasulullah, yang biasanya berkhutbah diatasnya sekarang telah berpindah ke sebuah mimbar yang baru.

Dalam riwayat yang lain, dari Anas bin Malik ia bercerita:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، فَرَجَفَ بِهِمْ، فَقَالَ: «اثْبُتْ أُحُدُ! فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ، وَصِدِّيقٌ، وَشَهِيدَانِ».

“Rasulullah ﷺ naik ke gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Maka gunung itu bergetar. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tenanglah wahai Uhud! Sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq, dan dua orang yang akan mati syahid.’ (HR. Bukhari: 3675, Tirmidzi: 3697)

Sebagian orang berkata: sesungguhnya Gunung Uhud itu bergetar karena gembira, bahagia, dan rindu untuk bertemu dengan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Mencintai Nabi Wajib

Rasulullah adalah sosok yang dicintai, dirindukan, tidak hanya oleh orang-orang beriman akan tetapi juga makhluk-makhluk Allah yang lain seperti pepohonan, bebatuan, gunung dan hewan-hewan. Bagi seorang Muslim mencintai Nabi tidak hanya sekedar anjuran akan tetapi adalah sebuah kewajiban. Rasulullah harus dicintai melebihi orang tua, anak, suami atau istri, bahkan di atas kecintaan kepada diri sendiri.

Dari Abdullah bin Hisyam radhiyallahu anhu, ia menuturkan: Kami sedang bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau tengah memegang tangan Umar bin al-Khaththab. Lalu Umar berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sampai engkau menjadikanku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar berkata: “Sungguh sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sekarang wahai Umar.” (HR. Bukhari: 6632)

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kerabat kalian, harta kekayaan yang kalian peroleh, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(QS. At-Taubah: 24)

Mencintai Nabi Sebab Masuk Surga

Faidah dan manfaat mencintai Nabi sebenarnya kembali kepada setiap orang yang melakukannya. Dan yang terbesar dari faidah-faidah itu adalah masuk surga dan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat nanti.

Dari Anas bin Malik, dia bercerita: Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi tentang kapan akan terjadinya hari kiamat. Maka Nabi bersabda: Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari kiamat itu?. Laki-laki itu menjawab: Tidak ada selain bahwasanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda:

أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ

Engkau akan bersama dengan siapa yang engkau cintai. Anas kemudian berkata: Kami tidak pernah merasa begitu gembira melebihi kegembiraan kami dengan sabda Nabi: Engkau akan bersama dengan siapa yang engkau cintai. Anas berkata:

فَما فَرِحْنَا بشيءٍ، فَرَحَنَا بقَوْلِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ قَالَ أنَسٌ: فأنَا أُحِبُّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وأَبَا بَكْرٍ، وعُمَرَ، وأَرْجُو أنْ أكُونَ معهُمْ بحُبِّي إيَّاهُمْ، وإنْ لَمْ أعْمَلْ بمِثْلِ أعْمَالِهِمْ

Aku mencintai Nabi, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap dapat berkumpul bersama mereka karena sebab kecintaabku kepada mereka meskipun aku tidak sanggup beramal seperti amalan mereka. (HR. Bukhari: 3688)

Mencintai harus tepat

Menempatkan Nabi pada tempat semestinya yaitu mencintai tanpa sikap ghuluw (berlebihan). Abdullah bin Abi Aufa, ia bercerita:

لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: مَا هَذَا يَا مُعَاذُ ؟ قَالَ : أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَلَا تَفْعَلُوا ، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

Tatkala Mu’adz datang dari Syam, ia langsung sujud kepada Nabi ﷺ. Maka Nabi pun bertanya kepadanya: Apa ini wahai Mu’adz? Mu’adz menjawab: “Aku pernah mendatangi Syam, aku mendapatkan mereka sujud kepada para uskup dan komandan mereka. Maka, aku ingin mela–kukannya terhadapmu.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian melakukannya, kalau saja aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya aku akan perintahkan seorang isteri bersujud kepada suaminya.” (HR. Ibnu Majah: 1853)

Bukti Cinta

  1. Banyak mengingat dan menyebutnya

Qadhi ‘Iyadh berkata:

وَمِنْ عَلَامَاتِ مَحَبَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَثْرَةُ ذِكْرِهِ لَهُ، فَمَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ

“Dan di antara tanda-tanda cinta kepada Nabi ﷺ adalah banyak menyebut beliau. Maka barang siapa mencintai sesuatu, ia akan banyak menyebutnya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab/33: 56]

Nabi bersabda:

اَلْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Orang pelit itu adalah orang yang ketika disebut namaku ia enggan bershalawat” (HR. At Tirmidzi no.3546, ia berkata: “Hasan Shahih Gharib”).

Perlu diperhatikan: jangan membuat-buat shalawat sendiri

Termasuk hal ini juga yaitu membaca sirah Nabi

  1. Mencintai orang-orang yang dicintai olehnya

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ نَافِعٍ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي ذَاتَ يَوْمٍ إِلَى مَنْزِلِهِ، فَأَخْرَجَ إِلَيْهِ فِلَقًا مِنْ خُبْزٍ، فَقَالَ: «مَا مِنْ أُدُمٍ؟» فَقَالُوا: لَا، إِلَّا شَيْءٌ مِنْ خَلٍّ. قَالَ: «فَإِنَّ الْخَلَّ نِعْمَ الْأُدُمُ». قَالَ جَابِرٌ: فَمَا زِلْتُ أُحِبُّ الْخَلَّ مُنْذُ سَمِعْتُهَا مِنْ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَقَالَ طَلْحَةُ: مَا زِلْتُ أُحِبُّ الْخَلَّ مُنْذُ سَمِعْتُهَا مِنْ جَابِرٍ.

Dari Thalhah bin Nafi‘, bahwa ia mendengar Jabir bin Abdillah berkata: “Pada suatu hari Rasulullah ﷺ memegang tanganku lalu membawaku ke rumahnya. Lalu dikeluarkan kepadanya sepotong roti. Beliau bertanya: ‘Apakah ada lauk?’ Mereka menjawab: ‘Tidak ada, kecuali sedikit cuka.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya cuka itu sebaik-baik lauk.’” Jabir berkata: “Sejak aku mendengar sabda itu dari Nabi Allah ﷺ, aku selalu menyukai cuka.” Dan Thalhah berkata: “Aku pun selalu menyukai cuka sejak mendengarnya dari Jabir.”  (HR. Muslim: 2052)

Menarik apa yang diriwayatkan oleh Al-Hakim.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ: أَنَّ سَفِينَةَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رَكِبْتُ الْبَحْرَ فَانْكَسَرَتْ سَفِينَتِي الَّتِي كُنْتُ فِيهَا، فَلُحْتُ عَلَى لَوْحٍ مِنْ أَلْوَاحِهَا، فَطَرَحَنِي اللَّوْحُ فِي أَجَمَةٍ فِيهَا الْأَسَدُ، فَأَقْبَلَ إِلَيَّ يُرِيدُنِي، فَقُلْتُ: يَا أَبَا الْحَارِثِ! أَنَا مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ وَأَقْبَلَ إِلَيَّ، فَدَفَعَنِي بِمَنْكِبِهِ حَتَّى أَخْرَجَنِي مِنَ الْأَجَمَةِ وَوَضَعَنِي عَلَى الطَّرِيقِ، وَهَمْهَمَ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يُوَدِّعُنِي، فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَ عَهْدِي بِهِ.
رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ.

Dari Muhammad bin Al-Munkadir: Bahwa Safinah, bekas budak Rasulullah ﷺ, berkata:
“Aku pernah naik kapal, lalu kapalku hancur. Aku pun bertahan dengan sepotong papan dari kapalnya, hingga papan itu membawaku ke sebuah hutan belukar yang di dalamnya ada seekor singa. Singa itu mendatangiku hendak menerkamku. Maka aku berkata: ‘Wahai Abul-Harith (julukan singa), aku adalah mantan budak Rasulullah ﷺ.’ Maka singa itu menundukkan kepalanya, lalu mendekat kepadaku dan mendorongku dengan bahunya hingga ia mengeluarkanku dari hutan belukar dan meletakkanku di jalan. Ia pun menggeram, maka aku menyangka ia sedang berpamitan kepadaku. Itulah pertemuan terakhirku dengannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan beliau berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” )

  1. Membela Nabi dan Ajarannya 

 Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdurahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu beliau bercerita:

روى البخاري ومسلم في صحيحيهما من حديث عبد الرحمن بن عوف رضي اللهُ عنه قال: “بَيْنَا أَنَا وَاقِفٌ فِي الصَّفِّ يَوْمَ بَدْرٍ، فَنَظَرْتُ عَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، فَإِذَا أَنَا بِغُلَامَيْنِ مِنْ الْأَنْصَارِ، حَدِيثَةٍ أَسْنَانُهُمَا، تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُونَ بَيْنَ أَضْلَعَ مِنْهُمَا، فَغَمَزَنِي أَحَدُهُمَا فَقَالَ: يَا عَمِّ هَلْ تَعْرِفُ أَبَا جَهْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَمْ مَا حَاجَتُكَ إِلَيْهِ يَا ابْنَ أَخِي، قَالَ: أُخْبِرْتُ أَنَّهُ يَسُبُّ رَسُولَ اللَّهِ صلى اللهُ عليه وسلم، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَئِنْ رَأَيْتُهُ لَا يُفَارِقُ سَوَادِي سَوَادَهُ حَتَّى يَمُوتَ الْأَعْجَلُ مِنَّا، فَتَعَجَّبْتُ لِذَلِكَ، فَغَمَزَنِي الْآخَرُ فَقَالَ لِي مِثْلَهَا، فَلَمْ أَنْشَبْ أَنْ نَظَرْتُ إِلَى أَبِي جَهْلٍ يَجُولُ فِي النَّاسِ، قُلْتُ: أَلَا إِنَّ هَذَا صَاحِبُكُمَا الَّذِي سَأَلْتُمَانِي، فَابْتَدَرَاهُ بِسَيْفَيْهِمَا، فَضَرَبَاهُ حَتَّى قَتَلَاهُ، ثُمَّ انْصَرَفَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى اللهُ عليه وسلم فَأَخْبَرَاهُ، فَقَالَ: “أَيُّكُمَا قَتَلَهُ”، قَالَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا: أَنَا قَتَلْتُهُ، فَقَالَ: “كِلَاكُمَا قَتَلَهُ”، سَلَبُهُ لِمُعَاذِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْجَمُوحِ، وَكَانَا مُعَاذَ بْنَ عَفْرَاءَ، وَمُعَاذَ بْنَ عَمْرِو ابْنِ الجَمُوحِ

“Aku berada di dalam barisan pasukan pada saat perang Badar berkecamuk. Tiba-tiba disebalah kanan dan kiriku ada dua anak muda yang masih belia. Seakan aku tidak percaya atas keberadaan mereka disitu. Lalu salah seorang di antara keduanya berkata secara rahasia padaku agar tidak diketahui oleh temannya. ‘Wahai paman! Tunjukkan padaku, dimana Abu Jahal!”.

Lalu aku berkata: ‘Wahai anak saudaraku, apa yang akan kamu lakukan?

Dia menjawab: “Aku diberitahu bahwa dia mencaci maki Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, jika aku melihatnya, maka dia tidak akan luput dari incaranku hingga ada yang mati terlebih dahulu di antara kami’.

Mendengar hal itu, aku jadi terkesima. Dan setelah itu, yang seorang lagi mengedipkan matanya padaku dan berkata sebagaimana yang dikatakan oleh temannya tadi. Maka tak berapa lama, aku melihat Abu Jahal berkeliling di tengah orang-orang. Lalu aku berkata: “Tidakkah kalian berdua melihat? Dialah orang yang kalian berdua tanyakan tadi”.

Maka, keduanya cepat-cepat melesatkan pedang ke arahnya dan menyabetnya hingga berhasil membunuhnya.

Kemudian keduanya menghadap Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mengabarkannya, lalu beliau bertanya: ‘Siapa diantara kalian berdua yang telah membunuhnya?

Maka, masing-masing dari keduanya sama-sama mengklaim ‘Akulah yang telah membunuhnya’. Lalu beliau melihat ke arah kedua pedang tersebut seraya berkata: “Kalian berdua telah membunuhnya”.

Kedua anak muda tersebut adalah Mu’adz bin Amr bin al-Jamuh dan Mu’adz bin Afra. Lalu Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan harta rampasan Abu Jahal kepada Mu’adz bin Amr bin al-Jamuh”. HR Bukhari no: 3141. Muslim no: 1752.

Referensi : https://almanhaj.or.id/88924-kejadian-di-pertempuran-badar.html

Termasuk membela ajaran beliau. Dari ‘Amr bin Salamah, ia berkata:

رَأَيْنَا النَّاسَ فِي مَسْجِدِ الْكُوفَةِ حِلَقًا جُلُوسًا يَذْكُرُونَ اللهَ، فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ، وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى، فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً، فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً، وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً.

فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فَقَالَ:

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟
قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ.
قَالَ: فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَإِنِّي ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ! مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ، هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ. وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ.

فَقَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
فَقَالَ: وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ.

Kami melihat orang-orang di masjid Kufah duduk dalam halaqah-halaqah. Di setiap halaqah ada seorang pemimpin, dan di tangan mereka ada batu-batu kecil. Lalu pemimpin itu berkata: “Bertakbirlah seratus kali!” maka mereka pun bertakbir seratus kali. Ia berkata: “Bertahlillah seratus kali!” maka mereka bertahlil seratus kali. Ia berkata: “Bertasbihlah seratus kali!” maka mereka pun bertasbih seratus kali.

Maka keluarlah Abdullah bin Mas‘ud kepada mereka, lalu berkata:“Apa yang sedang kalian lakukan ini?”

Mereka menjawab: “Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah batu untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”
Ia berkata: “Hitunglah dosa-dosa kalian! Aku jamin tidak ada sedikit pun dari kebaikan kalian yang akan hilang. Celakalah kalian wahai umat Muhammad! Alangkah cepatnya kebinasaan kalian. Sahabat-sahabat Nabi ﷺ masih banyak, pakaian beliau pun belum usang, bejana-bejana beliau pun belum pecah. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian berada di atas suatu ajaran yang lebih baik daripada ajaran Muhammad ﷺ, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan.”

Mereka berkata: “Demi Allah, wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.”
Beliau berkata: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi ia tidak akan mendapatkannya.”

 Mengerjakan ajarannya (mencakup: membenarkan khabar, menaati perintah dan meninggalkan larangannya, beribadah sesuai tuntunannya)

 

Mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengikuti sunnahnya. Mengikuti sunnah (tuntutan) beliau dalam segala aspek kehidupan, begitulah cara sesungguhnya untuk mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam. Menghidupkan sunnah-sunnah beliau meski tidak banyak yang melakukannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga.” (HR.Tirmidzi: 2678)

Imam Ath-Thabrani meriwayat dari Aisyah, ia berkata:

Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri, dan sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada anakku. Sungguh aku berada di rumahku lalu aku teringat denganmu maka aku tidak dapat bersabar sampai aku mendatangi dan melihatmu. Ketika aku teringat kematianku dan kematianmu, maka aku tahu bahwa engkau ketika masuk surga engkau akan diangkat (dikumpulkan) bersama para Nabi. Adapun aku, jika aku dimasukkan ke dalam surga maka aku takut tidak bisa melihatmu. Nabi tidak menjawab sedikit pun sampai kemudian Jibril turun dengan membawa ayat:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقاً

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa’: 69) (HR. Thabarani)

Contoh ajaran beliau yang perlu dihidupkan: Makan dengan tangan kanan dan sampai habis

Lihat:

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

 

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke LIPIA Jakarta Jurusan Syariah. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop
    WhatsApp Yuk Gabung !