Persangkaan Itu Tiada Berfaedah

Sebuah kaidah yang diambil dari banyak dalil. Kaidah yang merupakan salah satu dari lima kaidah besar dalam ilmu Qawa’id Fiqhiyah, dimana banyak permasalahan yang dapat diselesaikan dengan bantuan kaidah ini, yaitu kaidah:

اليَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّكِّ

“Suatu yang yakin tidak dapat hilang dengan sesuatu yang ragu.” (al-Qawaid al-Kulliyyah: 127)

Di antara dalil yang menjadi pondasi dari kaidah ini adalah firman Allah subhanahu wata’ala:

وَمَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (QS. An-Najm: 28)

Sebagaimana kaidah ini dapat masuk ke dalam banyak bab dalam fikih, ternyata ia juga dapat digunakan dalam bermuamalah dengan sesama untuk menghilangkan rasa sombong dan ujub pada diri sendiri. Inilah yang dipraktekkan oleh seorang Imam zaman tabi’in yaitu Bakar bin Abdillah Al-Muzanni rahimahullah. Beliau mengatakan:

إِنِّي لَأَخْرُجُ مِنْ بَيْتِي ، فَمَا أَلْقَى أَحَدًا إِلَّا رَأَيْتُ لَهُ عَلَّي الفَضْلَ ، لِأَنِّي مِنْ نَفْسِي عَلَى اليَقِيْنِ ، أَمَّا مِنَ النَّاسِ فِي شَكٍّ

“Setiap kali aku keluar dari rumahku dan bertemu dengan seseorang, aku selalu menganggap bahwa orang itu lebih mulia dariku. Sebab aku yakin benar dengan diriku, adapun pengetahuanku tentang orang lain hanyalah sebatas keraguan.” (Kitab az-Zuhd Imam Ahmad: 234, cet. Darul Aqidah)

Itulah kenyataannya, kita lebih tahu dengan kejelekan diri kita sendiri, dosa dan maksiat yang telah kita lakukan. Meski orang lain memandang diri kita suci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ، وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (QS. Al-Qiyamah: 14-15)

Oleh sebab itu, tidak ada celah bagi kita untuk merasa takjub serta merendahkan orang lain. Karena kita yakin dan tahu betul dengan kejelekan diri kita, adapun kejelekan orang lain tidak lebih dari prasangka semata. Maka jangan pernah merasa sombong, ujub karena kita banyak dosa.

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp chat