Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / Lima Urgensi Tauhid

Lima Urgensi Tauhid

Ilmu tauhid yang juga dikenal dengan ilmu ushuluddin adalah ilmu yang paling mulia dari sekian banyak disiplin ilmu. Sebab kemuliaan suatu ilmu tergantung dari apa yang diilmui (dipelajari), para ulama mengatakan: “Syaraful ‘ilmi bisyarafil ma’lum.” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah 1/69 cet. Darussalam). Karena tidak ada satu pun yang lebih mulia dari Allah, maka ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan-Nya adalah ilmu yang paling mulia.

Kebutuhan manusia terhadap ilmu ini melebihi kebutuhan mereka terhadap sesuatu apa pun, bahkan melebihi makan dan minum. Sebab, tidak ada sedikit pun kebagiaan hidup, ketenangan hati dan keselamatan kecuali bila seorang mengenal siapa Rabbnya serta kewajiban apa yang harus ia tunaikan kepada-Nya. Semakin seorang mengenal Rabbnya maka semakin besar kebahagiaan-Nya.

Oleh karena itu, mempelajari ilmu tauhid adalah kewajiban bagi setiap insan. Mengetahui urgensi dari ilmu tauhid adalah langkah awal agar seseorang semakin terdorong menekuninya. Berikut adalah beberapa point penting yang menunjukkan urgensi tauhid dalam kehidupan:

1. Tujuan penciptaan manusia

Sebagai salah satu di antara sekian banyak makhluk ciptaan Allah, keberadaan manusia bukanlah sekadar ciptaan. Dengan kata lain, manusia dibiarkan begitu saja. Akan tetapi sebagaimana lazimnya setiap ciptaan Allah, pasti memiliki hikmah dan tujuan dari penciptaannya. Allah berfirman:

أَيَحْسَبُ الأِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدىً

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja? (QS. al-Qiyamah: 36)

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan:

لَا يُؤْمَر وَلَا يُنْهَى

“Tidak diperintah dan tidak dilarang.” (Fathul Majid li Syarh Kitab at-Tauhid hal. 40)

Tujuan penciptaan manusia sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah sendiri dalam kitab-Nya adalah beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: “Yaitu memberikan peribadahan kepada-Ku baik dalam keadaan suka rela ataupun terpaksa.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim cet. Dar ath-Thaibah 7/425)

Memurnikan peribadahan kepada Allah semata, inilah yang dikenal dengan tauhid yang merupakan kewajiban bagi sekalian jin dan manusia.

2. Asas dakwah para nabi dan rasul

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

وَالتَّوْحِيْدُ هُوَ أَصْلُ الدِّيْنِ الَّذِي لَا يَقْبَلُ اللّهُ مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ دِينًا غَيرَهُ، وَبِهِ أَرْسَلَ اللّهُ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ الكُتُبَ

“Tauhid adalah pokok agama yang Allah tidak menerima dari orang-orang yang terdahulu atau belakangan agama selainnya. Karena tauhid itu pula Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab.” (Nadhratu an-Na’im 4/1304)

Para Nabi dan Rasul Allah diutus untuk membimbing manusia menuju tujuan penciptaan mereka tadi yaitu beribadah kepada Allah. Oleh sebab itu pokok dan asas dari dakwah mereka semuanya sama. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. al-Anbiya’: 25)

Imam Ibnu Abi al-Iz mengatakan:

“Ketahuilah bahwa tauhid adalah awal (pokok) dakwah para rasul, tempat persinggahan pertama dan tempat berdiri pertama bagi setiap orang yang menuju Allah, sebagaimana firman-Nya:

لَقَدْ أَرْسَلْنا نُوحاً إِلى قَوْمِهِ فَقالَ يا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ ما لَكُمْ مِنْ إِلهٍ غَيْرُهُ .

 Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. (QS. al-A’raf: 59)

Nabi Hud berkata kepada kaumnya (sebagaimana yang dihikayatkan oleh Allah):

اعْبُدُوا اللَّهَ ما لَكُمْ مِنْ إِلهٍ غَيْرُهُ

Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. (QS. al-A’raf: 65)

Dan Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl:36)

Oleh sebab itu, kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah mengucapkan syahadat laa ilaha illallah.” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah hal. 77)

Jika kita cermati firman Allah dalam surat Yusuf ayat 108, niscaya kita akan mendapati hal yang sama. Yaitu Allah memerintahkan Nabi kita Muhammad untuk mengajak manusia kepada tauhid. Allah berfirman:

قُلْ هذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحانَ اللَّهِ وَما أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menuturkan:

“Allah berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad; katakanlah wahai Muhammad inilah dakwah yang aku serukan dan jalan yang aku lalui yaitu mengajak untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan peribadahan hanya kepada-Nya bukan kepada tuhan-tuhan dan sesembahan-sesembahan selain-Nya. Dan berujung pada ketaatan kepada-Nya serta meninggalkan maksiat. Inilah jalan dan dakwahku, aku mengajak kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.” (Jami’ al-Bayan Fi Ta’wi al-Qur’an 16/291)

Oleh sebab itu, pesan pertama Rasulullah kepada Mu’adz yang diutus ke Yaman untuk berdakwah adalah dakwah tauhid. Beliau bersabda:

 إِنَّكَ تَأْتِى قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ. فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّه

“Wahai Mu’adz engkau akan mendatangi kaum dari kalangan ahli kitab. Ajaklah mereka kepada syahadat laa ilaha illlallah dan mengakui aku adalah Rasulullah.” (HR. Muslim: 19)

3. Al-Qur’an semuanya tauhid

Al-Qur’an yang merupakan petunjuk bagi umat manusia dalam mengarungi kehidupan dunia, jika dicermati lebih dalam semuanya berbicara mengenai tauhid. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin. Beliau mengatakan:

“Bahkan semua surat dalam al-Qur’an mengandung dua tauhid ini, sebagai saksi baginya serta mengajak kepadanya (tauhid). Karena al-Qur’an terkadang berupa kabar mengenai Allah, nama-nama, sifat-sifat, perbuatan, dan perkataan-Nya maka inilah tauhid ilmi khabari. Dan terkadang berupa ajakan untuk beribadah hanya kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun serta melepaskan segala bentuk peribadahan kepada selain-Nya, maka ini adalah tauhid iradi thalabi. Dan terkadang berupa perintah atau larangan, kewajiban untuk taat kepada-Nya dalam perintah dan larangan-Nya, maka ini adalah perwujudan tauhid serta kesempurnaannya. Terkadang berupa berita tentang kemuliaan orang-orang yang bertauhid, apa yang akan diberikan Allah kepada mereka di dunia dan kemulian di akhirat, maka ini adalah ganjaran terhadap tauhid. Terkadang berupa berita tentang pelaku kesyirikan, apa yang diperbuat Allah bagi mereka di dunia berupa siksaan, dan apa yang akan menimpa mereka kelak di hari pembalasan berupa adzab, maka ini adalah balasan bagi mereka yang keluar dari hukum tauhid. Al-Qur’an semuanya tauhid, hak-hak, basalannya, dan yang berkaitan dengan syirik, pelaku serta balasan bagi mereka.” (Madariju as-Salikin 3/450, Fathu al-Majid 36-37)

4. Keamanan dan hidayah

Setiap orang pasti menginginkan keselamatan dan keamanan di saat terjadi suatu peristiwa yang menakutkan. Ketika terjadi huru-hara, kekacauan,  perperangan, keadaan genting, betapa besarnya harapan kita terhadap keselamatan dan keamanan.

Jika begitu yang terjadi di dunia, lantas bagaimana dengan keadaan genting di akhirat yang jauh lebih dahsyat dan menakutkan, tentu kebutuhan kita terhadap keselamatan dan keamanan pada saat itu jauh lebih besar.

Rasulullah bersabda mengambarkan keadaan nanti di hari kiamat:

تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ (يَهُمَّهُمْ) ذَاكِ

“Kalian akan dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan.” ‘Aisyah berkata: “Aku bertanya, wahai Rasulullah laki-laki dan wanita, bukankah mereka akan saling melihat satu sama lain?” Beliau bersabda: “Urusanya kala itu lebih besar dari pada mereka disibukkan oleh hal yang demikian.” ( HR. Bukhari: 6527)

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:

يُبْعَثُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً فَقَالَتْ عَائِشَةُ : يَا رَسُولَ اللهِ فَكَيْفَ بِالْعَوْرَاتِ ؟ فَقَالَ : لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

“Kelak di hari kiamat manusia akan dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tika berkhitan.” ‘Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana dengan aurat?” Beliau bersabda: “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” ( HR. Hakim dalam al-Mustadrak no. 8684)

Seperti itulah sekilas gambaran kedahsyatan di hari berbangkit kelak. Setiap orang pasti sangat mendambakan keselamatan dan keamanan, dan yang akan mendapatkan hal itu hanyalah orang-orang yang bertauhid.

Begitu pula dengan petunjuk, sesuatu yang kita harapkan selama ini. Setiap hari kita memohon petunjuk, dalam setiap shalat dengan mengatakan:

 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. al-Fatihah: 6)

Karena memang kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang menipu. Kita membutuhkan petunjuk supaya kita bisa mengarunginya dengan selamat. Petunjuk yang akan mengantarkan kita ke tujuan yang benar bertemu Allah di tempat kebahagiaan.

Kedua hal tersebut; keamanan dan petunjuk hanya bisa digapai oleh orang-orang yang mampu memurnikan dan memberikan semua bentuk peribadahannya kepada Allah semata. Allah berfirman:

 الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-An’am: 82)

Ibnu Jarir dalam tafsirnya menyebutkan sebuah riwayat dari ar-Rabi’ bin Anas bahwa ia bekata: “al-Iman bermakna ikhlas untuk Allah semata.”

Imam Ibnu Katsir mengatakan:

“Mereka adalah orang-orang yang mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Merekalah nanti di hari kiamat orang-orang yang mendapat keamanan dan merekalah yang mendapat petujuk di dunia dan akhirat.” ( Tafsir al-Qur’an al-’Azhim cet. Dar ath-Thaibah 3/294)

Al-Imam Bukhari menyebutkan sebuah hadits dalam kitabnya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ؛ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ، شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا أَيُّنَا لَمْ يَلْبِسْ إِيمَانَهُ بِظُلْمٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَيْسَ بِذَاكَ أَلَا تَسْمَعُ إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ؛ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dari Abdullah ia menuturkan: “Ketika turun ayat ini; Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, hal itu terasa berat bagi sahabat Rasulullah. Mereka mengatkan: ‘Siapa pula di antara kita yang tidak pernah mencampur keimanannya dengan kezaliman?’ Lalu Rasulullah bersabda: ‘Bukan seperti itu, apakah engkau tidak mendengar (mencermati) ucapan Lukman kepada anaknya; Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.’” ( HR. Bukhari: 4776 )

Lihatlah para sabahat Rasulullah, betapa khawatirnya mereka luput dari keamanan dan petunjuk hingga mereka mengadu kepada Rasulullah karena mereka mengira kezaliman dalam ayat itu adalah kezaliman-kezaliman biasa, yaitu kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri. Padahal yang dimaksud Allah adalah syirik, sebab kesyirikan adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Imam Ibnu Hajar pernah mengatakan:

المُشْرِكُ أَصْلًا مَنْ وَضَعَ الشَّيْءَ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ؛ لِأَنَّهُ جَعَلَ لِمَنْ أَخْرَجَهُ مِنَ العَدَمِ إِلَى الوُجُوْدِ مَسَاوِيًا فَنَسَبَ النِّعْمَةَ إِلَى غَيْرِ المُنْعِمِ بِهَا

“Seorang pelaku kesyirikan hakikatnya adalah seorang yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Karena ia menjadikan tandingan bagi Dzat yang mengeluarkannya dari tidak ada menjadi ada, kemudian ia menisbahkan nikmat kepada selain pemberinya.” (Nahdratu an-Na’im 10/4749)

5. Kebagiaan dunia dan akhirat

Tidak seorang pun yang tidak menginginkan kebahagiaan. Baik kebahagiaan hidup di dunia, terlebih kebahagiaan di akhirat.

Jika kita mau jujur, maka kita akan menyadari bahwa apa yang kita lakukan dalam hidup ini adalah untuk menggapai kebahagiaan. Kita bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah demi kebahagiaan baik untuk diri sendiri atau pun untuk orang-orang yang kita cintai semisal istri, anak dan yang lainnya.

Tapi tidak semua orang mengetahui jalan untuk menggapai kebahagiaan. Bahkan ada sebagian orang yang salah jalan karena ketidaktahuannya itu, hingga akhirnya setelah ia bersusah payah mencapai ujung jalan, bukan kebahagiaan yang ia dapatkan tapi malah kesedihan, kesengsaraan, penderitaan serta penyesalan yang berkepanjangan.

Jalan kebahagiaan hanya ada pada mentauhidkan Allah, sebab Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (QS. Al-Kahfi: 110)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

مَنْ لَقِىَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارِ

Barang siapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun akan masuk surga dan barang siapa yang berjumpa dengan-Nya sedangkan ia mempersekutukan-Nya akan masuk neraka. ( HR. Muslim: 93)

Dan untuk kebahagiaan dunia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Sesungguhnya Allah berfirman: ’Wahai anak Adam, fokuslah untuk beribadah kepada-Ku niscaya akan Aku penuhi dadamu (hatimu) dengan kekayaan dan Aku cukupkan kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu.’” (HR. Tirmidzi: 2466, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 3166)

Inilah beberapa point penting tentang urgensi tauhid. Sebagai seorang muslim tentu kita tidak ingin luput dari keutamaan-keutamaan tersebut. Wallahul muwaffiq.

 

Penulis: Zahir Al-Minangkabawi
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom

ilmu tauhid

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

Makna Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

Menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah) adalah salah satu perbuatan yang dilaknat oleh Allah. Rasulullah …

Tulis Komentar

WhatsApp chat