Beranda / Hikmah Hidup / KEWAJIBAN HAMBA KEPADA ALLAH Bag. 1

KEWAJIBAN HAMBA KEPADA ALLAH Bag. 1

Soal 1:
Kenapa Allah menciptakan kita?

Jawab 1:
Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.

Dalilnya adalah firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Sabda Rasulullah:

حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Kewajiban hamba kepada Allah adalah meyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.” (HR. Bukhari:5912, Muslim: 30)
__________________

Sekarang pertanyaannya, “Kenapa hanya manusia dan jin saja yang disebutkan dalam ayat ini? Bukankah semua makhluk juga wajib beribadah kepada Allah?!”

Jawabnya, karena dua makhluk inilah yang sering bermasalah; mudah lupa dan sering membangkang.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah memberitakan tentang kejadian akhirat yang menunjukkan benarnya apa yang kita katakan di atas. Beliau bersabda:

 يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا لَوْ كَانَتْ لَكَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا أَكُنْتَ مُفْتَدِيًا بِهَا فَيَقُولُ نَعَمْ فَيَقُولُ قَدْ أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا وَأَنْتَ فِى صُلْبِ آدَمَ أَنْ لاَ تُشْرِكَ – أَحْسَبُهُ قَالَ – وَلاَ أُدْخِلَكَ النَّارَ فَأَبَيْتَ إِلاَّ الشِّرْكَ

“Allah bertanya kepada seorang penghuni neraka yang paling ringan adzabnya: ‘Jika seandainya engkau memiliki dunia dan segala isinya, apakah engkau mau menjadikan semua itu sebagai tebusan dirimu?’ Orang itu menjawab: ‘Tentu’ Kemudian Allah berkata: ‘Sungguh dahulu Aku menginginkan darimu sesuatu yang lebih ringan dari hal itu tatkala engkau masih di shulbi Adam yaitu, jangan engkau mempersekutukan-Ku dan Aku tidak akan memasukkanmu ke dalam neraka. Tetapi engkau enggan, engkau tetap mempersekutukan-Ku.’” (HR. Muslim: 2805)

Oleh sebab itu, luangkanlah sejenak waktu untuk mengingat hal ini. Kita, makhluk pelupa dan terkadang keras kepala. Sering-seringlah mengatakan kepada diri, “Engkau diciptakan untuk beribadah, jangan lupa, jangan ngeyel, nanti engkau menyesal, sesal kemudian tiada berguna.”

Rutinlah ke masjid, rajinlah pergi mengaji (belajar) dan berteman dengan orang-orang shalih agar kita senantiasa ingat dengan tujuan penciptaan kita di dunia ini; menauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.

Semoga bermanfaat.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Siapa Pendidik Pertama Buat Balita?

Anak kecil pada umumnya lebih banyak berdiam di rumah bersama ibu dan keluarga daripada dia …

Tulis Komentar