Menuju Bayi Sehat

Tubuh Bayi Saat Lahir

Bayi yang baru lahir, semua anggota tubuhnya masih lemah, termasuk kulit, daging dan tulangnya. Anggota tubuhnya lebih mudah terluka dan patah bila terkena benda yang kasar. Itulah sebabnya mengapa dia sering sakit, terutama demam. Orang tua biasanya akan membawanya ke tukang pijat karena badannya terganggu. Bahkan bentuk kepalanya pun akan bisa berubah karena salah menidurkannya. Kenyataan ini sebelumnya sudah dijelaskan oleh Allah dengan firman-Nya:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. ar-Rūm [30]: 54)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Allah mengingatkan kita tentang proses kejadian manusia dengan tahapannya. Manusia asalnya dari tanah, lalu menjadi mani, lalu menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, lalu menjadi tulang, kemudian tulang itu dibungkus dengan daging, lalu ditiupkan ruh, lalu keluar dari rahim ibunya dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, kurus, kecil, lemas badannya, kemudian sedikit demi sedikit menjadi kuat kemudian membesar menjadi pemuda. Inilah maksudnya sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat. Lalu lama-kelamaan berkurang kekuatannya sehingga menjadi tua dan rapuh tulangnya, dan inilah maksudnya sesudah kuat itu lemah, sehingga semangat berpikirnya bekurang, gerakan dan kekuatannya pun berkurang, sehingga sifat lahir dan batinnya berubah. Begitulah kebesaran kekuasaan manusia. (Tafsīr Ibnu Katsīr 6/327)

Panca Indra Bayi

Bayi yang lahir bukan hanya fisiknya yang lemah, tetapi Allah menciptakan panca indranya juga lemah. Allah berfirman:

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. as-Sajdah [32]: 9)

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa didahulukannya pendengaran, lalu penglihatan, lalu hati, karena pendengaran bayi lebih dahulu berfungsi daripada penglihatan. Sedangkan hati atau pikiran disebut paling akhir, karena akal baru berfungsi setelah berfungsinya pendengaran dan penglihatan. (Tafsīrul Qur’ani lil Qur’an 9/166)

Ada lagi yang berpendapat, karena pendengaran lebih mulia daripada penglihatan, dan dia (pendengaran) sebagai salah satu syarat kenabian. Oleh karena itulah Allah tidak mengutus seorang nabi sedangkan dia tuli. Penyebab lain, karena pendengaran merupakan sarana sempurnanya akal. Maka dari itu, umumnya ayat di dalam al-Qur`an mendahulukan pendengaran lalu penglihatan. (Tafsīr Abū Sa’īd 1/43 dan Kasyful Ma’āni fil Mutasyābih minal Matsāni 1/88)

Keterangan ini menunjukkan pentingnya kita memelihara kesehatan badan dan indra bayi, karena apabila anggota badan sehat dan indra yang berupa pendengaran, penglihatan dan akal sehat pula, tentu menjadi penunjang yang sangat kuat untuk memahami ajaran din. Dengan demikian, kelak dia akan menjadi anak yang shalih dan shalihah insya Allah.

Bagaimana Memelihara Kesehatan Badan dan Indra Mereka?

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya yang berjudul Tuhfatul Maudūd bi Ahkāmil Maulūd menjelaskan cara memelihara bayi agar tetap sehat jasmani dan rohaninya, di antaranya:

  • Setelah ibu melahirkan, alangkah baiknya bila selama dua atau tiga hari anak tidak disusui oleh ibunya, karena ASI saat itu masih keras dan keruh karena ibu baru saja bersalin, berbeda dengan ASI wanita yang memang kerjanya menyusui. Oleh karena itulah hampir semua orang Arab menyusukan anaknya kepada wanita Badui. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun disusui oleh orang lain.
  • Sebelum berumur tiga bulan, hendaknya tidak sering digendong dan tidak diajak keliling, karena badannya dan anggota badannya masih lemah sekali.
  • Sebelum tumbuh giginya, hendaknya tidak diberi makanan namun diperbanyak minum susu, karena pencernaannya masih lunak sehingga belum mampu mencerna makanan. Apabila giginya mulai tumbuh, maka bisa dibantu dengan makanan yang lembut.
  • Dia perlu dilatih makan. Pada awalnya dilatih dengan roti yang dicelup dengan air hangat, lalu sesuatu yang dimasak dan dicampur dengan kuah tanpa daging, lalu dengan daging yang lembut apabila dia sudah bisa mengunyah.
  • Apabila ada tanda si anak hendak bicara, agar lancar bicaranya, usahakan lidahnya diolesi dengan madu dicampur sedikit garam yang halus. Insya Allah akan lancar bicaranya.
  • Apabila sudah mampu berbicara, upayakan dilatih membaca dua kalimat syahadat, agar yang pertama kali didengar oleh pendengaran mereka ialah kalimat tauhid. Beritahu dia bahwa Allah w\ di atas Arsy, Dia melihat makhluk-Nya dan mendengar perkataan hamba.
  • Jika giginya mulai tumbuh, upayakan setiap hari gusinya digosok dengan keju atau mentega dan hindarkan dari makanan yang keras atau benda yang membahayakan agar giginya tumbuh sehat dan tidak bengkok atau patah.
  • Orang tua tidak perlu sedih bila anak menangis saat dia lapar, ketika minum ASI, karena tangisannya bermanfaat untuk melatih anggota badannya dan memperluas pencernaan makanannya serta melapangkan dadanya dan menghangatkan pikirannya. Bahkan menangis dapat melawan kuman atau bakteri yang ada di tubuhnya atau mengeluarkan ingus dan kotoran pada tubuhnya.
  • Jangan lupa mengenakan gurita sekalipun dirasa berat, sampai badan dan anggota badannya kuat. Lalu dilatih duduk dan berdiri sampai dia memiliki kekuatan dan mampu untuk bergerak sendiri.
  • Hendaknya anak dijauhkan dari mendengar suara yang menakutkan dan mengejutkan. Hendaknya pula tidak diperlihatkan pada sesuatu yang menakutkan atau gerakan yang menakutkan, karena hal itu akan merusak pikirannya, bahkan akan dibawa sampai dia dewasa. Oleh karena itu, apabila dia merasa ketakutan karena mendengar atau melihat sesuatu, hendaknya segera disusui sampai tertidur dan hilang rasa takutnya.

Bila Saatnya Bayi Disapih

Penyapihan anak tentu akan berpengaruh pada kejiwaan dan pikirannya, bahkan terkadang anak akan merasa dibenci oleh ibunya dan merasa kehilangan kekasihnya. Bagaimanakah cara yang efektif untuk menyapih anak dan kapan waktunya yang tepat? Allah berfirman:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS. al-Baqarah [2]: 233)

Ayat ini menunjukkan alangkah besarnya belas kasih Allah kepada hamba-Nya. Bayi yang baru lahir yang tidak memiliki kemampuan apa-apa, Allah jadikan sang ibu mencintainya bahkan rela berkorban untuk kepentingan kesehatannya. Namun, setelah bayi memiliki kekuatan walaupun belum sempurna, dan mampu makan, Allah menganjurkan hendaknya ia disapih. Penyapihan ini pun diterima oleh fitrah yang sehat, baik oleh yang menyusui maupun yang disusui.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Ayat ini menunjukkan:

• Sempurnanya susuan selama dua tahun. Ini merupakan haknya anak apabila dia membutuhkannya, terutama bila sang anak kurang nafsu makan.

• Jika sang bapak menyusukan anaknya kepada orang lain, maka batas waktunya juga sama. Tindakan ini baik pula bila sang ibu kurang berkenan menyusuinya karena hamil atau sebab lain.

• Hendaknya anak tidak disapih secara langsung, tetapi sedikit demi sedikit. Hal itu karena penyapihan secara langsung akan membahayakan bagi anak dan akan mempengaruhi kejiwaannya.

• Sebelum disapih, hendaknya anak dilatih agar senang makan, sekalipun makannya hanya sedikit.”
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Menyapih bayi tidak harus berumur dua tahun, tetapi boleh kurang dari itu. Penyebutan dua tahun berfaedah pula bagi sang istri yang menyusui anaknya: jika terjadi sengketa, dia berhak menuntut nafkah anaknya kepada suami. (Tafsīr al-Qurthubi 3/162)

Semoga dengan mengawali berusaha membantu pertumbuhan kesehatan badan anak dan indranya, anak mudah memahami dinul Islam dan menjadi anak yang shalih dan shalihah kelak di kemudian hari. Bermanfaat untuk diri, orang tua dan umat. Wallahu a’lam.

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Tulis Komentar