Beranda / Hikmah Hidup / Pelajaran Dari Sejarah Munculnya Kesyirikan Pertama Di Muka Bumi – Khutbah Jum’at

Pelajaran Dari Sejarah Munculnya Kesyirikan Pertama Di Muka Bumi – Khutbah Jum’at

Kesyirikan adalah dosa paling besar yang tidak diampuni oleh Allah jika tidak bertaubat. Mari mengambil pelajaran dari sejarah munculnya kesyirikan pertama di muka bumi

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ لله يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ التَّوْحِيدِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَعَلَى آله وَصَحْبِهِ ، صَلَاةً تَامَّةً بَاقِيَةً إِلَى يَوْمِ المَزِيْدِ

أَيُّهَا المُسْلِمُونَ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ الزَّادِ فِي السَّيْرِ إِلَى الله تعَالى ، قال الله ﷻ: وَتَزَوَّدُواْ  فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

Kesyirikan adalah dosa paling besar yang tidak diampuni oleh Allah jika tidak bertaubat. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’: 48)

Dahulu manusia di awal kehidupan pada zaman Nabi Adam dan beberapa kurun setelahnya dalam keadaan yang sama yaitu mentauhidkan Allah. Meski terjadi kemaksiatan dan tindak kriminal namun mereka tidak melakukan kesyirikan. Barulah setelah terjadinya kesyirikan Allah mengutus Rasul pertama yaitu Nuh. Allah berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (QS. al-Baqarah: 213)

Al-Imam Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah atsar dari sahabat Ibnu Abbas, bahwa ia mengatakan: “Antara Nuh dan Adam sepuluh kurun, semuanya di atas syariat yang benar. Baru kemudian mereka berselisih, lalu Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/569)

Artinya, dalam rentang sepuluh kurun itu, meski terjadi kemaksiatan akan tetapi manusia masih berada di atas fitrah mereka yaitu di atas tauhid.

Sejarah Terjadinya Kesyirikan

Sejarah munculnya kesyirikan pertama di muka bumi, bisa kita ketahui dengan mempelajari firman Allah dalam surat Nuh, Allah berfirman:

وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata: “janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan kamu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr.” (QS. Nuh: 23).

Apakah yang dimaksud dengan Wadd, Suwa’ Ya’uq dan Nasr?

Ibnu Abbas sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya, telah menjelaskan kepada kita tentang hakikat dari nama-nama tersebut sekaligus menjelaskan tentang sejarah munculnya kesyirikan. Beliau mengatakan:

هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم: أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصاباً وسموها بأسمائهم، ففعلوا، ولم تعبد، حتى إذا هلك أولئك ونسي العلم عبدت

“Ini adalah nama orang-orang shaleh dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka meninggal dunia, syetan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana, disitu pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama-nama patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian orang-orang tersebut menerima bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang mereka buat belum dijadikan sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung tersebut disembah.” (HR. Bukhari: 4920)

Al-Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya, ketika menafsirkan ayat di atas menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Abi Hatim tentang sejarah munculnya kesyirikan.

Disebutkan dari Abu Ja’far, ia mengatakan: “Wadd adalah nama seorang laki-laki muslim dan dia sangat dicintai oleh kaumnya. Saat ia meninggal dunia, maka kaumnya menginap di sekitar kuburannya di negeri Babilonia dan mereka bersedih meratapinya.

Ketika Iblis melihat ratapan kesedihan mereka itu, ia pun menjelma menjadi seorang manusia, lalu ia berkata: ‘Aku melihat kesedihan kalian atas kematian lelaki ini, maukah kalian aku buatkan gambar (lukisan) lelaki ini lalu diletakkan di tempat kalian berkumpul, sehingga kalian dapat senantiasa mengingatnya?’ mereka menjawab: ‘Ya.’

Maka Iblis pun membuatkan lukisan lelaki itu untuk mereka. Kemudian mereka meletakkannya di tempat dimana mereka biasa berkumpul dan mulailah mereka menyebut dan mengingat-ingat lelaki itu.

Ketika Iblis melihat mereka senantiasa mengingat dan menyebut lelaki itu, maka ia pun berkata: ‘Maukah kalian aku buatkan untuk setiap rumah kalian patung lelaki tersebut, sehingga kalian bisa mengingatnya di rumah kalian?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’

Maka Iblis pun membuatkan patung lelaki tersebut untuk setiap keluarga, mereka pun menerimanya dan mulai mengingat lelaki tersebut dengan patung itu.

Lalu anak-anak mereka melihat apa yang mereka lakukan, hingga mereka beranak pinak dan hilanglah tujuan untuk mengingat keshalihan lelaki tersebut. Akhirnya, cucu keturunan mereka menjadikan patung tersebut sebagai sesembahan selain Allah. Maka makhluk pertama yang disembah selain Allah adalah patung yang mereka namai Wadd.” (Tafsir Ibnu Katsir: 8/209)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari riwayat tentang sejarah munculnya kesyirikan pertama di muka bumi di atas:

1. Hati-hati jangan sampai ghuluw dengan orang shalih

2. Hati-hati jangan sampai ghuluw dengan kuburan

Maknya Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الغُلُوُّ

“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ibnu Majah: 3029)

3. Hati-hati dengan gambar bernyawa dan patung

Makanya Nabi ﷺ dalam hal ini sangat keras menyikapinya. Dari’Aisyah Ummul Mu’minin dia mengabarkan kepadanya bahwa dia telah membeli bantal yang ada gambarnya. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya Beliau berdiri di pintu dan tidak masuk ke dalam rumah. Maka aku mengerti dari wajah Beliau nampak ketidaksukaan. Maka aku katakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا أَذْنَبْتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ قُلْتُ اشْتَرَيْتُهَا لَكَ لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعَذَّبُونَ فَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَقَالَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ

“Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya , dosa apa yan telah aku perbuat?” Maka Rasulullah berkata: “Mengapa bantal ini ada disini”. Aku berkata; “Aku membelinya untuk anda agar anda dapat duduk dan bersandar di atasnya”. Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang membuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan akan dikatakan kepada mereka; “hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan”. Dan Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya rumah yang berisi gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh Malaikat.” (HR. Bukhari: 2105)

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah ini adalah dalam rangka menjaga umatnya agar tidak terjatuh pada kesyirikan seperti yang terjadi pada kaum Nabi Nuh. Oleh sebab itu, perhatikanlah tiga hal ini dan jangan menyepelekannya. Baca dan renungkanlah berulang kali tentang sejarah munculnya kesyirikan pertama ini agar kita selamat dari dosa terbesar itu.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللهم احْمِنَا مِنْ هَذَا البَلاَءِ ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا هَذَا الوَبَاءَ

اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالجُنُونِ وَالجُذَامِ، وَسَيْئِ الأَسْقَامِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca juga Artikel:

KITABUT TAUHID BAB 19 – Penyebab Utama Kekafiran Adalah Ghuluw Dalam Mengagungkan Orang-orang Shalih

Selesai disusun di Maktabah Az-Zahiry Jatimurni Bekasi, Jum’at 17 Dzulhijjah 1441 H/ 7 Agustus 2020M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Ushul Tsalatsah – Ibadah Menyembelih

Pada bagian ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memaparkan beberapa dalil dari Al-Qur’an mengenai Adz-Dzabh …

Tulis Komentar

WhatsApp chat