Beranda / Fawa'id / Qunut Pada Shalat Witir Kadang-kadang

Qunut Pada Shalat Witir Kadang-kadang

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat witir tiga rakaat, pada rakaat pertama beliau membaca: “: Sabbihisma rabbikal a’laa (surah Al A’la).” Pada rakaat kedua membaca: “Qul ya ayyuhal kafirun (surah Al Kaafiruun), ” dan pada rakaat ketiga beliau membaca “Qul huwallahu ahad (surah Al Ikhlas).” Lalu beliau qunut sebelum ruku’. Setelah selesai beliau membaca “Subbhanal Malikil Quddus” tiga kali. Beliau memanjangkan pada yang terakhir kalinya. (HR. An-Nasa’i: 1699)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan qunut pada raka’at shalat witir, kadang-kadang. Dan beliau melakukannya sebelum rukuk.

Kami mengatakan “kadang-kadang”, karena para sahabat yang meriwayatkan tentang shalat witir tidak menyebutkan adanya qunut di dalamnya. Seandainya beliau shallallahu alaihi wasallam melakukannya secara kontinu (terus-menerus), maka pastilah mereka semua telah meriwayatkannya.

Benar, hanya Ubay bin Ka’ab seorang yang telah meriwayatkannya. Maka hal ini menunjukkan bahwa beliau melakukannya kadang-kadang saja, sekaligus menjadi dalil bahwa qunut witir tidak wajib sesuai dengan madzhab jumhur (mayoritas) ulama.

Oleh sebab itu, seorang ulama muhaqqiq (peneliti), yaitu Ibnu al-Humam di dalam kitabnya Fath al-Qadir 1/306, 359, 360 mengakui bahwa pendapat yang mengatakan wajibnya qunut witir itu lemah, tidak didukung oleh dalil yang kuat. Pengakuan ini sekaligus merupakan sikap objektif Ibnu al-Humam (yang berasal dari madzhab Hanafi) dan ketidakfanatikan kepada madzhabnya, karena pendapat yang ia kuatkan bertentangan dengan madzhabnya. (Shifat Shalat an-Nabi: 179)

Catatan ringan sebelum berangkat ke Jatimurni, Sabtu 13 Shafar 1441H/12 Okt 2019, 05:20 WIB

Penulis: Zahir Al-Minangkabawi
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom

qunut witir

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Bolehkah Shalat Witir Sebelum Tidur?

Soal: “Mau tanya Pak Ustadz, saya terbiasa shalat witir setelah shalat Isya bagaimana hukumnya. Kemudian …

Tulis Komentar

WhatsApp chat