Beranda / Syarhus Sunnah Al-Muzani / Syarhus Sunnah – Allah Di Atas Arsy

Syarhus Sunnah – Allah Di Atas Arsy

Pada bagian ini Imam Al-Muzani memaparkan tentang akidah bahwa Allah di atas Arsy

Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan:

عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ وَهُوَ دَانٍ بِعِلْمِهِ مِنْ خَلْقِهِ

Allah Maha Tinggi di atas Arsy-Nya sedangkan Dia dekat dengan ilmu-Nya dari makhluk-Nya.

❀•◎•❀

Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar dan paling tinggi.

Pelajaran Berharga:

Pertama, Al-Uluw (Maha Tinggi) Allah. Ketinggian Allah ada dua macam, yaitu:[1]

  1. Ketinggian Sifat

Maksudnya yaitu Allah memiliki sifat Maha Tinggi yang menunjukkan kesempurnaan sifat-Nya. Hal ini tidak ada yang menyelisihi. Semua orang yang menisbatkan diri kepada Islam meyakini bahwa Allah Maha Tinggi.

  1. Ketinggian Dzat

Hal inilah yang diperselisihkan oleh banyak orang yang menisbatkan diri kepada Islam. Dan hal ini pula-lah yang menjadi salah satu pembeda antara Ahlussunnah dengan Ahlu bid’ah. Sehingga pembahsan inilah yang dimaksud oleh Imam Al-Muzani dalam pernyataannya ini.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah itu Dzat-Nya Tinggi, Dalil yang menunjukkan akan hal ini berasal dari Al-Qur’an, hadits dan ijma’. Bahkan, Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi setelah menyebutkan 18 segi dalil, beliau mengatakan:

“Dan jenis-jenis dalil ini, jika seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil. Oleh karena itu, kepada penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Tetapi sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya.”[2]

Diantara dalil Al-Qur’an yang sangat jelas menunjukkan akan hal ini adalah firman-Nya:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Tuhan Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thaha: 5)

Dan diantara dalil dari Hadits yang sangat jelas menunjukkan akan hal ini adalah hadits tentang seorang budak wanita:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ، قَالَ وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ، فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ، لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً!! فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِي بِهَا . فَأَتَيْتُهُ بِهَا، فَقَالَ لَهَا:  أَيْنَ اللهُ؟  قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ، قَالَ: مَنْ أَنَا؟ ، قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ، قَالَ:  أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Dari Mu’awiyah bin Hakam As-Sulami radhiallahu anhu, ia berkata: Dahulu aku memiliki seorang budak wanita yang bekerja mengembalakan kambing milikku di sekitar gunung Uhud dan Jawaniyyah. Suatu hari aku memeriksa ternyata seekor serigala telah memangsa seekor kambing yang dikembalakannya. Aku hanyalah seorang anak cucu Adam, aku marah sebagaimana mereka marah, sehingga aku pun menamparnya. Lalu aku mendatangi Rasulullah dan ternyata beliau menganggap besar perkara itu. Aku pun berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerdekakannya?’ Beliau berkata: Bawalah ia kepadaku. (Setelah ia didatangkan) Rasullullah bertanya kepadanya: Dimana Allah? Dia menjawab: Di atas langit. Rasulullah kembali bertanya: Siapakah aku? Dia menjawab: Engkau adalah Rasulullah (utusan Allah). Rasulullah pun bersabda: Merdekanlah dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman. (HR. Muslim: 537)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa menyakini Allah berada di atas langit adalah akidah yang benar, karena Rasulullah menetapkannya dan sekaligus menjadikan hal itu sebagai bukti keimanan budak wanita tersebut.

Dari hadits ini pula, ada dua hal penting yang dapat kita petik:

  1. Bolehnya bahkan disyari’atkannya pertanyaan: Dimana Allah?

Hal ini untuk membantah orang-orang yang mengatakan bahwa tidak boleh menanyakan dimana Allah. Oleh karena itu, Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi sampai-sampai mengatakan: “Siapakah yang lebih bodoh dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan bahwa tidak boleh bertanya dimana Allah, setelah penegasan pembuat syariat dengan perkataannya dimana Allah?!”[3]

  1. Allah berada di atas langit.

Hal ini jelas membantah keyakinan bahwa Allah tidak boleh disifati bahwa Dia berada diatas langit. Seperti ucapan mereka: Jika Allah disifati dengan sifat berada di atas langit berarti sama dengan tuhannya Sun Go Kong.

Ini jelas keliru sebab kita mengatakan Allah di atas langit berdasarkan dalil, dan penetapan kita dengan sifat ini tentu bersamaan dengan pernyataan “tidak sama dengan makhluk-Nya.” Degan kata lain kita mengatakan: “Allah diatas langit sesuai dengan keagungan-Nya, sama sekali tidak sama dengan makhluk-Nya.”

Kesimpulannya:

Akidah yang mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy-Nya di langit adalah akidahnya para Nabi dan para sahabat. Tidak hanya Nabi Muhammad, namun seluruh para Nabi. Sebagai contoh Nabi Musa, karena itulah Fir’aun ingin membangun bangunan yang tinggi untuk melihat Tuhan dalam rangka mengejek Nabi Musa. Hal ini sebagaimana firman Allah:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَّعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ ، أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.  (QS. Ghafir: 36-37)

Kedua, Dzat Allah  tinggi di atas Arsy-Nya bukan dimana-mana atau di segala tempat sebagaimana keyakinan sebagian orang-orang sufi.

Ketiga, Meskipun Allah berada di atas Arsy-Nya namun Ia sama sekali tidak butuh kepada Arsy tersebut.

Sehingga tidak boleh membayangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy-Nya sebagaimana seorang raja duduk di singgasananya, sehingga jika Arsy-Nya di angkat Dia akan jatuh sebagaimana makhluk. Ini adalah tamtsil; menyerupakan Allah dengan makhluk. Ini keyainan yang kufur dan yang dinafikan oleh Ahlussunnah.

Keempat, Yang dekat dan meliputi semua makhluk adalah ilmu Allah bukan Dzat-Nya. Itulah yang dimaksud dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

Jadi yang dimaksud dengan firman-Nya: “Dia bersama kamu dimana saja kamu berada” adalah ilmu Allah bukan Dzat Allah. Wallahu a’lam.

________________

[1] Pembahasan ini banyak mengambil faidah dari tulisan guru kami Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi dalam bukunya yang berjudul Dimana Allah? dan Meyingkap Aqidah Imam Asy-Syafi’i Tentang Ketinggian Allah Di Atas Langit

[2] Syarh Aqidah Thahawiyyah: 368

[3] Al-‘Uluw li Al-‘Aliyy Al-‘Azhim: 81

Lihat arsip pembahasan kitab Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani disini:

Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani

Selesai disusun di Jatimurni Bekasi, Kamis 1 Muharram 1442 H/ 20 Agustus 2020M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

 

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Syarhus Sunnah – Makna Judul dan Sebab Penulisan Kitab Syarhus Sunnah Al-Muzani

Makna Judul Kitab; Syarhus Sunnah Sebelum kita masuk ke makna dari judul kitab, baiknya kita …

Tulis Komentar

WhatsApp chat