TUJUAN PENCIPTAAN JIN DAN MANUSIA – Surat adz-Dzariyat: 56

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kapadaku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
_____________________________

Beberapa faidah yang dapat dipetik dari ayat yang mulia ini:

Pertama, makna beribadah kepada Allah dalam ayat ini utamanya adalah mentauhidkan-Nya. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh Imam al-Kalbi rahimahullah, beliau mengatakan: “kecuali untuk mentauhidkan-Ku.” (Al-Jami’u Li Ahkamil Qur’an: 19/507)

Kedua, wajibnya memurnikan peribadatan hanya kepada Allah. Menjadikan semua hidup dan mati untuk-Nya. Sebagaimana Firman Allah:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. al-An’am: 162)

Ketiga, penjelasan tentang hikmah penciptaan jin dan manusia. Hal ini juga sekaligus sebagai penekanan. Kenapa Allah menyebutkan dua makhluk ini secara khusus, padahal semua makhluk Allah beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 1)

Jawabannya adalah karena dua makhluk inilah yang sering lupa dan banyak membangkang. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa ia pernah mengatakan:

إِنَّمَا سُمِّيَ الإنْسَانَ؛ لأنَّهُ عُهِدَ إِلَيْهِ فَنَسِيَ

“Sungguh manusia dinamakan insan karena ia diambil janji namun ia lupa.” (Tafsir ath-Thabari: 16/183)

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (QS. Thaha: 115)

Keempat, penetapan hikmah dalam perbuatan Allah ta’ala. Wallahul muwaffiq. (Art0267)

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Mengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !