Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Menanggulangi Kenakalan Anak

Menanggulangi Kenakalan Anak

Sering kita lihat ketika pendidik atau orang tua menjumpai anaknya nakal, spontan dia mengambil kesimpulan bahwa anak harus dihukum, diperlakukan dengan keras agar dia berhenti dari “kenakalannya”. Sebenarnya ini kurang tepat. Orang tua atau pendidik hendaknya berpikir, jika orang tua atau pendidik menyimpang, siapakah yang menghukumnya? Apakah ridha bila dihukum oleh anaknya? Tentu tidak. Maka bagaimana anak yang belum sempurna akalnya? Memang suatu saat orang tua boleh mencoba dengan kekerasan, tetapi bukan melampaui batas hingga merusak jasad dan pikiran anak.

Agar pikiran orang tua tidak tegang

Tatkala orang tua dikaruniani anak, bila anaknya cerdas dan mudah dididik, tentu orang tua gembira. Sebaliknya bila anak lemah pikirannya, bandel dan “nakal”, orang tua bersedih hati dan bingung, timbul kemarahan dan cenderung bertindak keras. Agar kita tidak tegang menghadapi anak yang nakal, kita hendaknya memahami bahwa hidup ini pasti akan diuji dengan kesedihan dan kegembiraan, dengan sehat dan sakit, dengan cerdas dan lemah, dengan anak yang taat dan bandel. (Lihat: QS. al-Anbiyā`: 35)

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata: “Makna Ayat ini, Allah Azza wajalla hendak mengujimu di dunia ini dengan kesulitan dan kelapangan, dengan kaya dan miskin, dengan halal dan haram, dengan taat dan maksiat, dengan petunjuk dan kesesatan, lalu kalian akan dibalas amal baikmu dan amal jelekmu.”

Dengan demikian jelaslah bahwa kenakalan anak dan kecerdasannya bukan tolak ukur kebaikan dan keburukan orang tua, karena itu semua bahan ujian untuk orang tua, tetapi Allah Tabaaraka wata’ala akan melihat sejauh mana kemampuan kita dan usaha kita ketika mendapat ujian ini. Apakah anak dibiarkan ataukah dididik semaksimal mungkin dengan penuh kesabaran.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak menghukum cucunya yang naik di punggung saat beliau sujud, tetapi beliau melarang orang yang lewat di depan orang yang shalat. Begitulah indahnya kesabaran beliau ketika melihat anak yang belum sempurna akalnya.

Mengapa anak nakal?

Anak nakal tentu ada sebabnya, demikian juga anak yang shalih. Orang merasa kenyang karena makan, punya anak karena menikah, orang berilmu karena belajar. Maka di antara penyebab kenakalan anak adalah:

▪ Sikap orang tua yang salah

Anak nakal bisa jadi penyebabnya orang tua, karena orang tua tidak peduli dengan perbuatan anaknya yang menyimpang, atau salah mencari pendidik yang tidak menunjang akhlak anak, seperti orang tua membiarkan anaknya ketika berbuat kerusakan. Bukankah asal anak lahir dalam keadaan fitrah? Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada seorang anak pun yang lahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya? (HR. Bukhari: 1271)

Boleh jadi kenakalan anak karena sikap orang tua yang jelek. Orang tua enggan shalat pada awal waktu, orang tua tidak membaca al-Qur`an, orang tua suka nonton TV, ibunya atau saudarinya berpakaian press body, memperlihatkan aurat, orang tua mabuk atau berjudi, mencuri, bahkan mengajari anaknya mencuri, ini semua di antara sebab nakalnya anak. Bagaimana orang tua tidak durhaka?, menuntut anaknya agar tidak nakal, namun mereka demikian adanya. Benarlah kata pepatah, orang tua kencing berdiri, anak kencing berlari.

Para pendidik dan orang tua, hendaknya menjadikan perkataan dan perbuatannya suri teladan yang baik untuk anak didiknya.

▪ Kenakalan anak boleh jadi karena sikap orang tua yang senantiasa keras, sehingga anak ingin melakukan kekerasan pula. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

“Barangsiapa yang tidak mengasihi, dia tidak akan dibelaskasihani.” (HR. Bukhari: 6/2682)

Imam al-Bukhari sebelum menulis hadits ini menyebutkan, “Bab hendaknya belas kasihan kepada anaknya, mencium dan memeluknya.” (Shahih Bukhari: 6/2682)

▪ Salah pendidikan

Pendidikan sungguh punya pengaruh yang besar kepada anak kecil, jika gurunya tidak tahu ajaran Islam, bagaimana anak menjadi baik? Jika materi pelajaran kosong dari materi agama yang benar, dari mana anak tahu akhlak yang mulia? Jika siswa banyak yang rusak moralnya sedangkan guru membiarkannya, bagaimana anak menjadi lebih baik? Jika anak diajari menyanyi dan joget, bagaimana anak mau shalat dan membaca al-Quran?

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut.” (HR. Bukhari: 3/497)

▪ Karena pergaulan dan lingkungan yang jelek

Anak pada umumnya selalu ingin menirukan apa yang dikerjakan oleh orang di sekitarnya. Ketika orang tua nonton TV, anak juga ingin nonton. Ketika temannya berkelahi, dia juga ingin berkelahi. Sebaliknya, jika keluarganya shalat, dia ingin shalat.

Orang tua dan pendidik hendaknya memperhatikan siapa kawan akrabnya. Apakah temannya menunjang kebaikan anak atau malah menjadi sebab rusak moralnya. Orang tua hendaknya tanggap dan senantiasa mengontrol siapa kawan anaknya, karena bisa jadi anak yang baik, setelah pulang main dengan temannya, pulang membawa oleh-oleh kata yang buruk. Padahal orang tua tidak merasa mengajarinya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan minyak wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan mencium baunya yang tidak sedap.” (HR. Muslim: 8/38)

▪ Belum sempurna akalnya atau ada kelainan jiwa

Orang tua hendaknya memahami ketika anaknya nakal, adakah sifat kelainan jiwa? Jika demikian, orang tua harus bersabar dan memakluminya. Kasih sayangi dia, karena perbuatannya di luar jangkauan akal yang sehat.

Anak yang belum sampai umur, tentu fisiknya lemah, demikian juga akalnya, oleh karena itu kita sering menjumpai anak makan kotorannya sendiri, tanah atau makan sesuatu yang tak layak dimakan. Dia main-main api, air atau benda berbahaya lainnya. Orang tua tidak boleh mengambil tindakan keras, tapi diarahkan dengan lembut. Tidak boleh dipukul, karena fisiknya masih lemah. Bukankah anak kecil bila melakukan dosa belum dicatat? Bila Allah yang menciptakan anak kecil dan tidak menghukum mereka yang bersalah, maka bagaimana orang tua menghukumnya dengan keras? Di mana rasa belas kasihnya?

Rasulullah saja tidak merajam orang yang berzina bila dia gila. Ini menunjukkan jika orang dewasa ada kelainan akalnya, tidak dihukum, sekalipun berbuat dosa. Maka bagaimana dengan anak kecil yang melakukan kesalahan?

Solusi agar anak tidak nakal

Setelah kita mempelajari sebabnya, maka harus dicari solusinya. Hendaknya orang tua menjadi teladan yang baik dengan menjauhi akhlak yang jelek. Jangan pandai menyuruh tapi dirinya tidak mengerjakannya. (Lihat: QS. al-Baqarah: 44)

🔹Anak hendaknya dididik dengan ilmu agama yang benar semenjak kecil, terutama pendidikan tauhid, dikenalkan besarnya kuasa Allah Azza wajalla. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Wahai anak kecil, aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Peliharalah (hak) Allah, niscaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah (hak) Allah, niscaya kau akan mendapatkan-Nya berada di hadapanmu (melindungimu). Jika kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Jika meminta tolong, maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (Shahih: al-Misykah: 5302 dan Zhilal al-Jannah: 316-318)

🔹Orang tua hendaknya selalu mengawasi perbuatan anaknya yang tidak benar dan segera bertindak mencegahnya ketika dia menzalimi kawannya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim (aniaya) dan yang dizalimi.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, kami paham menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana kami harus menolong yang berbuat zalim?” Beliau bersabda: “Pegang tangannya (agar tidak berbuat zalim).” (HR. Bukhari: 2444)

Jika orang tua bertengkar harus ditegur dan ditolong, maka bagaimana dengan anak kecil?

🔹Orang tua hendaknya memantau siapa kawan anaknya. Buatlah ia senang berteman dengan anak yang baik akhlak dan ibadahnya, dan dijauhkan dari teman yang jelek akhlaknya karena agama seseorang cenderung terpengaruh dengan teman dekatnya.

🔹Orang tua hendaknya menjauhkan permainan serta benda-benda di rumah yang merusak akidah dan akhlak anak.
Orang tua hendaknya sering menasihati anaknya setiap saat, terutama bila ada tanda dia mau menyimpang, walaupun itu hal kecil semisal makan dengan kanan kiri, membuang makanan dan tindakan buruk lainnya.
Bukankah orang tua lebih berhak membendung anaknya ketika nakal daripada dihalangi oleh orang lain? Jika orang tua sering mengawasi dan menegur anaknya ketika salah, insya Allah anak akan berubah menjadi baik dengan izin Allah. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita agar menegur kenakalan anak kita. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ

“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran dan dia mampu mencegahnya dengan tangannya (kekuasaannya).” (HR. Muslim: 1/50)

Semoga dengan kesabaran dan kesungguhan orang tua dalam mendidik anak serta doa kepada Allah, kelak anak menjadi shalih dan shalihah.

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Jagalah Anakmu Dari Api Neraka

Anak lahir dalam keadaan fitrah Tatkala Allah Subhanahu wata’ala memberi karunia manusia berupa anak, setiap …

Tulis Komentar

WhatsApp chat