Saat Hari Mulai Senja – Khutbah Jum’at

KHUTBAH PERTAMA

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ صَلَّى ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Merenungkan perjalanan masa, hendaknya membuatkan kita semua, semakin mendekat kepada Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala.

Hari berganti hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Anak-anak telah beranjak dewasa, para pemuda sudah mulai menua. Saat kita bercermin, tampaklah uban telah tumbuh di kepala. Badan mulai lemah, kulit mulai kering dan keriput, pandangan mata dan pendengaran telinga tidak seperti dulu lagi. Semua ini sebagai pertanda bahwa kita semakin mendekat pada ketepatan Yang Maha Kuasa.

Kita tidak seperti umat-umat terdahulu yang diberikan jatah umur ratusan atau bahkan hingga ribuan tahun. Umur umat Nabi Muhammad sangatlah singkat, yaitu antara 60 hingga 70 tahun saja, sebagaimana sabda beliau shallallahu alaihi wasallam:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Sedikit sekali yang lebih dari itu.” (HR. Ibnu Majah: 4236, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 757)

Orang-orang shalih terdahulu, semakin bertambah usia mereka, semakin mereka meninggalkan dunia untuk semakin mendekat kepada akhirat. Yang demikian ini, karena mereka paham betul dengan firman Allah:

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al-Ahqaf: 15)

Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Dalam ayat ini ada petunjuk bagi siapa saja yang telah sampai pada umur 40 tahun untuk segera memperbaharui taubatnya kepada Allah serta kokoh di atasnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Karenanya disebutkan oleh Imam Malik tentang kebiasaan orang-orang shalih yang hidup di Madinah di masa beliau, bahwa mereka ketika sampai pada umur 40 tahun semakin mendekat kepada akhirat. Beliau berkata:

Aku mendapati para ahli ilmu di negeri kami (Madinah) dimana mereka mencari dunia dan menuntut ilmu serta banyak berbaur dengan manusia. Hingga ketika mereka telah sampai pada umur 40 tahun, mulailah mereka meninggalkan banyak berbaur dengan manusia dan segera menyibukkan diri untuk akhirat hingga datang kematian kepada mereka. (Tafsir Al-Qurthuby: 17/390, Tafsir QS. Fathir: 37)

Abdullah bin Dawud Al-Khuraiby menggambarkan hal yang sama, tentang kebiasaan orang-orang shalih di masanya, ia berkata:

كَانَ أَحَدُهُمْ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً طَوَى فِرَاشَهُ

Diantara mereka apabila telah sampai umur 40 tahun maka ia melipat kasurnya. (Mawa’izhu Ash-Shahabah: 111)

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Ketika usia telah melebihi 40 tahun dan mendekat ke 60 tahun, maka itu ibarat seorang pelaut yang telah melihat dermaga dari kejauhan, saatnya ia bersiap-siap untuk melabuhkan kapal. Seorang muslim ketika menyadarinya bahwa ia semakin mendekati kematian hendaknya ia semakin bersiap. Segera bertaubat, memperbanyak istighfar, meningkatkan ketaatan, dan selalu mengingat kampung akhirat.

Rasulullah saja pada akhir hayatnya semakin sering beristighfar, bertakbir, dan memuji Allah, terlebih lagi pada saat turunnya Surat an-Nashr yang memberi isyarat dekatnya ajal beliau. Aisyah berkata, Rasulullah memperbanyak membaca do’a terlebih ketika rukuk dan sujud:

سبحانك اللهم ربنا وبحمدك ، اللهم اغفر لي

Maha Suci Engkau wahai Allah, aku memuji-Mu, ampunilah aku. (HR. Bukhari)

Abu Musa Al-Asy’ari adalah seorang sahabat Nabi yang mulia, salah satu manusia terbaik yang banyak ibadahnya. Namun ketika bertambah usianya dan ia merasa ajal semakin mendekatinya maka ia pun bersungguh-sungguh untuk banyak beribadah, sampai-sampai para sahabat dan orang-orang dekatnya merasa kasihan dan memintanya untuk tidak terlalu memaksakan diri, akan tetapi ia justru menjawab dengan sebuah ungkapan yang sangat dalam yang masih terkenang hingga hari ini, ia berkata:

إِنَّ الخَيْلَ إِذَا أُرْسِلَتْ فَقَارَبَتْ رَأْسَ مَجْرَاهَا ، أَخْرَجَتْ جَمِيْعَ مَا عِنْدَهُ ، وَالَّذِي بَقِيَ مِنْ أَجَلِي أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ

“Sesungguhnya seekor kuda pacu ketika dilepaskan dan akan mendekati garis akhir maka ia akan mengerahkan semua tenaga dan upaya yang ada padanya. Sedangkan yang tersisa dari ajalku lebih sedikit dari hal itu.”

Abu Musa pun terus seperti itu hingga ia meninggal dunia. (Tarikh Al-Islam: 145, Tarikh Dimasq: 534)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Abu Hurairah, sosok yang tidak asing lagi bagi kita semua. Seorang sahabat Nabi yang mulia, yang paling banyak meriwayatkan hadits. Bisa terbayangkan betapa banyaknya pahala yang mengalir kepadanya. Setiap hadits yang ia riwayatkan, kemudian dibaca, dipelajari dan diamalkan oleh setiap orang hingga hari kiamat nanti maka Abu Hurairah mendapatkan aliran pahalanya. Namun tahukah kita, bahwa Ketika ia radhiyallahu anhu berada di ambang kematiannya, ia menangis. Maka orang-orang pun bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Hurairah?” Beliau radhiyallahu anhu menjawab:

أَمَّا إِنِّي لَا أَبْكِي عَلَى دُنْيَاكُمْ هَذِهِ ، وَلَكِنِّي أَبْكِي عَلَى بُعْدِ سَفَرِيْ ، وَقِلَّةِ زَادِي، وَإِنِّي أَصْبَحْتُ فِي صُعُوْدِ مَهْبِطٍ عَلَى جَنَّةٍ وَنَارٍ ، لَا أْدِرِي أَيُّهُمَا يُؤْخَذُ بِي

“Aku tidak menangisi dunia kalian ini, akan tetapi aku menangisi jauhnya perjalananku dan sedikitnya perbekalanku, sesungguhnya aku sedang mendaki sebuah jalan terjal menanjak yang ujungnya adalah surga dan neraka, sedang aku tidak tahu diujung manakah aku akan berhenti.” (Hilyah al-Auliya’: 1/383)

Kalau demikian yang dikatakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu padahal beliau adalah sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, orang shalih, ahli ilmu dan ahli ibadah, lalu bagaimanakah dengan kita, masihkah kita merasa bekal yang kita siapkan telah cukup?!

Oleh karena itu, marilah kita merenungkan semua ini. Dengan pergantian waktu yang terjadi, hendaknya membuat kita semakin mendekat kepada Allah. Hari mulai petang, matahari akan segera tenggelam. Perjalanan kita setelah kematian jauh lebih panjang dari pada usia kita di dunia. Karenanya marilah kita berbekal dengan bekal ketakwaan dan amal ibadah. Semua yang ada pada kita dan yang kita usahakan hari ini akan kita tinggalkan, hanya amal ibadah kitalah yang akan menemani, perjalanan panjang yang akan kita lalui. Semoga Allah menyelamatkan kita semua.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللهم انصر إخواننا المسلمين المستضعفين في فلسطين وثبت أقدامهم وانصرهم على القوم الكافرين

اللَّهُمَّ انْصُرِ إخواننا الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ فِلِسْطِيْنَ اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke LIPIA Jakarta Jurusan Syariah. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !