Beranda / Nasihat / Refleksi Hikmah / TIDAK HARUS KULIAH (Art.Refleksi Hikmah)

TIDAK HARUS KULIAH (Art.Refleksi Hikmah)

Setiap manusia pasti memiliki cita-cita hidup. Hal ini tentu bukan suatu celaan, bahkan bisa menjadi suatu keharusan apabila diletakkan pada tempatnya. Seseorang harus menentukan cita-citanya. Karena cita-cita itulah yang akan menentukan haluan hidupnya, kemana ia akan melangkah, dan apa yang akan dilakukan dalam menggapai cita-citanya tersebut.

Ibarat sebuah kapal. Sebelum mengangkat jangkar dan berlayar tentu sang nahkoda sudah menentukan tujuan dan arah kapal terlebih dahulu. Ini adalah kewajiban bagi setiap nahkoda, sampaipun para bajak laut.

Tidak ada kapal yang berlayar tanpa tujuan. Ini sama saja dengan bunuh diri, karena tanpa tujuan dan arah yang jelas kapal akan diombang-ambing gelombang lautan. Begitu pula dengan orang yang tidak punya cita-cita, ia akan diombang-ambing oleh gelombang kehidupan.

Sebagaimana manusia pada umumnya begitu pula dengan para santri. Mereka tentu memiliki impian dan cita-cita hidup. Dengan cita-cita inilah mereka melangkah, cita-cita ini pula yang menjadi salah satu pendorong mereka supaya giat dan sungguh-sungguh dalam belajar.

Di antara sekian banyak cita-cita tersebut yang paling mencolok adalah cita-cita bisa melanjutkan serta merasakan belajar di bangku perkuliahan. Belajar di universitas-universitas kenamaan, terlebih lagi universitas-universitas yang berada di Timur Tengah secara umum, dan di Haromain (Mekkah dan Madinah) secara khusus. Sebut saja Universitas Ummul Quro di Mekkah, Universitas Islam Madinah, Universitas Muhammad bin Su’ud di Riyadh dan seluruh universitas di Arab Saudi.

Kemudian universitas-universitas di negara Timur Tengah yang lain seperti Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir, Universitas Kuwait, Universitas Yordan dan sebagainya.
Keinginan untuk dapat belajar di universitas-universitas tersebut adalah satu hal yang wajar.

Di samping bisa mengambil ilmu langsung dari ulama dan bisa menetap sekaligus mengunjungi tempat-tempat suci Umat Islam serta berkesempatan pula untuk menunaikan ibadah yang dirindukan oleh ratusan juta umat Islam dunia, fasilitas-fasilitas yang akan didapat saat kuliah disanapun sangat menggiurkan.

Berangkat dari sanalah kemudian para pemuda termasuk para santri bersungguh-sungguh memperjuangkan cita-cita yang satu ini.

Berbagai upaya di kerahkan. Semua dokumen yang menjadi syarat pendaftaran dilengkapi tempat-tempat tes penerimaan didatangi walaupun harus dengan tertatih-tatih, berhutang kesana kemari karena jelas itu semua membutuhkan biaya. Sebut saja diantaranya biaya pembuatan paspor, biaya penerjemahan berkas ke dalam bahasa arab, serta biaya transportasi ke tempat tes penerimaan dan sebagainya. Pengorbanan yang sedemikian besar demi mewujudkan cita-cita.

Namun, ibarat kata pepatah lama: terkadang angin berhembus ke arah yang tidak diinginkan nelayan, seberapa besarpun harapan dan usaha yang telah dicurahkan jika Allah tidak menakdirkan tentu tidak akan terwujud.

Cita-cita yang selama ini diusahakan ternyata belum juga dapat dirasakan. Dari situlah kemudian muncul rasa letih dan keputusasaan. Datang berbagai bisikan setan untuk menambah keterpurukan seorang yang sedang putus asa ini ke dalam jurang kebinasaan yaitu berburuk sangka kepada Allah serta tidak rela menerima takdir-Nya.

Pertanyaan kenapa Allah tidak mengabulkan do’a ku? Padahal semuanya telah aku lakukan. Kenapa sifulan lulus? padahal dia bukanlah orang yang baik. Kenapa? Kenapa? Kenapa?…. selalu hilir mudik dipikiran. Kian hari kian bertambah. Akhirnya ia menjadi seorang yang celaka. Mengira  bahwa Allah telah mendzolimi makhluknya.

Semua ini berangkat dari pola pikir yang keliru. Memandang permasalahan dengan cara yang salah. Melihat sesuatu hanya dari satu pintu saja dan luput dari pintu-pintu yang lain. Sehingga ketika satu pintu itu tertutup ia seolah tertimpa dunia dan segala isinya, putus asa dari semua.

Oleh sebab itu maka perlu rasanya untuk merenungkan kembali. Memperbaiki cara berpikir yang selama ini mungkin keliru. Sehingga dengan begitu bisa terhindar dari jerat kebinasaan berupa berburuk sangka kepada Allah.

Ada beberapa hal yang perlu untuk dipahami supaya bisa memandang permasalahan ini dengan sudut pandang yang benar :

Pertama, harus diyakini bahwa Allah tidak pernah sedikitpun mendzolimi makhluknya. Mustahil Allah berbuat dzolim karena Allah sendiri yang mengatakannya. Allah telah mengharamkan segala bentuk kedzoliman bagi dirinya dan juga bagi para hamba-Nya. Tidak mungkin Allah menyelisihi perkataannya. Bagaimana mungkin Allah akan menyelisihi perkataannya sedang tidak ada yang paling benar perkataannya melainkan Dia.

Kedua, yakin dan percayalah bahwa apapun hasilnya maka itulah yang terbaik. Allah adalah dzat yang maha penyayang. Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Banyak hal-hal yang dibenci manusia tapi justru disanalah terdapat kebaikan yang berlimpah dan begitu pula sebaliknya banyak hal yang dicintai oleh manusia akan tetapi hakikat yang sebenarnya adalah keburukan bagi mereka. Ilmu manusia terbatas, untuk mengetahui hakikat dirinya saja terkadang ia tidak mampu, lantas bagaimana dengan hikmah dari takdir Allah yang itu hanya Allah yang mengetahuinya.

Ketiga, ketahuilah bahwa kehendak manusia berada di bawah kehendak Allah. Betapapun manusia menghendaki sesuatu, apabila Allah tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi. Sedangkan apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi walaupun manusia tidak menghendakinya.

Dari ketiga hal diatas dapat dipahami bahwa tidak diterimanya seseorang di universitas yang ia dambakan setelah mencurahkan segenap upaya bukanlah sebuah musibah. Bukan pula tanda tidak sayangnya Allah kepada dirinya.

Bahkan bisa jadi itulah salah satu kasih sayang Allah kepadanya karena Allah Maha Mengetahui, mungkin saja apabila ia diberi kesempatan mengenyam pendidikan di salah satu universitas Timur Tengah justru akan berdampak buruk bagi dirinya. Bisa jadi ia akan terserang penyakit sombong kemudian tidak mampu mengobatinya. Lalu Allah ingin menyelamatkannya dari penyakit berbahaya tersebut sehingga ia tidak tersungkur kedalam jurang kebinasaan dengan menghalanginya untuk kuliah di universitas tersebut.

Keempat, hal yang tidak kalah pentingnya untuk direnungkan. Untuk apakah gerangan seorang kuliah dan belajar ke Timur Tengah? Bukankah semua itu adalah wasilah, perantara yang akan mengantarkan seseorang mencapai maksud, sedangkan tujuannya adalah memperoleh ilmu sehingga menjadi manusia yang bisa memberi manfaat kepada orang lain. Sekarang mari sadari bahwa untuk menjadi orang baik atau menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain tidak harus bersekolah tinggi, tidak mesti kuliah, dan tidak melazimkan harus memiliki gelar-gelar ilmiah. Siapapun bisa menjadi orang baik tanpa harus kuliah di Timur Tengah, siapapun juga bisa memberi manfaat kepada orang lain tanpa harus sekolah.

Lihat dan ambillah pelajaran dari perjalanan hidup orang-orang besar. Tidak perlu jauh-jauh. Cukuplah dengan orang-orang besar negeri ini. Sebagai contoh perhatikanlah perjalanan hidup dua tokoh Nasional yang telah memberi manfaat besar kapada umat Islam negeri ini, Muhammad Natsir dan Buya HAMKA.

Lihatlah Muhammad Natsir, tokoh yang dikenal dan disegani oleh para ulama dan cendikiawan dimasanya. Beliau dengan Dewan Dakwahnya telah menghasilkan ratusan da’i yang kuat dan bermental baja. Menyebar diseluruh pelososk Nusantara.

Kemasyhuran beliau di Arab Saudi memudahkan banyak da’i untuk melanjutkan pendidikan di universitas-universitas negara tersebut. Padahal beliau sendiri tidak pernah kuliah di negara tersebut ataupun negara-negara Timur Tengah lainnya.

Lihat pula Buya HAMKA ulama Indonesia. Beliau tidak pernah menamatkan sekolah satupun apalagi kuliah disalah satu universitas di Timur Tengah. Tapi meskipun begitu banyak Universitas yang menghormatinya, sampai-sampai Universitas Al-Azhar Mesir, universitas tertua yang terkenal itu tidak segan memberi gelar kehormatan Doktor Causa kepada Buya HAMKA sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan manfaat beliau kapada umat Islam Indonesia.

Itu hanya segelintir cerita perjalanan hidup orang-orang besar yang mampu memberi manfaat kepada orang lain meskipun mereka tidak pernah mengecap bangku kuliah di Timur Tengah. Tapi setidaknya bisa memberikan sedikit gambaran bahwa kuliah di Timur Tengah bukanlah satu-satunya jalan untuk bisa menjadi orang yang berguna.

Bahkan fakta yang ada menunjukan bahwa ternyata tidak sedikit pula lulusan Timur Tengah yang justru menjadi perusak umat. Pulang dengan membawa pemikiran sesat lagi menyesatkan sehingga jangankan memberi manfaat kepada orang lain, dirinya saja tidak memperoleh manfaat dari belajarnya di Timur Tengah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa belajar atau kuliah di Timur Tengah lebih utama. Karena akan terbuka kesempatan untuk mengambil ilmu langsung dari ahlinya. Di negeri-negeri di kawasan Timur Tengah sampai hari ini masih mudah menemukan para ulama apalagi di kota-kota yang memang terkenal sebagai markasnya para ulama seperti Makkah dan Madinah.

Dapat menimba ilmu kasana tentu adalah sebuah kegembiraan yang luar biasa. Semua santri tentu menginginkannya. Tapi keinginan itu perlu diperhatikan, jangan sampai memaksa takdir. Jika memang belum ditakdirkan kesana apa boleh buat, bukan berarti kemudian putus asa lantas tidak semangat belajar lagi atau tidak mau belajar sama sekali. Teruslah melangkah dan ingat bahwa menjadi seorang da’i tidak harus kuliah.

Abu Zaid al-Minangkabawi

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Rugi Besar Karena Enggan Berbakti

Tidak ada manusia yang ingin merugi. Tapi, betapa banyak orang-orang yang merugi sedangkan ia tidak …

Tulis Komentar