Beranda / Nasihat / Refleksi Hikmah / PERGUMULAN BATIN (Art.Refleksi Hikmah)

PERGUMULAN BATIN (Art.Refleksi Hikmah)

Hidup di zaman ini merupakan tatangan tersendiri bagi setiap muslim dan muslimah. Untuk mempertahankan keyakinan dan akhlak mulia butuh perjuangan. Mereka harus bisa bertransformasi menjadi karang di lautan biru atau cadas di puncak Merbabu.

Siswanto, itulah nama bapak itu. Kami bertemu dengannya di Blora pada saat kali pertama berkunjung kesana. Beliau adalah seorang dokter umum. Ketika kami tanyakan, “Apakah bapak masih aktif?” Dengan raut muka yang agak ganjil; campuran antara sedih dan bahagia, ia  menjawab: “Saya sudah tidak aktif lagi. Saya telah memutuskan untuk pensiun dini.”

Kami tentu saja bertanya-tanya, saat banyak orang yang berusaha merintis karier sebagai dokter, ketika banyak orang tua yang “mati-matian” menyekolahkan anaknya di Fakultas Kedokteran, bapak ini justru ingin berhenti dari kariernya dan pergi menjauh dari semuanya. Tenyata sebabnya satu, “Pergumulan batin.”

“Di RS banyak sekali hal yang membuat saya tak kuasa menahan pertentangan batin. Salah satunya, diskon-diskon dari perusahan obat yang seharusnya hak RS, sering kali digelapkan oleh para dokter; rekan-rekan saya. Saya tahu hal itu haram, tetapi saya tak mampu berbuat banyak. Maka, tidak ada pilihan untuk menenangkan batin saya selain mengajukan pensiun dini.” Itulah kira-kira penjelasan dari pilihannya itu sekaligus jawaban dari pertanyaan kami.

ALIRAN SUNGAI

Kehidupan ini secara umum tak ubahnya dengan aliran sungai. Semakin jauh ia meninggalkan mata airnya, semakin keruh dan buruk kwalitas airnya.

Tanyakan saja pada orang-orang tua yang masih hidup, bagaimana pendapat mereka terhadap kehidupan hari ini jika dibandingkan dengan kehidupan mereka lima puluh atau enam puluh tahun yang lalu. Mereka yang punya perhatian terhadap agama dan akhlak mulia tentu akan lekas menjawab, “Sangat jauh berbeda.”
Tetapi, itu adalah suratan takdir. Rasulullah telah mengabarkan hal itu jauh-jauh hari.

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya (sebelumnya).” 

Empat belas abad lebih berpisah dari mata air Islam; zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Dengan kurun selama itu, tentu kita harus menyadari banyaknya keburukan dan kerusakan yang ada di zaman kita ini jika dibandingkan di zaman mereka.

INILAH ZAMANNYA

Pak dokter tadi sebenarnya tidak sendirian. Masih banyak orang lain yang juga sama merasakan hal seperti itu; pergumulan batin. Siapa mereka? Merekalah orang-orang yang masih punya cahaya keimanan dan hati nurani.

Saya masih ingat, dalam sebuah perjalanan kereta api, seorang bapak paruh baya dengan tampilan PNS juga mengeluhkan hal yang sama; pergumulan batin, di tempat dia bertugas. Bahkan, teman saya yang dahulu bekerja sebagai tukang foto copy juga mengeluhkan hal yang sama; pergumulan batin.
Memang memprihatinkan, kerusakan tidak hanya terjadi dalam satu atau dua sisi saja, akan tetapi telah menjalar kemana-mana, mengrogoti hampir semua sisi tatanan kehidupan, baik kehidupan sosial maupun kehidupan beragama.

Pemerintahan, kesehatan, pendidikan, sosial dan seterusnya tak lepas dari hal-hal yang membuat batin orang-orang yang masih punya hati terasa pilu. Sulit menghindari hal-hal dilarang, sistem yang telah berurat berakar menjadikan orang-orang tadi hanya bisa mengurut dada.
Kejujuran telah menjadi barang langka. Sehingga, ada yang mengatakan: “Bangsa kita membutuhkan orang hebat. Namun, lebih membutuhkan lagi orang yang jujur.”

Tapi, menjadi  orang  jujur  pun  kepalang  tanggung. Sebab, zaman ini “zaman  bolak  balik”, pemutar  balikan  fakta adalah  satu hal yang lumrah. Orang  jujur dituduh dusta, pendusta  dikatakan  jujur.

Melihat kenyataan yang ada, jelaslah mu’jizat Rasul kita Muhammad yang jauh-jauh hari mengabarkan tentang perihal yang akan terjadi di hari ini.
Rasulullah n bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خُدَّاعَاتٌ . يُصَدَّقُ فِيْهَا الكَاذِبُ وَيُكَّذَبُ فِيْهَا الصَّادِقُ . وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu; pendusta akan dibenarkan sedangkan orang yang jujur justru dikatakan dusta dan orang yang khianat akan diberi amanat sedangkan orang yang terpercaya akan dituduh khianat.”

GENGGAM BARA API DAN JANGAN LEPASKAN

Benar sabda beliau, bahwa orang-orang yang berpegang teguh dengan agama sepeningalan beliau akan menghadapi ujian yang berat. Dalam sebuah hadits beliau n bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Kelak akan datang suatu masa kepada manusia, seorang yang sabar berpegang teguh dengan agamanya seperti seorang yang menggenggam bara api.” 

Harus tetap digenggam, jika dilepaskan lepas semua agama, hilang sudah keimanan. Tidak ada pilihan. Meski harus kepanasan, terbakar, ia tidak boleh dilepaskan.

TETAPLAH TEGAR MENJADI CAHAYA DALAM GELAPNYA MALAM

Memang susah hidup sebagai seorang muslim sejati hari ini. Butuh perjuangan dan kesabaran. Tapi hidup tetap harus dijalani meski harus tertatih-tatih. Oleh sebab itulah, sebagai hiburan bagi umatnya yang hidup di akhir zaman; zaman perjuangan dan kesabaran, Rasulullah n bersabda:

“إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الْمُتَمَسِّكُ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ لَهُ كَأَجْرِ خَمْسِينَ مِنْكُمْ”قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ:”بَلْ مِنْكُمْ”قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ:”لا، بَلْ مِنْكُمْ”ثَلاثَ مَرَّاتٍ أَوْ أَرْبَعًا

“Sesungguhnya nanti di belakang kalian akan ada hari-hari kesabaran, seorang yang berpegang teguh dengan agamanya pada hari itu seperti kalian hari ini akan memperoleh ganjaran lima puluh dari kalian.” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Nabi Allah ataukah dari mereka?” Nabi menjawab: “Bahkan dari kalian.” Mereka kembali bertanya: “Wahai Nabi Allah, ataukah dari mereka?” Nabi menjawab: “Tidak, bahkan dari kalian.” Nabi mengulangi tiga atau empat kali.

Dalam sebuah  hadits  Rasulullah  bersabda:

إِنَّ الإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاء . قِيْلَ : مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ الله ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يَصْلَحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاِس

“Sesungguhnya Islam berawal dalam keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana ia berawal maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang tetap dalam keshalihan tatkala manusia rusak.”

Bagaimana? Anda  siap menjadi  al-Ghuraba’? Harus  siap. Meski  menyakitkan menjadi  orang  yang  terasing, tapi  itulah  pilihan  yang  tepat. Menjadi cahaya di tegah gelapnya malam. Berusaha untuk senatiasa menjadi muslim yang baik di tengah rusaknya kehidupan manusia. Semoga  Allah melindungi  dan  membimbing  kita  untuk  bisa  mengarungi  zaman  ini; zaman  perngumulan  batin. Amin.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Rugi Besar Karena Enggan Berbakti

Tidak ada manusia yang ingin merugi. Tapi, betapa banyak orang-orang yang merugi sedangkan ia tidak …

Tulis Komentar