Beranda / Nasihat / Refleksi Hikmah / SALAH MENGIDOLAKAN (Art.Refleksi Hikmah)

SALAH MENGIDOLAKAN (Art.Refleksi Hikmah)

Kita tidak bisa memungkiri bahwa saat ini umat Islam secara umum berada pada fase kelemahan. Kerusakan di sendi-sendi kehidupan umat ini bisa dikatakan sudah mencapai titik yang menghawatirkan.

Hilangnya figur-figur teladan turut pula memperparah keadaan. Hingga kita pun merasakan betapa lemahnya bangunan Islam ini sekarang.

Darah-darah muda yang di masa keemasan dahulu menjadi ujung tombak perjuangan, saat ini pun sangat memprihatinkan. Mereka sekarang tak ubahnya seperti bola mainan bagi musuh-musuh umat Islam.

Ketangguhan, kepahlawanan, kegarangan para pemuda umat Islam seolah hanya tinggal kenangan, terkubur dalam buku-buku sejarah yang sudah berdebu karena sekian lama tidak pernah dibaca lagi, maka benarlah sabda Rasulullah ketika beliau mengatakan :

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya (sebelumnya).” (HR. Bukhari: 7068)

Salah satu dilema umat Islam dewasa ini adalah salah kaprah dalam mengambil figur teladan. Banyak orang-orang yang tidak layak atau tidak boleh untuk diteladani tapi justru diidolakan oleh sebagian besar umat Islam.
Pelaku kemaksiatan, orang-orang fasik dan tidak sedikit pula orang-orang kafir yang justru disanjung dan dipuja, diikuti jalan dan gaya hidupnya hanya disebabkan mereka memiliki kelebihan dari sisi dunia.

Para pemuda yang mengidolakan musisi, pembalap, pemain bola. Gadis-gadis remaja yang mengidolakan artis-artis Korea ataupun ibu-ibu yang tengah demam bintang-bintang film.

 Semua yang diidolakan itu bisa dikatakan mereka yang mendapat cap “tidak layak” untuk dijadikan figur teladan. Bagaimana tidak sedangkan mereka adalah orang-orang kafir atau minimalnya orang-orang fasik, pelaku maksiat yang dilarang oleh Islam untuk dijadikan panutan. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS. Al-Mumtahanah: 13)

Kenyataan ini tentu amat menyedihkan, tapi yang lebih miris lagi adalah ketika musibah ini ternyata juga melanda para penuntut ilmu, orang-orang yang setiap hari digembleng dengan petuah-petuah ilahi, dibentengi dengan ilmu syar’i, namun meskipun demikian, harus kita akui musibah ini lebih kuat dari apa yang kita duga.

Di lingkungan pondok pesantren saja yang notabenenya dihuni oleh orang-orang baik, kita bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebagian santri “latah” yang ikut-ikutan bergaya seperti idolanya yang sebagaimana kita katakan. Lantas bagaimanakah gerangan keadaan mereka di luar pondok pesantren.

Tentu sangat mengerikan, kita seolah tidak dapat membayangkannya. Di tempat yang dikelilingi dengan kebaikan saja mereka seperti itu adanya, tentu diluar dari pada itu keadaan mereka jelas lebih rusak lagi.

Lihatlah gaya rambut, model pakaian, tingkah laku mereka. Semua sudah cukup untuk menunjukkan lemahnya kepribadian dan hilangnya prinsip hidup mereka. Dengan mudah mereka dipermainkan, dibodoh-bodohi tanpa sadar.

Kita bisa mengukur dan memperhatikan keadaan umat Islam khususnya di negeri kita ini pada beberapa tahun yang akan datang, karena pernah dikatakan bahwa,

“Baik atau buruknya suatu bangsa pada masa mendatang tergantung baik buruknya para pemudanya sekarang.”

Karena memang mereka adalah tunas bangsa yang apabila sampai  waktunya akan berubah menjadi dahan dan dedaunan. Apabila tunasnya saja berpenyakit, bagaimana mungkin akan menghasilkan dahan-dahan yang kokoh dan tangguh untuk menghadapi terpaan angin kencang, kecuali jika diobati sejak dini dan diperhatikan.

Kerusakan-kerusakan ini tentunya disebabkan oleh adanya kesalahan dalam tubuh umat ini.

Namun kita tidak boleh menyalahkan satu pihak saja atau malah saling menyalahkan. Kita harus objektif dalam memandang permasalahan. Apa yang ada dihadapan kita sekarang merupakan tanggung jawab kira bersama.

Bersama kita mencari penyebabnya dan bersama pula kita mencari jalan keluarnya. Karena kita adalah satu tubuh, satu dengan yang lain saling berkaitan. Rosulullah mengatakan :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Permisalan orang-orang beriman dalam kasih sayang dan simpati mereka seperti satu tubuh, apabila satu bagiannya sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam.” (HR. Bukhori: 6011 dan Muslim: 2586)

Diantara solusi yang paling ampuh adalah memulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Menilik diri sendiri sebelum orang lain. Jangan sampai terjadi seperti yang dikatakan oleh orang tua kita dahulu;

“Tungau yang diseberang lautan tampak sedangkan gajah dikelopak mata tak tampak.”

Oleh karena itu mari intropeksi diri sebelum memperbaiki orang lain. Coba tanyakan kepada diri kita siapakah kira-kira yang selama ini kita idolakan. Lihat dan cermati, apakah layak ia dijadikan panutan. Timbang dengan timbangan yang benar dan lihat dengan kaca mata yang bening. Kemudian ambil sikap yang tegas.

Figur-figur yang layak dijadikan teladan ambil serta pertahankan dan figur-figur yang tidak lulus timbangan buang dan campakkan, ganti dengan orang-orang yang pantas di idolakan. Para Nabi, sahabat, ulama dan orang-orang shaleh, merekalah yang layak di idolakan.

Abu Zaid al-Minangkabawi Ali 3

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah – Ini Sudah Cukup Untuk Mengantarkanku

Manakala Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu tiba di Syam, para pembesar; panglima dan komandan pasukan …

Tulis Komentar