Beranda / Ushul Tsalatsah / Ushul Tsalatsah – Tawakkal

Ushul Tsalatsah – Tawakkal

Pada bagian ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memaparkan beberapa dalil dari Al-Qur’an mengenai tawakkal

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan:

ودليل التوكل قوله تعالى: وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Dan dalil Tawakkal adalah firman Allah ta’ala: “Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23)

❀•◎•❀

Defenisi Tawakkal

Tawakkal secara bahasa berasal dari suku kata waw-kaf-lam yang bermakna bersandar kepada orang lain dalam satu perkara. Ibnu Sidah mengatakan: “Bertawakal kepada Allah artinya berserah diri kepada-Nya.” (Mausu’ah Nadhratun Na’im: 1377)

Tawakkal secara istilah adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah:

حَقِيْقَةُ التَّوَكُّلِ هُوَ صِدْقُ اعْتِمَادِ القَلْبِ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي اسْتِجْلَابِ المَصَالِحِ وَ دَفْعِ المَضَارِّ مِنْ أُمُوْرِ الدُنْيَا وَ الآخِرَةِ كُلِّهَا وَكِلَة الأُمُوْرِ كُلِّهَا إِلَيْهِ وَ تَحْقِيْقِ الإِيْمَانِ بِأَنَّهُ لَا يُعْطِيْ وَلَا يَمْنَعُ وَلَا يَضُرّ وَلَا يَنْفَع سِوَاهُ

“Hakikat tawakkal adalah kejujuran penyandaran hati kepada Allah dalam meminta kemaslahatan dan menolak kemudharatan dalam urusan dunia dan akhirat semuanya. Menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya. Serta mengimani bahwa tidak ada yang mampu memberi, menghalangi, memberikan mudharat mudharat dan manfaat selain-Nya.” (Jami’ul Ulumi wal Hikam: 2/497)

Faidah dan Keutamaan Tawakkal

1. Ciri orang yang beriman dan bertauhid

Seorang mukmin adalah orang yang mempunyai sifat tawakkal. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2)

2. Diberi rezeki dan kecukupan

Barang siapa yang bertawakal maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Allah berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. Ath-Thalaq: 3)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.” (HR. Tirmidzi: 2433)

3. Membuat tenang

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada para sahabat:

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدْ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمْ قُولُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا

“Bagaimana aku bersenang-senang sementara malaikat peniup sangkakala telah menelan tanduk (terompet) dan mendengar izin kapankan diperintahkan untuk meniup lalu ia akan meniup.” Sepertinya hal itu terasa berat oleh para sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu beliau bersabda kepada mereka: “Ucapkan: HASBUNALLAAH WA NI’MAL WAKILL ‘ALALLAAHI TAWAKKALNAA.” (HR. Tirmidzi: 2431)

Tawakkal tidak menafikan usaha

Seorang yang bertawakal tetap harus mengambil sebab, tidak boleh meninggalkan usaha. Dari Anas bin Malik, ia menceritakan:

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Ada seorang lelaki yang bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? Beliau menjawab: “Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi: 2441)

Ibnu Abbas radhiallahu anhu menuturkan:

كَانَ أَهْلُ الْيَمَنِ يَحُجُّونَ وَلَا يَتَزَوَّدُونَ وَيَقُولُونَ نَحْنُ الْمُتَوَكِّلُونَ فَإِذَا قَدِمُوا مَكَّةَ سَأَلُوا النَّاسَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Dahulu para penduduk Yaman berhajji namun mereka tidak membawa bekal dan mereka berkata, kami adalah orang-orang yang bertawakal. Ketika mereka tiba di Makkah, mereka meminta-minta kepada manusia. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat 197 dari QS Al Baqarah) yang artinya (“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”) (HR. Bukhari: 1523)

Oleh sebab itu, barang siapa yang meninggalkan usaha dengan alasan tawakal maka sungguh ia telah salah besar. Imam Ahmad pernah mengatakan:

يَنْبَغِيْ لِلنَّاسِ كُلِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَ لَكِنْ يُعَوِّدُوْنَ أَنْفُسَهُمْ بِالْكَسْبِ فَمَنْ قَالَ بِخِلَافِ هَذَا القَوْلِ فَهَذَا قَوْلُ إِنْسَانِ أَحْمَق

“Selayaknya semua manusia bertawakal kepada Allah. Akan tetapi, hendaknya mereka membiasakan diri untuk bekerja. Barangsiapa yang berpendapat berbeda dengan pendapat ini, maka pendapat tersebut adalah pendapat orang yang dungu.” (Mausu’ah Nadhratun Na’im: 1397)

Belajar dari burung

Kita perlu belajar dari makhluk Allah yang lain. Sebab, terkadang ada banyak hal yang tidak ada pada diri kita tapi ada pada mereka. Burung, satu di antara sekian banyak makhluk Allah yang patut kita tiru. Terutama dalam masalah hati. Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengatakan:

 يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

“Beberapa kaum masuk surga, hati mereka seperti hati burung.” (HR. Muslim: 2840)

Ada apa dengan burung??  Ternyata mereka adalah lambang sifat tawakkal. Hati mereka lembut dan penuh dengan keyakinan terhadap kasih sayang Allah.

Manusia perlu belajar dari mereka, karena banyak yang merasa ragu dengan rezeki yang telah Allah janjikan buat mereka. Yakin dan tawakkal, mengantarkan burung hidup bahagia. Rasulullah bersabda:

 لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.” (HR. Tirmidzi: 2433)

Coba lihat, burung keluar dari sarangnya hanya bebekal tawakkal kepada Allah. Ia tidak tahu tempat apa yang akan ia tuju untuk mendapatkan rezeki. Bandingkan dengan manusia, seorang guru sudah tahu sekolah yang akan ia tuju. Seorang pedagang pasar yang ditujunya, petani; sawah dan ladang, nelayan; laut, karyawan; kantor dan pabrik, dst. Akan tetapi, mereka masih khawatir karena kurangnya sifat tawakkal.

Maka belajarlah dari burung, jadikanlah hati kita seperti hatinya burung; penuh dengan sifat tawakkal kepada Allah. Kemudian sifat tawakkal itu diimplementasikan dalan bentuk giat bekerja tanpa sifat berlebihan.

Lihat Arsip Artikel Ushul Tsalatsah:

Arsip Pelajaran Kitab Ushul Tsalatsah

Selesai disusun di Jatimurni, Selasa 27 Dzulhijjah 1441H/ 17 Agustus 2020 M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Enam Nasihat Syaikh Shalih Al Ushaimi Dalam Menghadapi Wabah Corona – Khutbah Jum’at

Di tengah wabah yang melanda, semakin butuh kita pada para Ulama. Berikut adalah teks khutbah …

Tulis Komentar

WhatsApp chat