Beranda / Fawa'id / Keutamaan Sepuluh Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Keutamaan Sepuluh Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Di antara hikmah Allah adalah memuliakan sebagian waktu dari waktu yang lain. Dari sekian banyak jumlah hari dalam setahun, untuk siangnya Allah memilih sepuluh hari awal dari bulan Dzulhijah sebagai hari yang paling utama. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْه فِي هَذِهِ الأيَّامِ العَشْر. قَالُوا: وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللَّه!! قَالَ: وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidaklah ada diantara hari hari dimana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini (awal bulan dzulhijjah).” Para sahabat bertanya “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar membawa jiwa dan hartanya lalu ia tidak kembali lagi (mati syahid).” (HR. Bukhari: 969)

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan:

لَكِنَّ فَرَائِضَ عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ أَفْضَلُ مِنْ فَرَائِضِ سَائِرِ الأَعْشَارِ، وَنَوَافِلَهُ أَفْضَلُ مِنْ نَوَافِلِهَا

“Namun, amalan-amalan wajib di sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama daripada amalan-amalan wajib semua sepuluh hari bulan yang lain. Amalan-amalan sunnah di sepuluh hari ini pun lebih utama daripada amalan sunnah di sepuluh hari bulan yang lain.” (Fathul Bari’ Ibnu Rajab: 6/119 Cet. Dar Ibn Jauzi)

Diantara hal dan sebab yang menunjukkan serta menjadikan sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah ini lebih utama daripada hari-hari yang lain:

1. Allah subhanahu wata’ala bersumpah dengan malam-malamnya yang mulia. Allah berfirman:

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi waktu fajar dan malam yang sepuluh. (QS. Al-Fajr:1-2)

Sepuluh malam yang dimaksud adalah sepuluh malam di awal bulan Dzulhijjah menurut pendapat mayoritas ulama ahli tafsir dari salafus shalih. (Lihat: Tafsir Ibn Katsir: 8/390)

2. Sepuluh hari ini adalah hari-hari yang dikenal dan diberkahi, yang Allah subhanahu wata’ala mensyariatkan untuk mengingatnya dengan menyembelih binatang ternak yang telah direzekikan kepada kita. Allah berfirman:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang ditentukan atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. (QS.Al-Haj:28)

Yang dimaksud dengan hari-hari yang ditentukan didalam ayat di atas adalah sepuluh awal bulan dzulhijah menurut jumhur ulama dan mayoritas ahli tafsir. (Lihat Tafsir Ibn Katsir: 5/415)

3. Sepuluh hari ini adalah penutup dari bulan bulan yang telah ditentukan dari bulan bulan haji sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ

Haji itu pada bulan-bulan yang telah ditentukan. (QS.Al-Baqarah:197).

Bulan-bulan yang telah ditentukan itu adalah Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari awal bulan Dzulhijah.

4. Pada sepuluh hari ini terdapat hari Arafah yang mana Allah subhanahu wata’ala telah menyempurnakan agama ini pada hari tersebut sebagaimana firmannya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam itu sebagai agama bagimu. (QS.Al-Maidah: 3)

5. Pada sepuluh hari ini terdapat hari Nahr yang dikenal dengan hari Hajil Akbar. Hari ini adalah hari yang paling agung di sisi Allah subhanahu wata’ala sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

أَعْظَمُ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ القَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr dan hari Qarr (hari setelah hari Nahr)” (HR. Abu Dawud: 1765)

Demikianlah pembahasan singkat tentang kemuliaan sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Semoga bermanfaat, wallahul muwaffiq./art0291

Referensi: 44 Faidah fi ‘Asyri dzil Hijjah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

TAHAPAN PENGHARAMAN KHAMR

Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yaitu menurunkan syari’at secara berangsur-angsur dan bertahap …

Tulis Komentar