Pentingnya Amalan Tersembunyi di Zaman Haus Validasi

Saya ingin mengajak anda berkhayal. Bayangkan kita berada di tahun 1826 M (200 tahun lalu), kita adalah rombongan yang hendak berangkat haji. Kita akan memulai perjalanan dari Tanjung Priok Jakarta menggunakan kapal bertenaga angin (kapal layar). Membutuhkan waktu 6 bulan berangkat dan 6 bulan pulang. Di Mekah kita akan bermukim 3-6 bulan, kita harus datang lebih awal agar tidak terlambat dan pulang harus menunggu angin Muson Timur agar kapal kita bisa kembali ke Indonesia. Apakah ada dokumentasi berupa foto yang bisa kita bawa? Tidak ada, karena kamera baru saja ditemukan dan belum bisa digunakan secara masal oleh semua manusia. Dokumentasinya hanya berupa kenangan dalam bentuk cerita.

Sekarang kita pindah ke tahun 1926 M (100 tahun setelah 1826), masa ini kapal layar sudah berganti dengan kapal uap. Perjalanan ke Mekah menjadi jauh lebih cepat. Dari Jakarta ke Jeddah hanya butuh waktu 1 bulan perjalanan. Pulang pun dengan durasi waktu yang sama. Kita akan bermukim di Mekah 2-3 bulan saja. Tidak perlu menunggu angin lagi untuk pulang. Tahun ini, fotografi sudah ada dan cukup berkembang. Bahkan pemerintah Kolonial Belanda telah mewajibkan paspor berfoto bagi jamaah haji. Foto-foto suasana Mekah, kapal haji dan potret jamaah sudah ada. Tapi tentu kita tidak akan mudah mendapatkannya.

Sekarang kita kembali ke hari ini, tahun 2026. Kapal laut tidak digunakan lagi. Kita akan berangkat menggunakan pewasat terbang. Jakarta-Jeddah hanya butuh 9 jam perjalanan, tidak sampai setengah hari. Pulang pun sama. Bermukim di Mekah hanya sebentar saja. Hari ini fotografi telah berada di puncaknya, bahkan tidak hanya foto tapi juga video. Semua orang memiliki alatnya. Internet telah membuat dunia terasa dekat dan kabar berita tersebar dengan cepat, bahkan bisa realtime (live)

Bayangkan, seandainya kita ingin menunjukkan kepada manusia tentang perjalanan kita, ibadah selama di tanah suci, suasana dan update terbaru, dst, di zaman manakah yang paling mudah?

Kita akan sepakat mengatakan; hari ini. Untuk mengambil foto atau video kita di depan Ka’bah kita hanya perlu 1 hari perjalanan, lantas kemudian kita bisa ambil foto dan video. Tidak perlu pulang dulu untuk mencetak hasil fotonya. Kita bisa langsung share foto tsb di story medsos kita. Maka saat itu juga manusia sedunia bisa melihat bahwa kita sedang tawaf atau berdoa di depan Ka’bah.

ZAMAN DI MANA BANYAK ORANG HAUS VALIDASI

Secara umum kehidupan itu ibarat aliran sungai, semakin jauh dari sumbernya maka airnya akan semakin keruh. Rasulullahﷺ  bersabda:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya (sebelumnya).” (HR. Bukhari: 7068)

Sekarang sudah 14 abad lebih kita terpisah dari mata air Islam (zaman kenabian). Kita merasakan airnya telah berubah menjadi kotor. Banyaknya ujian dan musibah yang terjadi menjadi bukti dari kebenaran ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara fitnahnya adalah kita berada di zaman dimana manusia sangat haus terhadap Validasi.

Apa yang dimaksud dengan haus Validasi?  Validasi itu sederhananya adalah pengakuan dari orang lain. Maksudnya, ketika kita melakukan atau merasakan sesuatu, kita baru merasa lega dan puas kalau orang lain melihat, memuji, dan menganggap perbuatan kita itu hebat atau benar.

Kenapa orang zaman sekarang sangat haus akan pujian dan pengakuan ini?

Pertama, kecintaaan yang berlebihan terhadap dunia serta berlomba-lomba di dalamnya

Kedua, pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi yang membuat kita bisa melihat seluruh dunia atau memperlihatkan diri kita ke seluruh dunia tanpa harus keluar dari rumah. Dahulu tidak semua orang bisa melihat indahnya istana dan glamornya kehidupan para raja dan orang-orang kaya. Tapi sekarang, semua orang bisa. Hari ini  banyak orang ingin menunjukkan dirinya dan aktivitasnya. Mereka ingin dilihat dan dipuji atas kontennya. Tombol like dan pujian di internet membuat orang ketagihan ingin terus dipuji. Ukuran sukses orang pun sekarang sudah bergeser bukan lagi hidup tenang, tapi seberapa banyak orang yang menonton dan memuji. Akhirnya, banyak orang merasa cemas dan tidak percaya diri, sehingga bergantung pada tepuk tangan orang lain untuk merasa dirinya berharga.

Ketiga, jauhnya manusia dari ilmu agama (sebab utama). Renungkankah firman Allah ketika memberitakan apa yang dahulu pernah terjadi di zaman Qarun, percakapan dua golongan manusia. Allah berfirman:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ ، وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Aduhai kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash: 79-80)

Ternyata, yang dapat melihat hakikat dunia serta tidak terbuai dengan kenikmatannya yang menipu hanyalah orang-orang yang memiliki ilmu agama. Pantaslah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan umatnya untuk belajar ilmu agama, beliau bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Dengan ilmu itulah kita akan dapat melihat hinanya dunia dan berharganya akhirat.

APA BAHAYA HAUS VALIDASI DALAM TINJAUAN SYARIAT?

Haus Validasi menyebabkan seorang jatuh kepada ujub dan riya’, dua penyakit hati yang sangat berbahaya dan bagian dari kesyirikan. Bahkan, kita bisa mengatakan bahwa ujub dan riya’ merupakan dosa syirik paling dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Kembali ke khalayan kita diawal. Seorang menunaikan haji di tahun 1826 dan 1926 jika ingin pujian manusia, mungkin jalannya panjang dan sulit. Tetapi seorang di tahun 2026 sangat mudah, sangat luas jangkauannya dan sangat cepat.

Definisi Ujub dan Riya dan Bahayanya

Imam Ibnul Mubarak menjelaskan:

الْكِبْرُأَنْ تَزْدَرِيَ النَّاسَ. وَالْعُجْب: أَنْ تَرَىٰ أَنَّ عِنْدَكَ شَيْئًا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِكَ

 “Sombong adalah engkau meremehkan orang lain. Sedangkan ujub adalah engkau memandang bahwa dirimu memiliki sesuatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.”  (lihat: Siyar A’lam An-Nubala’: 15/395)

Sedangkan riya sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

عَمِلَ عَمَلًا لِيَرَاهُ النَّاسُ، وَيَدْخُلُ فِي ذٰلِكَ مَنْ عَمِلَ الْعَمَلَ لِيَسْمَعَهُ النَّاسُ

Riya adalah seorang beramal untuk dilihat oleh orang lain. Masuk pula dalam hal ini seorang yang beramal untuk didengar oleh orang lain (sum’ah). (Lihat Al-Qaulul Mufid: 2/124)

Ujub bisa terjadi dalam ibadah dan perkara dunia. Sedangkan Riya hanya terjadi pada ibadah saja. Akan tetapi keduanya sama-sama merupakan dosa kesyirikan. Syaikul Islam Ibn Taimiyah berkata:

وَكَثِيرًا مَا يَقْرِنُ النَّاسُ بَيْنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ، فَالرِّيَاءُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالْخَلْقِ، وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ

“Dan sering kali manusia menggandengkan antara riya’ dan ‘ujub. Riya’ itu termasuk bentuk menyekutukan Allah dengan makhluk, sedangkan ‘ujub termasuk bentuk menyekutukan Allah dengan diri sendiri.” (Majmu’ Al-Fatawa: 10/277)

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?” Abu Sa’id berkata, “Kami menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda: “Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah: 4204)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, ia menuturkan :

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

Pada suatu hari Rasulullah ﷺ berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik karena dia lebih halus dari langkah semut.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulallah, bagaimana kami harus menghindarinya, sementara dia lebih halus dari langkah semut?” Maka beliau menjawab: “Bedo’alah dengan membaca, ‘Allahumma Innaa Na’uudzu Bika Min An Nusyrika Bika Syaian Na’lamuhu Wa Nastaghfiruka Limaa Laa Na’lamuhu (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui).’” (HR. Ahmad: 18781 dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih At-Targhib wa At-Tarhib)

Kenapa riya lebih samar dari langkah kaki semut? Karena seorang yang jatuh dalam riya seringkali tidak merasakannya. Apalagi di sana ada amalan yang terpuji yang secara lahiriyah sama persis dengan riya yaitu menampakkan amal kebaikan dengan niat memberi motivasi atau contoh yang baik kepada orang lain. Dari Jarir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ، قَالَ: فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الصِّمَارِ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ، بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ، فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنَ الْفَاقَةِ، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ، فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ، فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ} إِلَى آخِرِ الْآيَةِ، {إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ: {اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ}   «تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ، مِنْ دِرْهَمِهِ، مِنْ ثَوْبِهِ، مِنْ صَاعِ بُرِّهِ، مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ – وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»  قَالَ: فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا، بَلْ قَدْ عَجَزَتْ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ، حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ، حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  «مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»

“Kami pernah berada di sisi Rasulullah ﷺ pada pagi hari. Tiba-tiba datanglah suatu kaum yang tidak beralas kaki, telanjang dada, memakai jubah wol bergaris yang berlubang di bagian tengahnya, sambil menyandang pedang. Kebanyakan mereka dari suku Mudar, bahkan seluruhnya dari suku Mudar. Wajah Rasulullah ﷺ berubah (menjadi sedih dan prihatin) ketika melihat kemiskinan dan kelaparan yang menimpa mereka. Beliau lalu masuk ke rumahnya kemudian keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dan iqamah, kemudian beliau shalat (Dzuhur).

Setelah shalat, beliau berkhutbah dan membaca ayat: ‘Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu…’ hingga akhir ayat ‘Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.’ (QS. An-Nisa: 1), serta ayat dalam surah Al-Hasyr: ‘Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…’ (QS. Al-Hasyr: 18). Beliau lalu bersabda: ‘Hendaklah seseorang bersedekah dengan uang dinarnya, uang dirhamnya, pakaiannya, satu sha’ gandumnya, satu sha’ kurmanya—hingga beliau bersabda—walaupun hanya dengan separuh buah kurma.’

Kemudian datanglah seorang laki-laki dari kaum Anshar membawa sekantung harta (uang/makanan) yang telapak tangannya hampir tidak sanggup menggenggamnya, bahkan sudah tidak kuat lagi memegang kantung tersebut (karena beratnya), lalu ia menyerahkannya kepada Nabi. Setelah itu, orang-orang pun berbondong-bondong ikut bersedekah, hingga aku melihat dua tumpukan besar berupa makanan dan pakaian. Aku melihat wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri dan gembira bagaikan berkilau emas.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa yang memulai (memberikan contoh) suatu sunnah yang baik (tradisi/kebaikan) dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memulai suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.’” (HR. Muslim: 1017, An-Nasa’i: 2554, Ahmad: 19223)

Apa yang membedakan antara Riya dengan memberi contoh yang baik? Niat pelakunya, yang itu hanya dia dan Allah yang tahu. Sangat samar.

PENTINGNYA AMALAN YANG TERSEMBUNYI

Beramal shalih membutuhkan kerja keras dan perjuangan berat karena tantangannya hadir dari awal hingga akhir, yang terbagi ke dalam tiga tingkatan utama. Tantangan pertama adalah memulai, di mana jiwa cenderung condong kepada keburukan sebagaimana firman Allah:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

“Sesungguhnya jiwa (nafsu) itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS.Yusuf: 53)

Tantangan kedua adalah saat melaksanakan, di mana penyakit riya’ dan sum’ah berpotensi merusak keikhlasan dan menghancurkan pahala. Tantangan ketiga adalah menjaga amalan setelah selesai, agar pahalanya tidak sirna akibat sikap mengungkit-ungkit (al-mann) atau menyakiti perasaan penerima (al-adza) sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah:264

Ditambah lagi kita hidup di zaman dimana manusia diuji dengan haus terhadap Validasi, maka disinilah pentingnya kita memiliki amalan yang tersembunyi. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan suka menyembunyikan diri.” (Muslim: 2965)

Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah, diantara mereka adalah orang yang beramal dalam keadaan sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; .. dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari: 660, Muslim: 1031)

Bahkan Nabi ﷺ sangat menganjurkan umatnya memiliki Khabiah yaitu amalan rahasia yang tidak ada satu manusiapun selain dirinya yang mengetahuinya. Nabi ﷺ bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبِيْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ

“Barangsiapa di antara kalian yang mampu memiliki amalan saleh yang tersembunyi (rahasia), maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah: 2313, Shahih Al-Jami’: 6018)

KIAT MIMILIKI KHABIAH (AMALAN TERSEMBUNYI)

  1. Berdo’a dan menambah ilmu agama

Berdoa meminta kemudahan dari Allah agar kita bisa ijhlas dalam setiap amal. Diantaranya doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits tentang syirik yang lebih samar dari langkah kaki semut yang sebelumnya telah disebutkan, yaitu

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui).’” (HR. Ahmad: 18781 dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih At-Targhib wa At-Tarhib)

Kemudian terus menambah ilmu agama, terutama berkaitan dengan keikhlasan dalam ibadah, hakikat akhirat dan dunia, pahala Allah, dst. Diantaranya ilmu mengenai:

  • Prinsip ibadah; syarat diterimanya ibadah. Kaidah-kaidah seputar ibadah seperti: “Jika suatu ibadah bisa disembunyikan maka menyembunyiknannya lebih utama.”

Jika amal ibadah tidak bisa disembunyikan maka apa boleh buat, cukup jaga niat dan tetap berusaha tidak terlalu memperlihatkannya. Namun jika amal ibadah itu masih bisa disembunyikan maka lebih baik disembunyikan kecuali kita yakin dengan menampakkanya niat kita benar memberi contoh dan dilakukan sesekali saja (jangan dibiasakan). Allah berfirman:

إنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 271)

  • Menyadari bahwa pujian manusia membinasakan. Dari Abu Bakrah, bahwa seorang laki-laki disebut-sebut disamping Nabi ﷺ, lalu laki-laki lain memuji kebaikan laki-laki tersebut, maka Nabi ﷺ bersabda:

وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher saudaramu.” (HR. Bukhari: 6061, Muslim: 3000)

Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pernah berkata:

المَدْحُ الذَّبْحُ

“Pujian itu adalah penyembelihan.” (Kitab Az-Zuhd Li Imam Ahmad: 97)

Lagi pula, ridha semua manusia adalah tujuan yang mustahil. Imam Syafi’I mengatakan:

رِضَى النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ، وَلَيْسَ إِلَى السَّلاَمَةِ مِنْهُم سَبِيْلٌ، فَعَلَيْكَ بِمَا يَنْفَعُكَ، فَالْزَمْهُ

“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah tujuan yang takkan mungkin digapai. Tidak ada jalan untuk selamat dari mereka. Cukuplah bagimu untuk menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/89)

  1. Cari amalan yang mudah dilakukan secara rahasia

Seperti shalat malam (qiyamul lail), zikir lisan/hati saat sendiri, puasa sunnah, membaca al-Qur’an, atau sedekah. Dan ini tentu berbeda antara satu orang dengan yang lain. Cari yang mudah agar kita bisa konsisten, misal bersedekah Rp 2.000 setiap hari. Karena yang penting adalah istiqamah (konsisten). Nabi ﷺ bersabda:

وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit. (HR Al-Bukhari (6464), dan Muslim (2818))

  1. Mengelola penggunaan media sosial dengan bijak.

Batasi jenisnya, keperluannya, dan waktunya. Tidak semua berita harus kita ketahui dan tidak semua konten harus kita lihat. Tahan diri dari mengunggah foto, video, atau status yang mengindikasikan kegiatan ibadah. Hindari melihat sesuatu yang akan merusak hati kita dan membuat kita tidak bersyukur. Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Pandanglah orang yang berada dibawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih baik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah.” (HR. Muslim: 2963)

  1. Berteman dengan orang-orang shalih atau membaca kisah-kisah mereka.

Pepatah arab mengatakan:

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ، فَاخْتَرْ مَنْ تُصَاحِبُ

“Teman itu menarik (mempengaruhi), maka selektiflah dalam memilih siapa yang engkau jadikan teman.”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mengatakan:

لَا تَصْحَبْ إِلَّا مَنْ أَعَانَكَ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ

Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang dapat membantumu untuk mengingat Allah. (Kitabuz Zuhd: 146)

Beberapa Potret Salaf Shalih Dalam Menyembunyikan Amalan

Pertama, Ali bin Husain (W 94 H)

Cicit Rasulullah ﷻ, Ali bin Al-Husain (Zainal Abidin), menanggung nafkah 100 keluarga di Madinah secara diam-diam. Setiap malam beliau memikul karung gandum dan membagikannya ke pintu-pintu rumah fakir miskin. Penduduk Madinah baru mengetahui pemberinya setelah beliau wafat dan jatah makanan itu terhenti.

Ketika memandikan jenazahnya, para pemandi jenazah terkejut melihat bekas hitam memar di punggung beliau akibat bertahun-tahun memikul karung gandum di malam hari. Penduduk Madinah berkata:

مَا فَقَدْنَا صَدَقَةَ السِّرِّ حَتَّى تُوُفِّيَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ

“Kami tidak pernah kehilangan sedekah rahasia sampai Ali bin Al-Husain wafat.” (Hilyat al-Auliya’ oleh Abu Nu’aim (3/135) & Siyar A’lam an-Nubala’ (4/393))

Kedua, Ayyub As-Sikhtiyani (W 131H)

Ayyub As-Sikhtiyani (seorang ulama tabi’in) selalu berusaha keras agar tidak ada orang yang tahu bahwa beliau sedang menangis karena takut kepada Allah. Dari Hammad bin Zaid, beliau berkata:

كَانَ أَيُّوْبُ فِيْ مَجْلِسٍ فَجَاءَتْهُ عَبْرَةٌ – أَيْ: دَمْعَةٌ أَوْ بُكَاءٌ – فَجَعَلَ يَتَمَخَّطُ وَيَقُوْلُ: مَا أَشَدَّ الزُّكَامَ!

Dahulu Ayyub As-Sikhtiyani pernah berada di suatu majelis, lalu beliau terharu hingga meneteskan air mata. Maka beliau pun pura-pura menyapu/membersihkan hidungnya seraya berkata: ‘Alangkah beratnya flu ini!'” (Siyar A’lam an-Nubala’ : 6/17, Min A’lam As-Salaf: 13/4)

Beliau berpura-pura terkena flu untuk menyembunyikan tangisannya

Ketiga, Dawud bin Abi Hind (W 139 H)

Daud bin Abi Hind mempraktikkan cara yang sangat rapi untuk menyembunyikan puasa sunnahnya selama 40 tahun.

صَامَ دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً لاَ يَعْلَمُ بِهِ أَهْلُهُ، كَانَ خَزَّازًا يَحْمِلُ مَعَهُ غَدَاءَهُ مِنْ عِنْدِهِمْ، فَيَتَصَدَّقُ بِهِ فِي الطَّرِيْقِ، وَيَرْجِعُ عِشَاءً فَيَفْطُرُ مَعَهُمْ

“Daud bin Abi Hind berpuasa selama 40 tahun tanpa diketahui oleh familinya. Beliau seorang pedagang kain yang membawa bekal makan siangnya dari rumah, lalu menyedekahkannya di tengah jalan. Saat sore hari beliau pulang dan makan malam bersama keluarganya.” (Hilyah Al-Auliya’: 3/94)

PENUTUP

Marilah berusaha mengikhlaskan setiap ibadah. Mengharapkan pujian dan balasan hanya dari Allah. Perlakukanlah amal kebaikan kita seperti aib kita sendiri. Imam Abu Hazim berkata:

اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ، كَمَا تَكْتُمُ مِنْ سَيِّئَاتِكَ

“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu, sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu.”  (Siyar A’lam An-Nubala: 6/256)

Semoga Allah menyelamatkan kita dari fitnah dunia dan menjadikan kita istiqamah di jalan hidayah sampai kita meninggal dunia. Amiin

Lihat:

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud, Arab Saudi (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button