Riya: Dosa Syirik Paling Dekat

Riya merupakan penyakit hati yang sangat halus, amat berbahaya, dan tanpa disadari sering mengintai keseharian umat Islam. Sebagai seorang mukmin, mengenali dan memahami hakikat riya’ adalah sebuah kewajiban agar setiap amal ibadah yang dilakukan tidak berujung sia-sia.

DEFINISI RIYA DAN SUM’AH

Secara terminologi, Riya adalah tindakan melakukan suatu amal ibadah atau kebaikan agar dilihat oleh orang lain. Sementara itu, masuk pula dalam kategori ini adalah Sum’ah, yaitu beramal agar didengar oleh orang lain.

Imam Ibnu Abdil Salam memberikan penjelasan yang komprehensif terkait perbedaan keduanya:

“Riya’ adalah seorang beramal untuk selain Allah, sedangkan sum’ah adalah seorang menyembunyikan amalannya kemudian ia ceritakan kepada orang lain.” (Lihat Nahratu An-Na’im hlm. 4552)

ANCAMAN DAN BAHAYA PENYAKIT RIYA’

Riya’ tidak boleh dipandang sebelah mata. Dalam syariat Islam, riya’ memiliki ancaman yang luar biasa mengerikan, di antaranya:

a. Lebih Berbahaya dari Fitnah Dajjal (Syirik Khafi/Tersembunyi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengkhawatirkan penyakit ini menimpa umatnya:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?” Kami menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda: “Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.” (HR. Ibnu Majah: 4204)

b. Jalan Tercepat Menuju Neraka

Golongan manusia yang pertama kali dihisab dan dicampakkan ke neraka pada hari kiamat bukanlah para pelaku maksiat besar seperti pencuri, melainkan tiga orang yang amalnya dijangkiti riya’:

  1. Orang yang mati syahid, tetapi ia berperang hanya agar disebut sebagai pahlawan yang pemberani.
  2. Orang yang menuntut ilmu dan mengajarkan Al-Qur’an, tetapi bertujuan agar disebut sebagai orang yang alim (ulama/qari).
  3. Orang kaya yang rajin bersedekah, tetapi bertujuan agar disebut sebagai seorang dermawan.

Karena mereka telah mendapatkan pujian (yang menjadi tujuan mereka) di dunia, maka di akhirat Allah memerintahkan mereka agar diseret wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka. (Ringkasan HR. Muslim: 1905).

c. Menghapus Pahala Amal Kebaikan

Amal yang dicampuri riya’ sejak awal pengerjaannya tidak akan diterima oleh Allah. Allah berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim: 2895)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan hukum ibadah yang tercampur riya (lihat kitab Al-Qaulul Mufid: 2/125-126)

Terdapat tiga keadaan atau macam hukum jika riya’ menyusup ke dalam amal ibadah seseorang:

  1. Riya’ Muncul Sejak Awal Ibadah

Jika dorongan utama melakukan ibadah murni hanya agar dilihat manusia (tanpa ada niat karena Allah sedikit pun), maka ibadah tersebut batal (tidak sah) secara mutlak dan perbuatan tersebut bernilai syirik.

  1. Riya’ Muncul di Pertengahan Ibadah

Apabila seseorang memulai ibadah dengan niat ikhlas karena Allah, namun di pertengahan jalan muncul perasaan riya’, maka hukumnya terbagi menjadi dua:

  • Jika ibadahnya dapat dipisah (tidak berkaitan erat):

Contohnya sedekah. Jika niat ikhlas saat bersedekah di awal, lalu muncul riya’ pada sedekah berikutnya, maka bagian sedekah yang ikhlas tetap sah, sedangkan sedekah yang tercampur riya’ batal.

  • Jika ibadahnya satu kesatuan utuh (saling berkaitan):

Contohnya shalat. Hukumnya bergantung pada respons orang tersebut:

    • Jika dilawan: Ia segera menolak, menepis, dan membenci perasaan riya’ tersebut, maka ibadahnya tetap sah dan tidak terpengaruh sedikit pun (karena bisikan hati yang dilawan dimaafkan oleh Allah).
    • Jika dinikmati: Ia justru merasa senang, tenang, dan menuruti riya’ tersebut hingga selesai shalat, maka seluruh shalatnya batal.
  1. Riya’ Muncul Setelah Ibadah Selesai

Perasaan riya’ (atau ingin pamer) yang baru muncul setelah amalan ibadah dituntaskan tidak akan memengaruhi keabsahan ibadah tersebut. Ibadahnya tetap sah.

  • Pengecualian: Pahala ibadah bisa hangus dan batal jika setelah beramal ia melakukan kezaliman, seperti mengungkit-ungkit sedekah yang sudah diberikan hingga menyakiti hati si penerima (sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 264).

MENGAPA RIYA’ ADALAH DOSA YANG PALING DEKAT DENGAN KITA SAAT INI?

Bila ditelaah lebih jauh, mengapa riya’ disebut sebagai dosa syirik kecil yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat modern? Jawabannya terletak pada teknologi yang ada di genggaman tangan kita saat ini: Ponsel Pintar (Smartphone) dan Media Sosial.

Di era digital, riya’ tidak lagi membutuhkan usaha yang besar. Hanya dengan satu ketukan, satu foto, atau satu tulisan di status WhatsApp, Instagram, atau Facebook, kemurnian niat ibadah dapat hancur berantakan. Sebagai contoh:

  • Selesai menunaikan shalat tahajud, seseorang mengunggah status: “Alhamdulillah, sejuknya sepertiga malam.”
  • Selesai bersedekah atau mengadakan bakti sosial, seseorang memublikasikan foto atau mengunggah screenshot bukti transfer sedekah, infak, atau wakaf, meskipun nominalnya disensor dengan keterangan: “Semoga berkah untuk semua, alhamdulillah bisa berbagi.”
  • Sengaja membagikan lokasi (share location) di media sosial saat sedang berada di masjid untuk i’tikaf atau kajian.
  • Menghadiri kajian agama, namun niat utamanya memamerkan pakaian syar’i keluaran terbaru. Kemudian mengunggah foto diri berlatar belakang panggung kajian dengan caption mengutip ayat atau hadits
  • Mendadak menggunakan istilah-istilah bahasa Arab yang berlebihan dalam percakapan sehari-hari hanya untuk memamerkan tingkat pemahaman agamanya kepada orang awam.
  • Bahkan saat melaksanakan ibadah umrah, sebagian orang lebih sibuk memastikan pengikutnya di media sosial tahu bahwa ia sedang thawaf daripada memfokuskan diri berdoa kepada Allah.

Godaan untuk mendapatkan validasi manusia seperti likes, pujian, atau pengakuan dari kolega membuat riya’ menjadi dosa yang paling mudah dan paling sering dilakukan tanpa disadari. Hati manusia modern acapkali haus akan validasi sosial, padahal pujian manusia sama sekali tidak akan menambah berat timbangan amal di akhirat kelak.

Riya Berbalut Tawadhu

Seseorang merendahkan dirinya, menyebut kekurangan, atau meratapi kebodohannya, namun niat di dalam hatinya justru sedang memancing pujian, simpati, atau pengakuan dari orang lain.

Berikut adalah beberapa contoh kasus merendah untuk meninggi yang sering terjadi di keseharian kita:

1. Merendah dalam Urusan Ibadah Harian

  • Keluhan Tahajud: “Aduh, malu banget rasanya sama Allah. Semalam cuma sanggup bangun jam 3 dan shalat tahajud 4 rakaat, itupun ngantuk banget. Beda ya sama orang-orang shalih.” (Fakta Hati): Ia tidak sedang menyesali ibadahnya, melainkan ingin orang lain tahu bahwa ia rajin bangun malam dan shalat tahajud. Ia memancing respons: “Masya Allah, segitu aja udah hebat kok, aku aja boro-boro bangun.”

  • Merendahkan Suara Tilawah: Setelah menjadi imam shalat atau membaca Al-Qur’an, ia berkata: “Maaf ya bapak-bapak, bacaan tajwid saya masih berantakan, suara saya juga sumbang banget tadi.” (Fakta Hati): Ia tahu persis suaranya bagus dan bacaannya benar. Ia mengatakan itu hanya untuk memancing jamaah memujinya: “Eh, nggak kok! Suaranya merdu banget kaya imam Masjidil Haram!”

2. Merendah dalam Urusan Sedekah dan Harta

  • Donasi “Kecil”: “Maaf ya panitia pembangunan masjid, saya cuma bisa bantu 20 juta. Lagi banyak banget pengeluaran bisnis bulan ini, jadi belum bisa ngasih banyak.” (Fakta Hati): Ia menyebut nominal yang cukup besar (20 juta) dengan embel-embel “cuma” agar orang-orang takjub dengan kekayaannya dan menganggapnya sangat dermawan.

  • Bingung Sedekah: “Pusing deh nyortir baju di lemari. Baju-baju gamis sutra sama tas-tas branded ini mau disumbangin ke mana ya? Sayang kalau dibuang, tapi udah nggak muat di lemari baruku.” (Fakta Hati): Niat utamanya bukan mencari tempat donasi, melainkan memamerkan bahwa ia memiliki barang-barang mewah yang berlimpah.

3. Merendah dalam Urusan Ilmu dan Status

  • Gelar “Fakir Ilmu”: Seseorang yang baru saja memborong panggung diskusi dengan dalil-dalil yang sangat kompleks, lalu menutupnya dengan berkata: “Tapi yah, saya ini cuma fakir ilmu, ibarat debu di keset masjid. Pemahaman saya masih dangkal.” (Fakta Hati): Ia mengharapkan audiens kagum dan bergumam, “Masya Allah, ilmunya setinggi langit tapi beliau tetap tawadhu dan merendah.”

  • Prestasi Anak: “Alhamdulillah, anak saya mah otaknya pas-pasan sebenernya, main game terus kerjanya. Nggak nyangka aja tiba-tiba bisa lolos beasiswa S2 ke Eropa.” (Fakta Hati): Menjatuhkan citra sang anak di awal kalimat untuk menonjolkan betapa hebatnya prestasi tersebut, sekaligus memancing rasa iri atau decak kagum dari lawan bicara.

Model Riya ini Lebih Berbahaya

Setan sering kali gagal menggoda orang shalih untuk pamer secara terang-terangan. Akhirnya, setan membisikkan cara yang lebih halus: menyuruh mereka mencela diri sendiri di hadapan publik.

Riya’ berbalut tawadhu’ ini mengidap dua penyakit hati sekaligus:

  1. Riya’ (Pamer): Karena tujuannya tetap mencari pujian manusia.

  2. Nifaq (Kemunafikan): Karena apa yang diucapkan oleh lisan (merendah) bertolak belakang dengan apa yang diinginkan oleh hati (ditinggikan).

Tawadhu’ yang sejati adalah ketika seseorang menutupi amalannya rapat-rapat, tidak menyebutkan pencapaiannya (baik untuk menyombongkan diri maupun pura-pura merendahkannya), dan hatinya merasa tidak lebih baik dari orang lain tanpa perlu mengumumkannya kepada dunia.

BATAS TIPIS ANTARA SYIAR, SYUKUR, DAN RIYA’: MENGAPA KITA DILARANG MENGHAKIMI

Pemaparan tentang berbagai realita riya’ di era modern sering kali memunculkan sebuah dilema: Jika demikian, apakah kita sama sekali tidak boleh menampakkan amal kebaikan atau menceritakan nikmat Allah di ruang publik?

Jawabannya adalah boleh, karena Islam juga mengenal konsep menampakkan amal untuk kebaikan. Allah berfirman:

إنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 271)

Allah berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Adapun terhadap nikmat dari Rabbmu maka ceritakanlah. (QS. Adh-Dhuha: 11)

Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاس

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim: 91)

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memulai (mencontohkan) mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatannya itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim 2/705 no. 1017)

Niat: Satu-satunya Garis Pembeda

Dalam syariat, terdapat anjuran untuk Tahadduth bin Ni’mah (menceritakan nikmat Allah sebagai wujud syukur) serta anjuran untuk menampakkan amal kebaikan demi memotivasi orang lain (Syiar).

Perbedaan antara syiar/syukur dengan riya’ tidak terletak pada bentuk perbuatannya atau platform tempat hal itu diunggah, melainkan murni bergantung pada niat di dalam hati.

  • Syiar (Memotivasi): Mengunggah dokumentasi kegiatan sosial atau bukti transfer donasi dengan niat transparansi pelaporan dan memancing semangat orang lain agar ikut berbuat baik.
  • Tahadduth bin Ni’mah (Bersyukur): Menceritakan pencapaian, rezeki, atau momen ibadah (seperti berangkat haji) dengan hati yang tunduk, murni mengembalikan segala pujian hanya kepada Allah.
  • Riya’ (Pamer): Melakukan hal yang persis sama dengan dua poin di atas, namun di sudut hatinya yang terdalam bergejolak keinginan untuk mendapat pengakuan, pujian, “likes”, atau validasi dari manusia.

Hanya Pelaku dan Allah yang Mengetahui

Karena garis pembedanya hanyalah niat, maka wujud fisik atau lahiriah dari syiar dan riya’ bisa terlihat sama persis di mata manusia. Tidak ada alat pendeteksi yang bisa mengukur keikhlasan seseorang. Oleh karena itu, hanya orang yang melakukan amal tersebut dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu persis apa motif sebenarnya.

Seseorang bisa saja terlihat sangat pamer dan mencolok di mata netizen, namun di hadapan Allah hatinya sangat bersih dan tulus ingin mengajak pada kebaikan. Sebaliknya, seseorang bisa terlihat sangat pendiam, namun hatinya penuh dengan kesombongan dan keinginan untuk diakui secara sembunyi-sembunyi.

Haram Hukumnya Menghakimi Hati Orang Lain

Berangkat dari fakta bahwa niat adalah area privasi mutlak antara hamba dan Tuhannya, maka berlaku sebuah adab dan prinsip dasar yang harus dipegang teguh: Kita sama sekali tidak berhak dan tidak boleh menuduh orang lain berbuat riya’.

  • Bukan Tugas Kita Membedah Hati Manusia: Ketika melihat kerabat atau teman mengunggah ibadahnya di media sosial, kewajiban kita hanyalah mengedepankan husnuzhan (prasangka baik). Anggaplah ia sedang memotivasi kita atau bersyukur atas nikmat Allah.
  • Menuduh Riya’ Menciptakan Penyakit Hati Baru: Mudah melabeli orang lain dengan tuduhan (“Ah, dia mah cuma pamer dan caper doang posting ibadah!”) justru sangat berbahaya bagi diri kita sendiri. Hal tersebut membuahkan penyakit su’uzhan (prasangka buruk) dan ujub (merasa diri lebih suci, lebih ikhlas, dan lebih baik dari orang tersebut).

Kesimpulan: Ilmu tentang penyakit batin seperti riya’ dipelajari bukan untuk dijadikan kaca pembesar yang mengintai, menilai, dan mencari-cari kesalahan niat orang lain. Ilmu ini harus diposisikan sebagai cermin—untuk menatap ke dalam diri, mengintrospeksi, dan menjaga kemurnian niat di relung hati kita sendiri. Biarlah niat dan amal orang lain menjadi rahasia suci antara mereka dengan Sang Maha Mengetahui Isi Hati.

OBAT DAN PENAWAR PENYAKIT RIYA’

Untuk menghindarkan diri dari penyakit batin ini, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan:

a. Berdoa Meminta Perlindungan Allah

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berlindung dari riya’ dan sum’ah adalah:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ الشِّرْكِ وَالنِّفَاق ، وَالسُّمْعَة وَالرِّيَاء

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesyirikan, kemunafikan, sum’ah, dan riya’.” (HR. Ibnu Hibban: 1023)

b. Menyadari Hakikat Dunia yang Fana

Pujian manusia di dunia ini sangatlah fana dan tidak bernilai di hadapan Allah. Rasulullah menggambarkan bahwa dunia ini lebih hina daripada bangkai anak kambing yang cacat (HR. Muslim: 2957). Fokuskan orientasi hidup pada ridha Allah, bukan validasi manusia. Imam Syafi’i rahimahullah memberikan nasihat emas:

“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah tujuan yang takkan mungkin digapai. Tidak ada jalan untuk selamat dari mereka. Cukuplah bagimu untuk menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu.” (Siyar A’lamin Nubala’: 10/89)

c. Membiasakan Diri Menyembunyikan Amalan

Latihlah diri untuk memiliki “amal rahasia” yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah. Beramal secara sembunyi-sembunyi sangat efektif untuk melatih dan menjaga keikhlasan. Allah memuji golongan orang yang bersedekah secara diam-diam:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“…seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya…” (HR. Bukhari: 660, Muslim: 1031)

d. Mencari teman yang baik

Orang-orang yang dapat mengingatkan kita tentang tujuan hidup kita, dan hinanya dunia. Dari Al-Hasan rahimahullah, ia berkata:

مَرَّ عُمَرُ عَلَى مَزْبَلَةٍ فَاحْتَبَسَ عِندَهَا، فَكَأَنَّهُ شَقَّ عَلَى أَصْحَابِهِ وَتَأَذَّوْا بِهَا فَقَالَ لَهُمْ : هَذِهِ دُنْيَاكُمْ الَّتِي تَحْرِصُونَ عَلَيهَا

“Umar bin Khattab pernah melewati sebuah tempat sampah, lalu ia berdiam sejenak di sana, sehingga para sahabatnya merasa terganggu dengan baunya, lantas Umar pun berkata kepada mereka, ‘Inilah dunia yang kalian rebutkan.’” (Az-Zuhd Imam Ahmad: 97)

Dari Ibrahim bin Muhammad al-Muntasyir, dia mengatakan:

كَانَ مَسْرُوقٌ يَرْكَبُ كُلَّ جُمُعَةٍ بَغْلَةً لَهُ وَيَحْمِلُنِي خَلْفَهُ ثُمَّ يَأْتِي كُنَاسَةً بِالْحيرةِ قَدِيمَة فَيَجْعَلُ عَلَيْهَا بَغْلَتَهُ ثُمَّ يَقُولُ : الدُّنْيَا تَحْتَنَا

Setiap hari Jum’at Masruq biasa menunggang baghal dan memboncengku di belakangnya, kemudian dia mendatangi tempat pembuangan sampah tua di Hirah, lalu dia menaikkan baghalnya ke atasnya kemudian mengatakan: “Dunia ada di bawah kita.” (Hilyah al-Auliya’: 2/96)

Maka carilah orang-orang seperti Umar dan Masruq, orang-orang yang dapat mengingatkan kita tentang hakikat dunia, berteman dengan mereka dan jangan lepaskan, sehingga kita dapat ikhlas beramal hanya untuk mengharapkan ganjaran akhirat.

Penutup

Mari bersama-sama membersihkan hati dari segala kecenderungan untuk pamer. Tahanlah jari-jemari dari keinginan mengunggah rutinitas ibadah ke media sosial apabila hati masih rapuh terhadap pujian. Biarlah ibadah-ibadah mulia tersebut menjadi rahasia yang indah antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan keikhlasan dalam setiap amal perbuatan kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Semoga bermanfaat

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !