Tiga Kiat Menggapai Kebahagiaan Hakiki – Khutbah Jumat

إِنَّ الْـحَمْدَ الِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ ٱاللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱاللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا ٱالَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ اٱلـحَدِيثِ كِتَابُ ٱللَّهِ، وَخَيْرَ ٱالهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي ٱالنَّارِ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Pada awal Februari 2026 lalu, orang terkaya di dunia menuliskan sebuah kalimat singkat yang menghentak dunia, ia berkata: Siapa pun yang mengatakan ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan’ benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan).

Ucapan ini jika diucapkan oleh orang biasa -seperti kita- pasti tidak akan menarik perhatian dunia, tidak akan ada yang percaya. Namun, kalimat ini keluar dari seseorang yang nilai hartanya lebih dari 14.000 triliun rupiah. Makanya menghebohkan dunia.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Semua orang mencari ketenangan dan kebahagiaan. Namun ada yang sampai, ada juga yang tidak. Islam sebagai agama yang sempurna, sebenarnya telah merinci kepada manusia bagaimana cara menggapai kebahagiaan yang hakiki ddi dunia dan akhirat. Ada 3 point penting yang diajarkan oleh Islam untuk mengapai kebahagiaan, yaitu:

Pertama: Bahagia Itu di Hati, Bukan pada Materi

Sebagai seorang muslim, untuk mempercayai bahwa bahagia itu ada di hati bukan pada harta, kita tidak perlu menunggu pernyataan orang terkaya, non muslim. Karena Rasulullah telah mengabarkan sejak dahulu tentang hal itu. Dan sabda Nabi adalah wahyu dari Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya (kebahagiaan) itu bukanlah dengan banyaknya harta benda. Akan tetapi kaya (kebahagiaan) yang sesungguhnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari: 6081)

Dahulu para ulama pencari hadits yang berkelana ke penjuru dunia, rata-rata mereka adalah miskin, tidak ada makanan selain roti kering. Setiap mereka hendak makan maka roti itu harus mereka celupkan ke air terlebih dahulu. Namun mereka adalah orang-orang yang bahagia. Sampai-sampai sebagian mereka berkata:

لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ مِنَ السُّرُورِ وَالنَّعِيمِ إِذًا لَجَالَدُونَا عَلَى مَا نَحْنُ فِيهِ بِأَسْيَافِهِمْ أَيَّامَ الْحَيَاةِ عَلَى مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ لَذَّةِ الْعَيْشِ وَقِلَّةِ التَّعَبِ

Seandainya para raja dan putra-putra raja mengetahui kebahagiaan dan kenikmatan yang sedang kita rasakan saat ini, niscaya mereka akan memerangi kita dengan pedang-pedang mereka demi merebut apa yang kita rasakan; atas kelezatan hidup dan minimnya beban (pikiran/ambisi) ini’.” (Hilyah Al-Auliya’: 7/371)

Jika hati penuh dengan kebahagiaan maka materi akan mengikuti, hidup akan terasa indah meskipun kita tidak memiliki uang. Sebaliknya jika hati tidak bahagia, materi tidak ada gunanya meski anada punya uang 14.000 triliun

Kedua: Kebahagiaan Sejati Ada Pada Ibadah Kepada Allah

Hati manusia diciptakan oleh Allah, maka hanya Allah yang tahu cara menentramkannya. Sebagaimana jasad butuh makan dan minum maka hati kita juga, dan makan minum hati adalah mengenal dan mengingat Allah, beriman, bertauhid serta beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Semua bentuk ibadah akan mendatangkan kebahagiaan. Oleh karenanya, kebahagiaan sejati hanya bisa dirasakan oleh seorang muslim. Orang kafir tidak akan pernah merasakan kebagaian sejati, karena mereka tidak beriman kepada pemilik kebahagiaan (Allah), meskipun kita melihat hidup mereka bahagia, punya harta banyak, bisa melakukan apa saja. Hati mereka kosong, dan itu buktinya orang terkaya di dunia hari ini pun mengatakan uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Kebahagiaan tang jika kita menyembah Allah dan menjadikan ambisi serta kerinduan kita adalah akhirat. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Barangsiapa yang niat utamanya adalah akhirat (fokus beribadah dan mencari ridha Allah), maka Allah akan menjadikan kecukupan/kekayaan di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan mendatangi dirinya dalam keadaan tunduk. (HR. Tirmidzi no. 2465, dishahihkan oleh Al-Albani)

Nabi ﷺ menjadikan ibadah shalat sebagai sarana untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan terbesar di dunia, beliau bersabda kepada Bilal:

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ، أَرِحْنَا بِهَا

Wahai Bilal, kumandangkanlah iqamah untuk shalat, istirahatkanlah kami dengannya (peroleh ketenangan jiwa melalui shalat). (HR. Abu Dawud no. 4985, dishahihkan oleh Al-Albani)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Ketiga: Kebahagiaan Ada Pada Syukur

Merasa cukup dan ridha terhadap pemberian Allah kemudian mensyukuri semua nikmat yang dirasa, tanpa membandingkan dengan nikmat orang lain yang lebih banyak, inilah sebab terbesar kebahagian dan kedamaian hidup. Karenanya Rasulullah ﷺ bersabda:

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Dan ridhalah terhadap pembagian Allah untuk dirimu maka engkau akan menjadi manusia yang paling kaya (bahagia).” (HR. Tirmidzi: 2305, ash-Shahihah: 2/637)

Penyebab utama kita merasa tidak bahagia adalah karena kita selalu melihat ke atas. Menjadikan dunia sebagai patokannya sedangkan dunia tidak akan pernah ada habisnya, karenanya kita tidak akan pernah benar-benar sampai pada kebahagiaan.

Kita yang punya motor tidak akan pernah bahagia jika selalu melihat orang lain yang memiliki mobil. Kita yang masih mengontrak tidak akan pernah bahagia jika selalu melihat yang sudah punya rumah, dst. Dan jika kita sudah punya mobil dan rumah pun kita akan melihat lebih atas lagi. Begitu seterusnya.

Tapi cobalah berhenti lalu lihat orang-orang di luar sana yang keadaan hidup mereka berada di bawah kita maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia. Jika kita selalu melihat ke bawah maka kita akan selalu bersyukur dan syukur akan membuat kita selalu bahagia, karenanya Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih baik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah.” (HR. Muslim: 2963)

Nabi ﷺ adalah manusia yang paling bahagia baik di dunia dan akhirat nanti. Karena beliau adalah manusia yang paling pandai bersyukur kepada Allah. Hidup beliau penuh dengan syukur. Ibunda Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ»، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»

Rasulullahﷺ  apabila melihat hal yang beliau sukai, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus-shalihat” (Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna). Dan apabila beliau melihat hal yang tidak beliau sukai, beliau mengucapkan: “Alhamdulillah ‘ala kulla hal” (Segala puji bagi Allah atas segala keadaan). (HR. Ibnu Majah no. 3803, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Maka marilah penuhi hidup kita dengan syukur kepada Allah. Mendekat kepada Allah dengan menambah kualitas iman dan ibadah kepada-Nya maka kita akan menjadi manusia paling bahagia.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud, Arab Saudi (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button