FUDHAIL BIN ‘IYADH – Ikutilah Jalan Kebenaran Meski Sedikit Penempuhnya

Al-Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah,  seorang imam zaman tabi’in pernah mengatakan:

اِتَّبِع طُرُقَ الهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ

“Ikutilah jalan petunjuk (kebenaran) karena tidak akan merugikanmu sedikitnya orang yang berjalan di atasnya dan hati-hatilah engkau dari jalan kesesatan dan jangan engkau terpedaya dengan banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom: 1/112)

________________________

Kita harus terus berusaha meniti jalan kebenaran meski jalan itu tidak landai, penuh dengan onak dan duri. Karena memang demikian karakteristik jalan menuju surga yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga diliputi oleh sesuatu yang dibenci sedangkan neraka diliputi oleh syahwat.” (HR. Muslim: 7308)

Tidak perlu bersedih hati dengan sedikitnya orang yang menempuh jalan ini. Sebab, banyaknya orang bukanlah jaminan kebenaran, dahulu yang menjadi pengikut para nabi ada yang hanya satu atau dua orang saja, bahkan ada yang tidak ada sama sekali. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Telah diperlihatkan umat-umat kepadaku. Maka aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil, ada lagi nabi yang disertai seorang atau dua orang dan ada pula nabi yang tidak disertai seorang pun. (HR. Muslim: 220)

Jadi betul bahwa banyaknya orang bukanlah tolak ukur kebenaran, bahkan Allah dalam beberapa ayat justru melarang kita mengikuti banyak orang. Allah berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ الله

“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Oleh sebab itu, jangan terpedaya dengan banyaknya orang karena kebenaran bukan diukur dari hal itu. Kebenaran adalah dengan al-Qur’an dan hadits yang di dipahami dengan pemahaman salafush shalih, bukan banyaknya orang. Teruslah meniti jalan kebenaran dan tidak perlu risau jika yang menempuh jalan itu hanya sedikit orang.

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp chat