Beranda / Artikel Salayok / Jangan Terlampau Banyak Berhutang Budi Pada Orang Lain

Jangan Terlampau Banyak Berhutang Budi Pada Orang Lain

Salah satu prinsip hidup yang harus kita miliki sebagai seorang muslim adalah “Jangan terlampau banyak berhutang budi pada orang lain.” Sebab, semakin banyak kita berhutang budi maka semakin sulit kita mengangkat kepala.

Betul, syariat mengajarkan kepada kita untuk tidak menolak kebaikan yang diberikan oleh orang lain. Meskipun yang diberi itu adalah hal yang remeh, kecil, tidak berharga di mata banyak manusia, terima jangan ditolak.

Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa syari’at juga mengajarkan untuk membalas kebaikan orang lain. Semua kebaikan apa pun bentuknya sebisa mungkin dibalas; dengan yang lebih baik, atau semisal atau minimalnya dengan do’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, apabila kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka do’akanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya.” (HR. Abu Dawud: 1672)

Apa fungsinya membalas kebaikan orang lain? Banyak sekali, salah satunya adalah agar kita tidak terlalu banyak berhutang budi kepada orang yang akhirnya menjadikan kita pribadi yang tidak merdeka.

Jika kita terlampau banyak berhutang budi maka ada kalanya kebenaran yang kita tahu itu benar, akan tetapi tidak dapat kita sampaikan kepada seorang dikarenakan teringat dengan hutang budinya atas diri kita.

Kebaikannya terlalu banyak kepada kita, sehingga ketika dia keliru, lidah kita menjadi kelu untuk dapat meluruskannya, karena kita sungkan dan merasa “tidak enak.” Inilah yang diingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, beliau berkata:

أَنَّ الإِنْسَانَ يَكْسِرُ بِهَا الذُّلَّ الَّذِي حَصَلَ لَهُ بِصَنْعِ المَعْرُوفِ إِلَيْهِ ، لِأَنَّ مَنْ صَنَعَ إِلَيْكَ مَعْرُوْفًا فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُوْنَ فِي نَفْسِكَ رِقَّة لَهُ ، فَإِذَا رَدَدْتَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفَهُ زَالَ عَنْكَ ذَلِكَ

Dengan membalas kebaikan, seorang dapat menghilangkan rasa rendah diri yang terjadi padanya dikarenakan kebaikan orang lain atas dirinya. Sebab seorang yang berbuat baik kepadamu pasti menimbulkan rasa sungkan di dalam dirimu terhadapnya, jika engkau membalas kebaikannya maka akan hilang perasaan tersebut.” (Al-Qaulul Mufid: 2/354)

Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim kita harus punya prinsip. Jangan meminta-minta, jika diberi terima, kemudian balas kebaikan orang lain tersebut sebisa mungkin. Agar kita tidak terlampau banyak berhutang budi kepadanya. Sehingga kita senantiasa menjadi pribadi yang merdeka.

Baca juga Artikel:

Bergaul dan Sabar

Pondok Jatimurni BB 3 Bekasi, Rabu, 11 Syawwal 1441H/ 3 Juni 2020 M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Halalkah Daging Impor Dari Negara Non-Muslim?

Kersediaan daging yang terbatas sedangkan kebutuhan besar, menyebabkan sebagian negara Muslim harus mengimpor daging dari …

Tulis Komentar

WhatsApp chat