Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / KITABUT TAUHID BAB 45 – Barangsiapa Mencaci Masa Maka Dia Telah Menyakiti Allah

KITABUT TAUHID BAB 45 – Barangsiapa Mencaci Masa Maka Dia Telah Menyakiti Allah

Firman Allah :

قَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّون

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita kesuali masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiah: 24)

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: يُؤْذِيْنِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ، وفي رواية: لاَ تَسُبُّوْا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

“Allah berfirman: “Anak Adam (manusia) menyakiti Aku, mereka mencaci masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti”. Dan dalam riwayat yang lain dikatakan: “Janganlah kalian mencaci masa, karena Allah adalah Pemilik dan Pengatur masa.”

Kandungan bab ini:

1. Larangan mencaci masa.
2. Mencaci masa berarti menyakiti Allah.
3. Perlu renungan akan sabda Nabi: “Karena Allah sesungguhnya adalah Pemilik dan Pengatur masa.”
4. Mencaci mungkin saja dilakukan seseorang, meskipun ia tidak bermaksud demikian dalam hatinya.

=================================

Muhasabah bab dengan Kitabut Tauhid

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: “Munasabah (kesesuaian) bab dengan Kitabut Tauhid adalah bahwasanya mencela masa mengandung kesyirikan karena orang yang mencela masa apabila menyakini bahwa masa itu pelaku yang sama kedudukan dengan Allah maka dia adalah seorang musyrik.” (Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitabit Tauhid: 339)

Allah dapat tersakiti tapi tidak dapat dimudharati

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Allah tersakiti dengan sebagian perbuatan dan ucapan hamba-Nya yang di dalamnya terdapat kejahatan terhadap hak-Nya, akan tetapi Allah tidak termudharati dengan hal itu karena tidak ada sesuatu pun yang dapat memudharati Allah. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.(QS. Ali Imran: 177)

Dalam hadits qudsi Allah berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي

“Hai hamba-Ku, kamu sekalian tidak akan dapat menimpakan mudharat sedikitpun kepada-Ku, sehingga kamu dapat memudharatiku.” (HR. Muslim: 2577)

Maka harus dibedakan antara memudharati dengan menyakiti.” (I’anatul Mustafid: 2/241)

Suka mencaci, berkeluh kesah dan mencela masa adalah sifat buruk manusia di setiap zaman

Buya HAMKA pernah mengatakan: “Di dalam syair-syair Arab, dalam pusaka 1.000 tahun yang telah lalu, terdapat syair-syair yang nadanya menyesali zaman itu. Hal itu menandakan bahwa menyesali zaman ialah penyakit manusia pada tiap-tiap zaman. Mereka menyesali zamannya dan memuji zaman yang telah lalu. Kita yang seribu tahun di belakang menyesali zaman kita dan mengingat-ngingat zaman yang dikutuki oleh orang yang hidup di zaman itu pula. Demikianlah berturut-turut, orang mengutuki zamannya. Padahal, zaman tak bersalah, melainkan manusia sendiri yang bersalah.”  (Falsafah Hidup hal: 196-197)

Manusia diciptakan dengan beragam sifat dan karakter. Di antara sifat buruk manusia adalah sering berkeluh kesah dan tidak pernah merasa puas. Bahkan dalam setiap kondisi, baik saat lapang maupun saat sempit. Allah berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Bila mendapatkan kebaikan ia menjadi bakhil.” (QS. al-Ma’arij: 19-21)

Dari watak suka berkeluh kesah ini, muncul satu sifat yang amat tercela yaitu sifat suka mencela. Jika dicermati, nyaris tidak ada yang lepas dari celaan manusia. Mulai dari hal sepele sampai hal yang besar.

Di antara yang sering dicela manusia adalah zaman. Mereka memperlakukan zaman seolah zamanlah yang menjadi sebab dari segala ketidaknyamanan hidup. Pergantian hari, bulan, tahun, cuaca, iklim, suasana, dst, selalu disertai dengan celaan. Baik dengan terang-terangan maupun dengan indikasi.

Di setiap generasi, ada saja orang yang mengutuki zamannya. Dia tidak puas dengan zamannya itu. Orang-orang yang hidup sekarang mencela zamannya, lalu menyanjung zaman yang lalu. Padahal zaman yang lalu itu pun dicela oleh orang-orang yang hidup di zaman itu. Sehingga, tidak ada satu zaman pun yang kosong dari celaan.

Mafsadat mencela masa

Sebagai seorang muslim, kita harus mengetahui bahwa mencela zaman adalah suatu yang terlarang dan tidak layak, baik secara syariat maupun secara akal sehat.

Di antara yang menunjukkan hal di atas adalah:

1. Mencela sesuatu yang tidak berhak untuk dicela

Masa atau waktu adalah makhluk Allah yang akan berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya. Dia tidak bersalah sehingga berhak untuk dicela. Makanya Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan:

نَعِيبُ زَمَانَنَا وَالعَيْبُ فِينَا ** وَمَا لِزَمَانِنَا عَيْبٌ سِوَانَا
وَنَهجُو ذَا الزَّمَانَ بِغيرِ ذَنْبٍ ** وَلَوْ نَطَقَ الزَّمَانُ لَنَا هَجَانَا

Kita mencela zaman kita, padahal celaan itu ada pada diri kita. Zaman kita tidaklah memiliki aib selain kita. Kita mencela zaman tanpa dosa, seandainya zaman bisa bicara niscaya ia akan balik mencela kita. (Diwan Asy-Syafi’i: 106)

Mencela sesuatu yang tidak berhak untuk dicela, mencaci sesuatu yang tidak bersalah tentu adalah sebuah kezaliman. Sedangkan kezaliman pasti mencelakakan. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

  اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Hindarilah kezaliman, karena kezaliman itu adalah mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari: 2447, Muslim: 2578)

2. Mencela Allah

Saat seorang mencela satu makanan karena makanan tersebut tidak enak misalnya, pada hakikatnya ia sedang mencela tukang masaknya. Meskipun dia tidak mengungkapkannya. Begitu pula ketika seorang mencela zaman, pada dasarnya dia sedang mencela yang menciptakan zaman tersebut. Berarti, sadar atau tidak, dia sedang mencela Allah. Oleh sebab itu, Allah akan tersakiti jika ada hamba-Nya yang mencela zaman atau masa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Allah berfirman: ’Anak Adam telah menyakiti-Ku. Ia mencela masa padahal Akulah (yang menciptakan) masa. di tangan-Ku segala urusan, Akulah yang membolak-balikan malam dan siang.’” (HR. Bukhari: 4826, Muslim: 2246)

3. Menyerupai orang-orang jahiliyah

Mencela zaman adalah perangainya orang-orang jahiliyah. Allah berfirman:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّون

Dan mereka berkata: ’kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’ Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” (QS. al-Jatsiyah: 24)

Ibnu Jarir menyebutkan sebuah riwayat, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Orang-orang jahiliyyah dahulu mengatakan: ‘Yang membinasakan kita hanyalah malam dan siang. Itulah yang membinasakan kita, mematikan serta menghidupkan kita.’ Maka Allah berfirman: “Dan mereka berkata….(Al-Jatsiyah 24).” (Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayil Qur’an: 22/79)

Sedang kita dilarang untuk menyerupai (tasyabbuh) dengan mereka, dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa bertasyabuh dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud: 4031)

4. Tidak merubah keadaan hanya menambah kekesalan

Jika direnungkan lebih dalam,  mencela zaman adalah perbuatan yang sia-sia. Celaan tidak akan mengubah keadaan sedikit pun. Bahkan justru menambah sesak dada. Udara tidak akan berubah jadi dingin ketika kita mencelanya karena panas. Hari-hari takkan kembali saat kita mengeluhkannya karena cepatnya ia berlalu. Lantas apa gunanya celaan itu?

Al-Mu’afa bin Sulaiman pernah berjalan kaki bersama seorang temannya. Lalu temannya itu bergumam: “Dingin sekali hari ini?!”
“Apakah kau sudah merasa hangat sekarang?” sahut Al-Mu’afa “Tidak,” jawabnya. Al-Mu’afa berkata: ”Jadi apa gunanya memaki?! Seandainya engkau membaca tasbih, pasti lebih baik.” (Istamti’ Bihayatik hal. 244)

Perincian hukum mencela masa

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, mencela masa hukumnya terbagi menjadi tiga:

Pertama, jika maksudnya semata-mata hanya mengabarkan, tidak dimaksudkan untuk mencela, maka hal ini diperbolehkan. Misalnya perkataan seseorang, “Cuaca hari ini sangat panas sehingga membuat kita sangat lelah.” Atau, “Hari ini suhunya sangat dingin sehingga kita letih.” atau ucapan yang semisal, karena setiap amal itu tergantung pada niatnya. Seperti ucapan ini boleh karena hanya sekedar khabar. Semisal dengan hal ini adalah ucapan Nabi Luth ‘alaihis salaam:

هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

“Ini adalah hari yang amat sulit.” (QS. Huud: 77)

Kedua, mencaci masa karena adanya keyakinan bahwa dia-lah yang menjadi pelaku kebaikan dan keburukan di dunia ini. Seperti keyakinan bahwa masa-lah yang membolak-balik perkara antara kebaikan dan keburukan. Perbuatan ini termasuk dalam kemusyrikan syirik akbar, karena berarti bahwa orang tersebut meyakini adanya sang Pencipta selain Allah Ta’ala. Siapa saja yang meyakini adanya pencipta yang lain di samping Allah Ta’ala, maka dia telah kafir.

Ketiga, mencela masa bukan karena meyakini bahwa masa-lah pelaku. Dia meyakini bahwa yang mentakdirkan adalah Allah akan tetapi dia mencela masa karena masa itulah yang berkaitan langsung dengan kejadian, peristiwa, atau keburukan yang dia alami. Perbuatan semacam ini diharamkan, meskipun tidak sampai kepada derajat kemusyrikan. Karena pada hakikatnya, celaan tersebut kembali kepada Allah, sebab Allah-lah yang mengatur masa, mengisinya dengan kebaikan dan keburukan bukan masa tersebut yang melakukan. Celaan seperti ini tidak sampai kafir karena dia tidaklah mencela Allah Ta’ala secara langsung. (Al-Qaulul Mufiid: 2/240)

Ad-Dahr bukan nama Allah

Firman Allah dalam hadits qudsi diatas:

وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Aku adalah masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti.”

Imam Al-Khaththabi dalam kitab A’lam Al-Hadits fi Syarh Shahih al-bukhari mengatakan:

قوله: أنا الدهر، معناه أنا صاحب الدهر، ومدبر الأمور التي تنسبونها إلى الدهر، فإذا سب ابن آدم الدهر من أجل أنه فاعل هذه الأمور، عاد سبه إلي

firman-Nya “Aku adalah masa,” maksudnya adalah Aku adalah pemilik masa, pengatur semua perkara yang kalian nisbatkan kepada masa. Apabila anak Adam mencela masa dengan keyakinan bahwa dia pelaku dari semua perkara ini maka celaan itu kembali kepada-ku.”

Ad-Dahr (masa) bukan termasuk nama Allah, karena jika seandainya Ad-Dahr adalah salah satu nama Allah tentu ucapan orang-orang Jahiliyah yang dihikayatkan oleh Allah:

وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali ad-Dahr,” (QS. Al Jatsiah: 24)

Menjadi ucapan yang benar, namun ternyata Allah mengingkari. Ini menunjukkan bahwa Ad-Dahr bukan termasuk nama Allah. Lihat

Hukmu Sabbi Ad-Dahr wa Al-Yaum

#semoga bermanfaat, selesai ditulis di rumah mertua tercinta, Jatimurni Bekasi, Rabu, 6 Nov 2019

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

Hukum Mencela Masa

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, mencela masa hukumnya terbagi menjadi tiga: Pertama, jika maksudnya …

Tulis Komentar

WhatsApp chat