Beranda / Fawa'id / Manakah yang Lebih Berhak Jadi Imam; Mahir Al-Qur’an Tapi Tidak Fakih ataukah Fakih Tapi Tidak Mahir Al-Qur’an?

Manakah yang Lebih Berhak Jadi Imam; Mahir Al-Qur’an Tapi Tidak Fakih ataukah Fakih Tapi Tidak Mahir Al-Qur’an?

Idealnya seorang imam shalat adalah orang yang paham ilmu agama; akidah, fikih, memahami bahasa Arab sehingga ia paham bacaan shalat, sekaligus mahir dalam ilmu al-Qur’an baik dari segi banyaknya hafalan ataupun baiknya bacaan.

Di zaman kita ini, tentu sering terjadi sebuah masjid tidak ada sosok yang pantas menjadi imam ideal. Yang ada seorang yang banyak hafalan Al-Qur’annya, bagus pula bacaannya, baik dari sisi tajwid ataupun suaranya, namun dia termasuk awam dalam ilmu selain ilmu Al-Qur’an. Ia tidak memahami fikih, akidah, tidak mengusai bahasa arab, dst.

Disisi lain disana juga ada seorang ustadz mumpuni ilmu keagamaannya. Ia menguasai fikih, akidah, tafsir, bahasa arab, dst, tetapi bacaan Al-Qur’annya tidak sebagus orang yang pertama.

Kalau kita sebagai pengurus masjid, kira-kira siapakah yang akan kita minta untuk menjadi imam?

Berikut adalah sedikit pembahasan tentang siapa yang lebih didahulukan untuk menjadi imam antara Aqra’ (orang yang lebih mahir dalam Al-Qur’an) dan Afqah (orang yang lebih fakih).

Dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat, menjadi dua, yaitu:

Pendapat pertama, lebih didahulukan orang yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya (Aqra’) daripada orang yang fakih (Afqah). Ini adalah madzhab Hanbali dan Hanafi. Dengan dalil zahir dari hadits, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ

Yang berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan kitabullah (Al-Qur’an), jika dalam bacaan kapasitasnya sama, maka yang paling tahu terhadap sunnah.” (Muslim:673)

Dan disebutkan pula dalam sebuah riwayat dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Umar, ia berkata:

لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ الْعُصْبَةَ مَوْضِعٌ بِقُبَاءٍ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَؤُمُّهُمْ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَكَانَ أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا

Ketika rombongan kaum Muhajirin angkatan yang pertama tiba di Ushbah (sebuah tempat di Quba’), sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mengimami mereka adalah Salim maula Abi Hudzaifah, dia adalah orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya diantara mereka. (HR. Bukhari: 692)

Pendapat kedua, didahulukan orang yang lebih fakih (Afqah) daripada yang Aqra’. Ini adalah madzhab Maliki dan Syafi’i alasannya adalah:

1. Dia lebih memahami fikih shalat, sehingga ia dapat menunaikannya sesuai dengan yang disyari’atkan. Bisa saja terjadi sesuatu dalam shalat, seorang yang fakih tentu akan mengerti apa yang harus dilakukan, berbeda dengan Aqra’ yang hanya mahir membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti ilmu fikih.

2. Orang yang fakih biasanya lebih bertakwa.

Mana pendapat yang lebih kuat? Syaikh Prof. Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan hafizhahullah mengatakan:

والقول الراجح هو القول الثاني، وأن الأفقه مقدم على الأقرأ، وأما قول النبي صلى الله عليه وسلم «يؤم القوم أقرئهم لكتاب الله»، فمحمول على أن الأقرأ في عهد النبي صلى الله عليه وسلم هو الأفقه، فكان الصحابة أقرؤهم أفقههم، لأنهم كانوا لا يتجاوزون عشرة آيات حتى يتعلموها وما فيها من العلم والعمل

Pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat kedua dimana seorang yang lebih fakih (Afqah) lebih didahulukan daripada seorang yang hanya mahir dalam Al-Qur’an (Aqra’). Adapun sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

“Yang berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan kitabullah (Alquran).” (Muslim:673)

Maknanya dibawa kepada bahwasanya seorang Aqra’ di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah juga seorang Afqah. Para sahabat adalah orang-orang yang paling menguasai Al-Qur’an sekaligus paling fakih. Karena mereka tidaklah melewati sepuluh ayat dari al-Qur’an kecuali mereka mempelajari ilmu yang terkandung dalam ayat-ayat itu dan mengamalkannya.”

Beliau hafizhahullah melanjutkan:

فالأقرب والله أعلم أن الأفقه أنه مقدم، ثم إنه لا يكون أصلًا أفقه إلا إذا كان حافظًا للقرآن أو لكثير من القرآن، أما أن يأتي مثلًا أقرأ وربما يكون حليقًا، ربما يكون يعني عليه بعض المظاهر مظاهر التقصير، ويأتي ويجتمع مع الإنسان الفقيه. فنقول يقدم هذا على هذا؟ يعني يخالف الأصول والمقاصد الشرعية

وأما حديث ابن مسعود فيحمل على ما كان عليه الناس في زمن النبوة، وأن الأقرأ هو الأفقه، أما في وقتنا الحاضر حصل شيء يعني الاختلاف، أصبح ليس الأقرأ دائمًا هو الأفقه، قد يكون فقط ليس له اهتمام إلا بالقراءة فقط، ليس له اهتمام بأمور أخرى.

Pendapat yang lebih dekat (pada kebenaran) wallahu a’lam adalah Afqah lebih didahulukan. Lagi pula hukum asal seorang tidak dikatakan fakih kecuali telah hafal Al-Qur’an atau sebagian besarnya. Adapun jika yang datang seorang yang menguasai al-Qur’an tetapi mencukur jenggotnya, atau terlihat tanda-tanda taqshir (meremehkan agama) lalu berkumpul dengan seorang yang fakih, lalu kita katakan lebih didahulukan orang tersebut daripada si-fakih? Tentu ini menyelisihi hukum asal dan Maqashid Syaria’ah.

Berkenaan dengan hadits Ibnu Mas’ud maka dibawa pada makna keadaan manusia di zaman Nabi bahwa seorang yang Aqra’ adalah Afqah. Adapun zaman kita sekarang telah terjadi perubahan dimana seorang yang Aqra’ tidak selamanya adalah seorang yang Afqah juga. Bisa jadi perhatiannya hanya pada ilmu qira’ah saja, tidak perhatian terhadap ilmu-ilmu yang lain.

Referensi: Diringkas dari penjelasan Syaikh Prof. Dr. Sa’ad bin Turki Al-Khatslan hafizhahullah di situs resmi beliau dengan judul Idza Ijtama’a Al-Aqra’ wa Al-Afqah Faayyuhuma Yuqaddam?

Baca juga Artikel:

Enam Keutamaan Shalat Berjama’ah

Pondok Jatimurni BB 3 Bekasi, Senin, 16 Syawwal 1441H/ 8 Juni 2020 M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Ushul Tsalatsah – Landasan Pertama: Mengenal Rabb

Pada bagian ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan tentang makna dari Rabb dan …

Tulis Komentar

WhatsApp chat