Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Rumah Adalah Madrasah Pertama Balita Anda

Rumah Adalah Madrasah Pertama Balita Anda

Edisi yang lalu telah dibahas “Siapa Pendidik Pertama Buat Balita?” hal ini sangat penting diilmui oleh bapak dan ibu, agar menjadi pendidik yang diridhai oleh Allah, pendidik yang Islami, berakhlak mulia dan pendidik yang berbarakah.

Selanjutnya, kira-kira materi apa yang harus disajikan kepada anak usia balita? Karena umur ini bagikan kertas putih, belum tergores oleh tinta syirik, bid’ah dan akhlak yang tercela. Mereka insya Allah, lebih mudah menerima nasihat. Karena itulah hendaknya orang tua memberikan fondasi bagi anak dengan materi yang sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Inilah beberapa materi yang harus kita ajarkan kepada mereka:

Materi Tauhid

Maksudnya bagaimana anak mengenal Allah. Mungkin dengan kalimat yang pendek, semisal, “Allah di atas ‘Arsy”, “Allah Maha Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur semua alam”, “Hanya Allah yang wajib kita takuti”, “Kita hanya boleh meminta kepada kepada Allah saja”, “Nak, jangan nakal! Allah Maha tahu apa yang dikerjakan oleh hamba, lho” dan kalimat semisalnya. Demikian juga kita dapat kenalkan nama para utusan Allah. Ibnu Abbas berkata. “Pada suatu hari aku berada di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda,

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Wahai anak muda, peliharalah (hak) Allah niscaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah (hak) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya berada di hadapanmu (melindungimu). Jika kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. (Shahih: al-Misykāh: 5302 dan Zhilālul Jannah: 316-318)

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkata: “Memohon kepada Allah adalah doa, sedangkan doa adalah ibadah. Orang Islam hendaknya beribadah hanya kepada Allah saja, tidak meminta apa yang menjadi kebutuhan hidupnya dan urusan akhiratnya kecuali kepada-Nya.”

Pelajaran Shalat

Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah dua syahadat. Shalat juga tiangnya agama. Shalat menjalin hubungan antara makhluk dengan Allah. Ia akan mendidik insan agar mengenal Rabbnya. Karena itu sang ibu atau bapak tidak tercela apabila menggendong anaknya pada saat mengerjakan shalat, tentunya bila dalam keadaan terpaksa. Bukankah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat pernah menggendong cucunya? Ini menunjukkan bahwa hendaknya anak dikenalkan tentang kewajiban shalat semenjak dini.

Abu Qatadah al-Anshari berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah shalat dengan menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Dalam riwayat Abu al-Ash bin Rabi’ah bin Abdu Syams, ia menyebutkan, “Jika sujud, beliau letakkan anak itu dan bila berdiri, beliau gendong lagi.” (HR. al-Bukhari: 486)

Seandainya shalat ini tidak penting bagi anak kecil, tentu beliau melarang wanita shalat membawa anaknya. Akan tetapi, Syarik bin Abdullah berkata, “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, ‘Belum pernah aku shalat di belakang seorang imam pun yang lebih ringan dan lebih sempurna shalatnya daripada Nabi. Jika mendengar tangisan bayi, maka beliau ringankan shalatnya, karena khawatir ibunya akan terkena fitnah.” (HR. al-Bukhari: 667)

Lagipula Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ

‘Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat bila telah berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka bila berumur sepuluh tahun (bila meninggalkannya).” (Hasan Shahih, HR. Abu Dawud: 494)

Akhlak Kepada Orang Tua

Walaupun anak masih berusia dini, hendaknya dididik agar menghormati orang tua. Menghormati dan mendahulukan yang lebih tua, tidak melawan orang tua, tidak membentak dan bertindak kasar serta belas kasih kepada yang lebih muda. Dari Abdullah bin Amr dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda dan tidak mengetahui hak orang yang lebih tua di antara kami, maka ia bukan dari golongan kami.” (Shahih, at-Tirmidzi: 2002)

Etika Makan dan Minum

Makan dan minum merupakan kebutuhan pokok setiap hari. Maka dari itu orang tua harus mengajari beberapa etika Islam saat dia makan dan minum. Ajari doa sebelum dan sesudah makan, tidak membuang makanan, tidak menghina makanan, tidak makan atau minum dengan tangan kiri serta tidak mengambil hak temannya. Umar bin Abu Salamah berkata, “Sewaktu aku masih kecil dan berada dalam asuhan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tanganku berputar-putar di nampan saat makan, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:


يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِي

‘Nak, bacalah Bismillah. Makan dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.’ Maka seperti itulah cara makanku setelah itu.” (HR. al-Bukhari 18/102)

Ibnu Baththal berkata, “Jika makanan beraneka macam dan di tempat berbeda-beda, boleh kita mengambil sekalipun bukan yang di depan kita.” (Syarh Ibni Baththāl 18/71)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak membiarkan seorang anak menyelisihi sunnah ketika makan, karenanya beliau menunjukkan cara makan yang benar, bukan memarahinya. Inilah teladan beliau bagaimana cara menasihati anak kecil bila bersalah. Jika anak makan dan minum dengan tangan kiri, orang tua hendaknya melarangnya dan menyuruh makan dengan tangan kanan. Mengapa demikian? Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Apabila seseorang di antaramu makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya. Apabila ia minum, hendaklah minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim: 1303)

Akhlak Kepada Keluarga

Agar anak tidak terbiasa “panjang tangan”, semisal ketika melihat anak sedang makan, sedangkan orang tua tidak merasa memberinya, hendaknya ditanya. Boleh jadi dia mengambil milik teman atau saudaranya. Jika demikian, hendaknya dinasihati. Jika dia mampu mengembalikan, hendaknya dia yang mengembalikan dan meminta maaf. Dengan demikian anak terlatih menjauhi perbuatan yang hina. Abu Hurairah berkata, “Hasan bin Ali (cucu Rasulullah) pernah mengambil sebiji kurma yang berasal dari zakat, lalu ia menelannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun berkata:

كِخْ كِخْ ارْمِ بِهَا أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ

‘Kikh! Kikh! Muntahkan! Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya kita dilarang memakan harta zakat?’” (HR. Muslim: 518)

An-Nawawi berkata, “Anak kecil diperlakukan seperti orang tua. Bila salah tidak boleh dibiarkan, akan tetapi hendaknya orang tua atau walinya yang menasihati mereka.” (Syarh Shahīh Muslim 4/33)

Takut Kepada Adzab Allah

Apabila anak kecil melakukan pelanggaran -sekalipun belum menanggung dosa-, orang tua tidak boleh membiarkan, akan tetapi wajib menasihati dan meluruskannya. Jika dia melawan, perlu diberi cerita atau kisah orang yang menolak sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika membandel dan membantah, tidak boleh dicaci atau dirusak fisik dan akalnya. Semisal saat anak dinasihati jangan makan dengan tangan kiri, tapi dia enggan makan dengan tangan kanan. Orang tua tidak boleh memukul tangannya, cukup bacakan kisah Salamah bin al-Akwa’ berikut ini, “Dahulu ada seseorang yang makan di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Orang itu menjawab, ‘Saya tidak bisa.’ Rasul shallallahu alaihi wasallam berkata, ‘Tidak, tapi kamu bisa.’ Namun yang menghalangi orang itu hanyalah kesombongan. Karenanya, ia tak dapat mengangkat makanan itu ke mulutnya.” (Muslim: 2021)

Adab Masuk Kamar Keluarga

Anak yang belum baligh hendaknya dilatih meminta izin bila masuk ke kamar orang tua pada waktu istirahat. Hendaknya salam sebelum masuk ke kamar keluarga yang lain. Yang demikian itu agar anak tidak menyaksikan perilaku orang tua ketika sedang berkumpul dan tidak terlintas di pikirannya hal-hal yang haram. Sebagaimana telah dijelaskan dalam surat an-Nūr ayat 58.

Orang tua tidak cukup memperhatikan materi atau pelajaran di atas, akan tetapi harus memantau semua gerak anak. Jika salah dibetulkan, jika benar dipuji, agar dia tetap istiqamah di atas yang hak. Misalnya dengan ditanya, “Ketika bersin baca apa?”, “Ketika keluar masuk wc, ketika mau tidur dan bangun tidur baca doa apa?”, “Saat memberi dan mengambil, dengan tangan yang mana?” atau “Kalau cebok dengan tangan yang mana?” Insya Allah pendidikan ini menjadi fondasi yang kuat untuk masa depan anak saat dia sudah masuk di bangku sekolah.

Waspadalah wahai orang tua, tidak semua penampilan dan suara di layar televisi bermanfaat bagi anak. Bahkan suatu saat akan membahayakan mereka, baik dari sisi moral, ibadah atau akidah. Oleh karena itu ada baiknya anak dijauhkan dari melihat dan mendengar suara yang merusak jiwa dan fitrahnya. Semoga anak kita menjadi anak yang shalih dan shalihah. Amin.

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Tulis Komentar