
Saat Iman Mulai Lusuh – Khutbah Jumat
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قال الله: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Sidang Jumat yang Dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam artian menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, di mana pun kita berada dan dalam kondisi bagaimanapun.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa nikmat yang paling mahal, paling tinggi, dan paling berharga yang pernah Allah titipkan kepada seorang hama adalah nikmat Hidayah. Hidayah berupa iman dan Islam adalah “kunci” yang hanya diberikan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-An’am ayat 125:
فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.” (QS. Al-An’am: 125).
Bahkan seorang ulama Tabi’in, Abu al-‘Aliyah rahimahullah, sampai merasa bingung mana yang lebih besar di antara dua nikmat yang ia terima. Beliau berkata: “Sungguh Allah telah memberiku dua nikmat, aku tak tahu mana dari keduanya yang lebih utama; Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk Islam dan tidak menjadikanku seorang Haruri (golongan Khawarij).” (Siyar A’lam an-Nubala’: 7/236)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Namun, ada satu hal yang seringkali kita lupakan: Iman itu tidak statis. Iman di dalam hati kita bisa mengalami “keausan” sebagaimana pakaian yang lama-kelamaan menjadi lusuh dan robek. Iman bisa berdebu layaknya cermin yang tak pernah dibersihkan, bahkan bisa berkarat seperti besi yang terpapar cuaca.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita dalam sebuah hadits:
إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِى جَوفِ أَحَدِكمُ كَـمَا يَخْلَقُ الثَّوبُ فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُـجَدِّدَ الِإيمَانَ فِى قُلُوبِكُم
“Sesungguhnya iman pada hati kalian bisa lusuh, sebagaimana kain bisa lusuh. Karena itu, berdoalah kepada Allah agar Allah memperbarui iman di hati kalian.” (HR. Al-Hakim).
Jika kita membiarkan iman kita lusuh tanpa pernah diperbarui dengan doa dan amal shalih, maka perlahan-lahan ia akan rusak, rapuh, dan akhirnya hancur.
Salah satu cara terkuat untuk menjaga iman adalah dengan “mengemis” hidayah kepada Allah setiap saat. Itulah mengapa Allah mewajibkan kita membaca Surah Al-Fatihah minimal 17 kali dalam sehari semalam, yang di dalamnya terdapat permohonan inti:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيم
“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6).
Bahkan dalam posisi duduk di antara dua sujud, kita kembali meminta:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَاهْدِنِي
Ya Tuhanku, ampunilah dosaku, rahmatilah aku, tamballah kekurangan diriku, angkatlah derajatku, berilah aku hidayah
Jamaah sekalian, Jika Rasulullah ﷺ yang sudah dijamin surga saja masih terus berdoa: “Ya Muqallibal Qulub Tsabbit Qalbi ‘ala Dinik” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu),[1] maka siapakah kita? Kita hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki jaminan apa-apa. Maka, sudah seharusnyalah lisan kita lebih basah lagi dalam meminta keteguhan hidayah kepada-Nya.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah Sidang Jumat yang Dirahmati Allah,
Sebagai penutup khutbah ini, mari kita petik pelajaran berharga dari kegigihan seorang ulama besar, Imam Abu Dawud rahimahullah.
Dikisahkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, suatu ketika Imam Abu Dawud berada di atas sebuah kapal. Tiba-tiba, beliau mendengar seseorang di pinggir dermaga bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah”. Apa yang dilakukan sang Imam? Beliau tidak sekadar mengabaikannya. Beliau rela merogoh koceknya, membayar satu dirham untuk menyewa sampan kecil demi menghampiri orang tersebut hanya untuk mengucapkan: “Yarhamukallah”.
Mengapa beliau sampai melakukan hal yang tampaknya “berlebihan” itu?
Ternyata, beliau mengejar satu hal: Doa balik dari orang tersebut. Imam Abu Dawud berharap orang itu menjawab dengan doa: “Yahdikumullah wa yuslih balakum” (Semoga Allah memberimu hidayah dan memperbaiki urusanmu).
Beliau berkata:
لَعَلَّهُ يَكُون مُجَاب الدَّعْوَة
“Mudah-mudahan orang itu termasuk yang memiliki doa mustajab.”[2]
Lihatlah, seorang ulama besar pun sangat haus akan doa hidayah. Beliau sadar bahwa hidayah adalah segalanya. Tanpa hidayah, ilmu tidak akan bermanfaat dan amal tidak akan istiqamah.
Maka, marilah kita senantiasa membasahi lisan kita dengan doa meminta hidayah. Jangan biarkan iman kita menjadi lusuh. Mari kita jaga ia dengan terus meminta dan memohon kepada Sang Pemilik Hati. Semoga Allah mewafatkan kita semua dalam keadaan istiqamah di atas jalan hidayah-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَصَلَاتَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا يُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
________________________________________________________________________________________________
[1] HR. Tirmidzi: 2140, Ibnu Majah: 3834 Dihasankan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah no. 2091
[2] Lihat: Fathul Bari: 10/745
Lihat:
Arsip Khutbah Maribaraja.Com
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom




Yuk Gabung !