Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Saat Suami Menanam Benih

Saat Suami Menanam Benih

Setelah memilih pasangan yang Islami, bagaimana seharusnya suami ketika menanam benih di ladang istrinya agar menghasilkan buah hati yang shalih dan shalihah sebagai penyejuk hati?

Berharap hasil ketika menanam benih

Setiap yang bercocok tanam tentu ingin memetik hasil untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian juga ketika suami menanam benih di ladang istri, hendaknya ia berharap mendapatkan buah hati, tidak hanya untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya. Allah berfirman:

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Alloh untukmu. (QS. al-Baqoroh [2]: 187)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Hendaknya suami berharap mendapatkan anak ketika berkumpul dengan istrinya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/511)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ

“Nikahilah perempuan yang  penyayang lagi subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian (di hari kiamat kelak).” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 1/515)

Perintah menikahi wanita yang subur mengandung makna mengharap keturunan yang banyak. Tidaklah perintah Alloh ini bila diamalkan melainkan pasti akan membahagiakan dan menyejukkan hati pelakunya. Dengan lahirnya anak, sepasang suami-istri insya Alloh akan merasakan kebahagiaan, mawaddah dan rahmat. Selain itu, anak juga bisa menjadi penghibur hati ketika suami atau istri sedang menghadapi masalah, bahkan ketika meninggal dunia pun mereka bisa mendapatkan berkahnya.

Wahai suami, istrimu adalah ladangmu

Sebelum menikah, Allah mengharamkan seorang laki-laki melihat wanita selain mahram yang disenanginya, apalagi sampai melampiaskan lamunan hatinya. Hal itu karena wanita tersebut belum menjadi istrinya yang sah, sehingga ia tidak boleh berbuat semaunya. Berbeda bila telah menikah, maka wanita tersebut telah resmi menjadi haknya, dan ia boleh melampiaskan kesenangannya dengan sesuka hati sesuai dengan adab-adab yang Islami. Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka (istri) secara patut. (QS. an-Nisa’: 19)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan ayat ini: “Hai suami, lembutkanlah suaramu di hadapan istrimu, berperangailah yang baik di hadapannya sesuai dengan kemampuanmu.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/242)

Jabir radliyallaahu anhu berkata: “Orang Yahudi biasa mengatakan bahwa bila seorang lelaki menggauli istrinya pada qubulnya (liang kemaluan) dari belakang, maka anak yang terlahir nantinya akan juling matanya. Lalu turunlah ayat:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam. Maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sekehendakmu. (QS. al-Baqarah: 223) (Shahih Muslim 2592)

Meskipun begitu, ada adab lain yang hendaknya diperhatikan juga, yaitu sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِى دُبُرِهَا

“Terkutuklah siapa saja yang menyetubuhi istrinya pada duburnya.” (HR. Abu Dawud ta’liq al-Albani 2/215 dihasankan oleh al-Albani)

Subhanallah, alangkah indahnya bila suami bisa bersenang-senang dengan istrinya tanpa meniru budaya orang-orang kafir. In syaa Allah dengan cara berladang yang Islami, harapan akan hasil anak yang shalih, shalihah sekaligus penghibur hati akan terwujud.

Adab suami ketika “bertemu” istri

Bukan hanya petani yang punya aturan bercocok tanam, suami pun ketika berladang hendaknya memperhatikan aturan dan adab-adabnya agar kelak bisa memetik buah atau pahalanya.

Di antara adab suami ketika bertemu dengan istrinya ialah:

1. Hendaknya berlaku lembut kepada istri.

Suami hendaknya berlaku lembut kepada istrinya sebelum berkumpul. Hal ini sebagaimana contoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berlaku lembut kepada istrinya, Aisyah radhiyallahu anha, dengan memberinya minum susu sebelum berkumpul. (Adabuz Zifaf oleh Syaikh al-Albani 1/19)

2. Hendaknya meletakkan telapak tangannya di kepala istri, lalu mendo’akannya sebelum berkumpul.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (artinya): “Jika salah seorang di antara kalian menikahi wanita atau membeli budak, hendaknya ia memegang ubun-ubunnya lalu mendo’akannya agar mendapat berkah.” (HR. Ibnu Majah tahqiq al-Albani, hadits hasan)

Inilah do’anya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan mengumpulinya dan perangainya yang baik yang telah Kau ciptakan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan perangainya yang telah Kau ciptakan padanya.” (HR. Ibnu Majah tahqiq al-Albani, hadits hasan)

3. Sebelum berkumpul hendaknya sholat dua roka’at bersama istri.

Abu Sa’id radhiyallahu anhu berkata: Sahabat Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Hudzaifah mengajari saya bahwa bila saya hendak bertemu istri, maka hendaknya melakukan shalat dua raka’at terlebih dahulu. (HR. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 10/393, dishahihkan oleh al-Albani dalam Adabuz Zifaf 1/22)

4. Ketika berkumpul hendaknya membaca do’a berikut:

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Bismillah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganjurkan do’a ini ialah sebagaimana sabda beliau: “Sebab jika ditakdirkan hubungan antara mereka berdua itu melahirkan anak, maka setan tidak akan mampu membahayakan anak itu selamanya.” (Shahih Muslim: 2591)

5. Dianjurkan berwudhu setelah berkumpul, atau yang lebih utama mandi sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadits yang shohih.

6. Hendaknya istri tidak memuji wanita lain di hadapan suaminya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang istri memuji-muji wanita lain di hadapan suaminya sehingga terbayang oleh suaminya seolah-olah dia melihat wanita itu.” (HR. al-Bukhari)

7. Hendaknya istri tidak menolak ajakan suaminya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila suami mengajak istrinya (bersebadan) lalu ia menolak melayaninya sehingga suaminya sepanjang malam itu jengkel, maka (istri) dilaknat malaikat sampai pagi.” (Muttafaq alaih)

8. Hendaknya tidak menghina istri ketika kurang berkenan hati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

“Janganlah engkau memukul wajahnya, jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan menjauhinya kecuali dalam lingkungan rumahmu.” (HR. Shahih Abu Dawud ta’liq al-Albani)

9. Bersabar atas perangai istri yang kurang disukai.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang laki-laki mukmin membenci istrinya yang beriman. Meski ada salah satu perangainya yang tidak ia sukai, tapi pasti ia akan ridho (senang) dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim)

10. Hendaknya tidak mengumpuli istri pada waktu terlarang. Allah  berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita ketika haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum suci. (QS. al-Baqarah: 222)

Semoga dengan usaha yang diridhai Allah ketika berkumpul dengan istri, kita akan dikaruniai anak yang shalih dan shalihah. Wallahu a’lam.

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Tulis Komentar