Beranda / Ilmu Syar'i / Tafsir / Kehancuran Suatu Negeri (#4/6)

Kehancuran Suatu Negeri (#4/6)

Penyebab Kemakmuran

Syeikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata:

“Untuk mengeluarkan Dunia Islam Internasional dari kekacauan berupa perbedaan pendapat, kesenggangan akidah, politik, sosial dan ekonomi, adalah dengan berpegang teguh kepada Islam, berhukum dengan syariat Islam dalam semua urusan. Maka dengan prinsip ini, mereka akan berpadu dan hati pun bersatu. Inilah satu satunya obat yang mujarab untuk menyelesaikan dunia Islam Internasional yang sekarang kita rasakan goncang, timbul perselisihan dan kehancuran. Sebagaimana Allah ﷻ jelaskan di dalam firman-Nya QS. Muhamad : 7, QS. Al-Hajj : 40- 41, QS. An-Nur : 55, QS. Ali Imron : 103.

Tetapi, jika para pemimpin dalam suatu negeri mencari petunjuk dan hukum selain al-Quran dan sunnah Rasulullah ﷺ, mereka saling berhukum dengan hukum yang dibuat oleh para musuh Allah, pastikan bahwa mereka tidak akan mendapatkan jalan keluar dari perselisihan dan pertengkaran sesama mereka,

وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Ali Imron: 117).

(Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz: 8/171)

Selanjutnya perlu adanya tashfiyah berupa pemberantasan kemusyrikan yang mengotori tauhid, memberantas bid’ah yang mengotori sunnah, hawa nafsu yang mengotori manhaj, serta moral tercela yang mengotori akhlak mulia. Kemudian, setelah tashfiyah perlu mentarbiyah umat dengan meningkatkan semangat menuntut ilmu syar’i, meningkatkan kualitas ibadah yang wajib maupun sunnah.

Abdul Malik Ramdhoni رحمه الله berkata: “Yang dimaksud tashfiyah ialah membersihkan Islam dari penyelundupan (syariat baru buatan manusia), membersihkan manusia dengan Islam yang murni, membersihkan tauhid dari syirik, sunnah dari bid’ah, fiqih dari pendapat yang lemah, akhlak dari moral yang jelek, serta hadits-hadits Nabi dari pemalsuan.”
(Lihat ‘Sittu ad-Duror min Ushuli Ahli Atsar: 130)

❀•◎•❀

Adapun istilah lain untuk mengembalikan umat agar menjadi karakter izzah yang kuat, serta mendapat ridho Allah ﷻ, diantaranya :

1. Istiqomah diatas Syari’at Islam.

Pemimpin dan rakyat wajib kembali kepada syari’at Islam, bagaimana pun besarnya musuh, jika kaum muslimin beristiqomah…, ketauhilah bahwa musuh tidak akan dapat membantai ilmu dan pemeluknya.
Allah ﷻ berfirman;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapatkan petunjuk. (QS. Al-Maidah: 105)

Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Senantiasa ada golongan dari umatku pembela kebenaran (Islam), tidaklah membahayakan kepadanya orang yang menghinanya sampai datang hari kiamat, sedangkan mereka tetap teguh. (HR. Muslim: 3/1523)

Syeikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata: “Maka wajib bagi pemimpin dan rakyat agar istiqomah diatas Islam, berpegang teguh dengan syari’atnya, berpijak kepada hukumnya, baik dari segi perkataan, perbuatan dan akidah. Demikian juga dalam hal wala dan baro (senang dan benci). Inilah jalan kemenangan dan kebahagiaan. Jika pemimpin dan rakyat beristiqomah diatas Islam, maka tidaklah musuh akan membahayakan mereka.”
(Lihat Majmu Fatawa Ibnu Baz: 8/171)

2. Bersabar menghadapi musuh

Pemimpin dan setiap orang muslim harus menyadari bahwa kapan pun dan dimana pun, musuh Islam tidak akan kunjung padam, karena itu sudah menjadi sunnatullah (apa-apa yang telah digariskan oleh Allah) di permukaan bumi. Yakinlah, bahwa setiap kaum muslimin selagi berpegang kepada din-Nya, sudah pasti akan ditentang dan dimusuhi. Hal ini sebagaimana tercantum didalam QS. Al-An’am: 112.

Perintah bersabar di dalam menghadapi musuh, kemudian melawan mereka sesuai dengan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, itulah pangkal kemenangan. Lihatlah bagaimana kesabaran Nabi ﷺ ketika berdakwah di kota Mekah! Perhatikan firman Allah ﷻ,

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imron: 120)

3. Siap Siaga Menghadapi Musuh

Musuh Islam setiap saat kita jumpai dimana-mana, baik dari dalam atau pun luar. Dari dalam semisal orang munafik, ahli bid’ah, ahli syirik, tokoh sekuler perusak ayat dan sunnah, penyeru syubhat, penyembunyi kebenaran, orang fasik, serta ahli maksiat…
Untuk menghadapi mereka semua perlu ulama atau generasi yang berilmu agama, sehingga mudah untuk membantai syubhat mereka. Baik lewat khutbah, ceramah dan tulisan juga bantahan untuk karya tulis mereka.

Adapun untuk mengahadapi musuh berupa kemaksiatan dan pengumbar hawa nafsu birahi, kita lancarkan dakwah ingkar mungkar, sambil menyerahkan hukumannya kepada waliyul amri jika memungkinkan.
Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: Nabi ﷺ bersabda:

جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ

Perangilah orang musyrik dengan hartamu, dan kekuatanmu, juga dengan lisanmu. (HR. Abu Dawud: 3/10, Shahih Ibnu Hibban: 11/6, Lihat Al-Miskah: 3821)

Memerangi dengan harta, ini adalah tugasnya orang muslim yang kaya dan orang-orang yang memiliki kelebihan harga. Sedangkan dengan kekuatan, ini adalah tugas ‘umaro (pemimpin/pemerintah) dan semisalnya. Sedangkan dengan lisan atau tulisan, inilah tugasnya para ulama as-Sunnah yang dari dulu sampai sekarang senantiasa membantah mereka dengan ilmu dan ilmiah.

Jika tiga golongan di atas siap melaksanakan amanat ini, yakinlah! Allah akan memberi kemenangan sebagaimana janji-Nya di dalam QS. Muhammad: 7.

Adapun musuh yang dari luar, misalnya orang kafir, ahli kitab (yahudi dan nasrani) serta yang lainnya. Maka perlu bagi kita mempersiapkan kekuatan ilmu dan fisik dengan berlatih perang, membeli alat perang jika memungkingkan untuk melawan mereka semua. Sebagaimana yang tercantum di dalam QS. Al-Anfal: 60.

Uqbah bin Amir رضي الله عنه berkata: saya mendengar Nabi ﷺ diatas mimbar membaca ayat ini (QS. Al-Anfal: 60), lalu Beliau bersabda:

أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

Ingatlah! Sesungguhnya kekuatan itu terdapat pada panah memanah. -Beliau mengulanginya sampai tiga kali- (HR. Muslim: 3/1522, Ibnu Hibban: 11/7)

Ini menunjukkan akan pentingnya berlatih perang sebagai persiapan melawan musuh-musuh Islam diluar sana, terutama latihan memanah.

Perlu diketahui, bahwasanya berperang melawan orang kafir tidak harus dengan fisik, tergantung situasi dan kondisi.

Bersambung…

https://maribaraja.com/kehancuran-suatu-negeri-5-6/

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Ushul Tsalatsah – Empat Kandungan Surat Al-‘Ashr

Pada pembahasan ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membicarakan empat kandungan surat Al-‘Ashr yang …

Tulis Komentar

WhatsApp chat