Suci atau Najiskah Khamr?

Defenisi Khamr

Khamr secara bahasa adalah perasan buah anggur yang dapat memabukkan. Sedangkan secara istilah menurut pendapat yang lebih kuat khamr adalah segala sesuatu yang dapat memabukkan sedikit ataupun banyak, baik berasal dari perasan anggur ataupun yang lainnya.

Dari defenisi ini maka narkoba dan segala sesuatu yang memabukkan serta menghilangkan akal termasuk ke dalam hukum khamr. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu mengatakan:

وَالْخَمْرُ مَا خَامَرَ الْعَقْلَ

Khamr adalah segala sesuatu yang dapat menutupi akal. (HR. Bukhari: 5581, Muslim: 3032)

Khamr apakah suci atau najis?

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khamr menjadi dua pendapat:

Pertama, khamr adalah najis. Ini adalah pendapat jumhur ulama, diantaranya adalah imam madzhab yang empat dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dalil mereka adalah firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijs termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah: 90)

Menurut mereka rijs adalah najis. Karena itu mereka menghukumi kenajisan khamr itu sebagai najis hissiyah.

Kedua, khamr adalah suci. Ini adalah pendapat al-Laits, al-Muzani, Asy-Syaukani, ash-Shan’ani, dan al-Albani. Dalil mereka adalah hadits Anas bin Malik tentang kisah pengharaman khamr. Anas menceritakan:

كُنْتُ سَاقِيَ الْقَوْمِ فِي مَنْزِلِ أَبِي طَلْحَةَ، وَكَانَ خَمْرُهُمْ يَوْمَئِذٍ الْفَضِيخَ، فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مُنَادِيًا يُنَادِي: أَلاَ إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ. قَالَ: فَقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ: اخْرُجْ فَأَهْرِقْهَا، فَخَرَجْتُ فَهَرَقْتُهَا، فَجَرَتْ فِي سِكَكِ الْمَدِينَةِ.

Aku tengah menghidangkan minuman kepada orang-orang di rumahnya Abu Thalhah. Khamr mereka pada saat itu berasal dari kurma. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan seorang untuk mengumumkan : “Ketahuilah sesungguhnya khamr telah diharamkan.” Abu Thalhah mengatakan kepadaku: “Keluarlah dan tumpahkan semua khamrnya.” Maka aku pun keluar rumah dan menumpahkannya sehingga mengalir di jalan-jalan kota madinah. (HR. Bukhari: 2464)

Dalam hadits yang lain tentang seorang laki-laki yang membawa dua kantong kulit yang berisi khamr. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ الَّذِي حَرَّمَ شُرْبَهَا حَرَّمَ بَيْعَهَا

“Sesungguhnya Allah yang mengharamkan meminumnya telah mengharamkan menjualnya.”

Maka laki-laki itu membuka penutup dua kantung tersebut lalu menumpahkannya habis isinya. (HR. Muslim: 1206)

Mereka mengatakan, jika khamr itu najis maka pastilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk menyiramkan air pada tanah yang terkena khamr tersebut untuk mensucikannya sebagaimana beliau memerintahkan untuk menuangkan air pada tanah bekas air kencing orang Arab badui yang kencing dalam masjid.

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !