Beranda / Syarhus Sunnah Al-Muzani / Syarhus Sunnah – #11 Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah

Syarhus Sunnah – #11 Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah

Pada bagian ini Imam Al-Muzani memaparkan tentang akidah seputar hakikat iman menurut Ahlussunnah

Imam Al-Muzani mengatakan:

وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ مَعَ اعْتِقَادِهِ بِالجَنَانِ، قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالجَوَارِحِ وَالأَرْكَانِ وَهُمَا سَيَّانِ وَنِظَامَانِ وَقَرِيْنَانِ ، لَا نُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا، لَا إِيمَانَ إِلَّا بِعَمَلٍ وَلَا عَمَلَ إِلَّا بِإِيمَانٍ وَالمُؤْمِنُونَ فِي الْإِيمَانِ يَتَفَاضَلُونَ وَبِصَالِحِ الْأَعْمَالِ هُمْ مُتَزَايِدُوْنَ، وَلَا يَخْرُجُونَ بِالذُّنُوبِ مِنَ الْإِيمَانِ ، وَلَا يَكْفُرُونَ بِرُكُوْبِ كَبِيْرَةٍ وَلَا عِصْيَانٍ ، وَلَا نُوجِبُ لِمُحْسِنِهِمْ الْجِنَانَ بَعْدَ مَنْ أَوْجَبَ لَهُ النَّبِيُّ n وَلَا نَشْهَدُ عَلَى مُسِيْئِهِمِ بِالنَّارِ

Iman adalah ucapan dan perbuatan bersamaan dengan keyakinan dalam hati. Iman adalah ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota badan. Dan keduanya merupakan dua sisi yang melekat tak terpisahkan. Kami tidak memisahkan antara keduanya. Tidak ada iman kecuali dengan amal, dan tidak ada amal kecuali dengan iman. Orang-orang mukmin bertingkat-tingkat keimanannya. Dengan amal shalih, keimanannya mereka bertambah. Mereka tidak keluar dari iman hanya karena dosa-dosa. Mereka tidak kafir hanya karena dosa besar dan maksiat.Kita tidak boleh memastikan bahwa orang-orang baik di antara mereka pasti masuk surga kecuali mereka yang memang sudah dipastikan oleh Nabi. Dan kita juga tidak memastikan bahwa orang-orang buruk di antara mereka pasti masuk neraka.

❀•◎•❀

 Pelajaran Berharga dan Penjelasan

Dari ucapan Imam Al-Muzani ini ada beberapa faidah dan pelajaran berharga yang dapat kita petik, yaitu:

Pelajaran Pertama, Defenisi iman menurut Ahlussunnah

Iman menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah keyakinan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan oleh anggota badan. Diantara dalil yang sangat jelas atas makna iman ini adalah hadits dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah n bersabda:

 الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan, Laa Ilaaha Illallahu (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.”[1]

Pelajaran Kedua: Iman dan amal saling berkaitan

Hal ini membantah keyakinan orang-orang Murji’ah. Murjiah adalah firqah yang memiliki keyakinan bahwa amal tidak termasuk bagian dari iman. Ketaatan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh sorang muslim tidak akan mempengaruhi keimanannya. Syaikh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Badr mengatakan:

Dalam ucapan Imam Al-muzani ini (Tidak ada iman kecuali dengan amal, dan tidak ada amal kecuali dengan iman.) adalah sebuah penekanan terhadap hakikat makna iman yang telah dikacaukan oleh Murjiah dengan mengeluarkan amal dari iman. Karena itulah mereka dinamakan Murjiah, sebab Al-Irja’ maknanya adalah mengakhirkan, sebagaimana firman Allah:

قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ

Pemuka-pemuka itu menjawab: “Beri tangguhlah dia dan saudaranya. (QS. Al-A’raf: 111)

Artinya akhirkanlah (tagguhkanlah) dia (Musa) dan saudaranya (Harun). Ketika mereka meg-irja’ yaitu mengakhirkan adan menjauhkan amal dari penamaan iman maka para ulama salaf melekatkan gelar ini (Murjiah) kepada mereka. [2]

Pelajaran Ketiga:  Derajat keimanan bertingkat-tingkat.

Derajat keimanan seorang mukmin bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi mereka masing-masing. Allah berfirman:

 ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir: 32)

Pelajaran Keempat: Iman dapat bertambah dan berkurang

Bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Sebagaimana Allah berfirman:

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2)

Imam Al-Baihaqi mengatakan: “Apabila iman dapat bertambah maka iman juga dapat berkurang.” [3]

Pelajaran Kelima: Dosa besar dan maksiat tidak serta merta mengeluarkan seorang dari keimanan

Seorang Muslim terkadang terkumpul dalam dirinya keimanan dan maksiat, sehingga dia tidak keluar dari keimanan disebabkan dosa besar yang ia lakukan. Karena ia masih memiliki kemutlakan iman, sebagaimana sabda nabi:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat perkara, barangsiapa yang empat perkara tersebut ada pada dirinya maka dia menjadi orang munafik sejati, dan apabila salah satu sifat dari empat perkara tersebut ada pada dirinya, maka pada dirinya terdapat satu sifat dari kemunafikan hingga dia mening-galkannya: jika berbicara selalu bohong, jika melakukan perjanjian melanggar, jika berjanji selalu ingkar, dan jika berselisih licik.” [4]

Dalam hadits ini jelas Rasulullah n mengatakan bahwa seorang muslim yang memiliki salah satu dari sifat munafik itu, dia tetap dihukumi muslim hanya saja pada dirinya terdapat sifat munafik yang mengurangi kesempurnaan dirinya.

Oleh sebab itu, seorang muslim pelaku dosa besar tidak kafir, hal ini untuk membantah keyakinan orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah yang memiliki kayakinan yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah dimana mereka mengatakan bahwa keima-nan itu adalah satu bagaian yang tidak terbagi-bagi, apabila hilang sebagiannya maka akan hilang seluruhnya. Karena itulah, seorang muslim yang melakukan dosa besar maka keimanannya hilang. Khawarij mengatakan bahwa ia kafir sedangkan kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa ia bukan mukmin bukan pula kafir tetapi berada diantara keduanya. Hanya saja kedua kelompok ini bersepakat bahwa ia (pelaku dosa besar) di akhirat nanti kekal di dalam neraka. [5]

Pelajaran Keenam: Tidak memastikan seorang pun masuk surga atau neraka kecuali orang-orang yang memang dipastikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan tidak boleh memastikan seorang pun secara Mu’ayyan (individu tertentu) bahwa dia masuk surga atau neraka, kecuali orang-orang yang memang dipastikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah salah satu pokok keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sampai Imam Bukhari membuat sebuah bab dalam kitab Shahih beliau dengan judul: Tidak boleh mengatakan fulan syahid.

Di antara dalil yang menunjukkan akan hal ini adalah: Dari Sahal bin Sa’d a, ia menceritakan: Ada seorang laki-laki muslim yang gagah berani dalam peperangan ikut serta bersama Nabi, kemudian Nabi n memperhatikan orang itu dan berujar; “Barangsiapa ingin melihat lelaki penghuni neraka, silakan lihat orang ini.” Seorang sahabat akhirnya menguntitnya, dan rupanya lelaki tersebut merupakan orang yang paling ganas terhadap orang-orang musyrik. Hingga akhirnya lelaki tersebut terluka dan dia ingin segera dijemput kematian sebelum waktunya, maka ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya kemudian ia hunjamkan hingga tembus diantara kedua bahunya. Sahabat yang menguntit lelaki tersebut pun langsung bergegas menemui Nabi n dan berujar; ‘Aku bersaksi bahwa engkau utusan Allah.’ ‘Apa itu? ‘ Tanya Nabi. Sahabat itu menjawab; ‘Engkau tadi berkata; ‘Siapa yang ingin melihat penghuni neraka, silakan lihat orang ini,’ Dia merupakan orang yang paling pemberani diantara kami, kaum muslimin. Lalu aku tahu, ternyata dia mati tidak diatas keislaman, sebab dikala ia mendapat luka, ia tak sabar menanti kematian, lalu bunuh diri.’ Seketika itu pula Nabi n bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sungguh ada seorang hamba yang melakukan amalan-amalan penghuni neraka, namun berakhir menjadi penghuni surga, dan ada seorang hamba yang mengamalkan amalan-amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka, sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupnya.” [6]

Pelajaran Ketujuh, Dalam masalah iman, Ahlussunnah Wal Jama’ah berada di pertengahan antara kelompok Murjiah dan Khawarij serta Mu’tazilah.

Sehingga Ahlussunnah meyakini bahwa seorang mukmin keimanannya betingkat-tingkat. Terkadang bertambah saat ia melakukan ketaatan dan berkurang saat ia melakukan maksiat. Seorang mukmin yang terjatuh dalam perbuatan dosa besar tidak kafir akan tetapi ia adalah mukmin tapi kurang keimanannya.

[1]        HR. Bukhari: 9, Muslim: 35

[2]        Ta’liqah Ala Syarh As-Sunnah Al-imam Al-Muzani: 82

[3]        Al-I’tiqad: 116, Ta’liqah Ala Syarh As-Sunnah Al-imam Al-Muzani: 84

[4]        HR. Bukhari: 34, Muslim: 58

[5]        Lihat Ta’liqah Ala Syarh As-Sunnah Al-imam Al-Muzani: 85

[6]        HR. Bukhari: 6607

Lihat arsip pembahasan kitab Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani disini:

Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani

Selesai disusun di Jatimurni Bekasi, Senin 3 Rajab 1442 H/ 15 Februari 2021M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Syarhus Sunnah – #2 Makna Judul dan Sebab Penulisan Kitab Syarhus Sunnah Al-Muzani

Makna Judul Kitab; Syarhus Sunnah Sebelum kita masuk ke makna dari judul kitab, baiknya kita …

Tulis Komentar

WhatsApp chat