Syarhus Sunnah – #13 Sifat-sifat Allah

Pada bagian ini Imam Al-Muzani memaparkan tentang akidah Ahlussunnah seputar sifat-sifat Allah

Imam Al-Muzani mengatakan:

وَكَلِمَاتُ اللهِ وَقُدْرَةُ اللهِ وَنَعْتُهُ وَصِفَاتُهُ كَامِلَاتٌ غَيْرُ مَخْلُوقَاتٍ ، دَائِمَاتٌ أَزَلِيَّاتٌ وَلَيْسَتْ بِمُحْدَثَاتٍ فَتَبِيْدُ ، وَلَا كَانَ رَبَّنَا نَاقِصًا فَيَزِيْدُ ، جَلَّتْ صِفَاتُه عَن شِبْهِ صِفَاتِ المَخْلُوقِيْنَ ، وَقَصُرَتْ عَنْهُ فِطَنُ الوَاصِفِيْنَ ، قَرِيْبٌ بِالإِجَابَةِ عِنْدَ السُّؤَالِ ، بَعِيْدٌ بِالتَعَزُّزِ لَا يُنَالُ ، عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ ، مَوْجُودٌ وَلَيْسَ بِمَعْدُوْمٍ وَلَا بِمَفْقُودٍ

Kalimat (firman) Allah, kekuasaan dan semua sifat-Nya sempurna dan bukan makhluk, abadi dan azali (tidak bermula dari ketiadaan). Bukan merupakan sesuatu yang muhdatsah (baru) sehingga bisa lenyap. Rabb kita tidak memiliki kekurangan sehingga butuh penambahan. Maha mulia sifat-Nya dari menyerupai sifat makhluk. Kecerdasan akal makhluk tidak akan mampu mensifati-Nya. Allah  dekat untuk mengabulkan permintaan, namun jauh yang sesuai dengan kemuliaa-Nya sehingga tidak dapat dijangkau (oleh upaya buruk terhadap-Nya). Dia Maha Tinggi di atas Arsy-Nya, terpisah dari semua makhluk-Nya. Allah itu ada bukan tiada atau hilang.

❀•◎•❀

Pelajaran Berharga dan Penjelasan

Dari ucapan Imam Al-Muzani ini ada beberapa faidah dan pelajaran berharga yang dapat kita petik, yaitu:

Pelajaran Pertama: Sifat Allah Maha Sempuna, tidak ada sedikit pun kekurangan pada-Nya.

Sebagaimana firman Allah:

وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ar-Rum: 27)

Pelajaran Kedua: Sifat-sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk-Nya meskipun terkadang sebutannya sama.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11)

Pelajaran Ketiga: Tidak ada makhluk yang mampu meliputi-Nya

Hal ini karena Allah tidak dapat diliputi oleh makhluk-Nya. Sebagaimana firman Allah:

   يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (QS. Thaha: 110)

Pelajaran Keempat: Allah tidak bisa dimudharati oleh sesuatu apa pun.

Satu hal yang harus kita pahami adalah bahwa Allah dapat tersakiti tetapi tidak dapat dimudharati. Sebagaimana dalam hadits disebutkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Allah berfirman: ’Anak Adam telah menyakiti-Ku. Ia mencela masa padahal Akulah (yang menciptakan) masa. di tangan-Ku segala urusan, Akulah yang membolak-balikan malam dan siang.’”[1]

Sehingga kita harus membedakan antara menyakiti dengan memudharati Allah. Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata:

“Allah tersakiti dengan sebagian perbuatan dan ucapan hamba-Nya yang di dalamnya terdapat kejahatan terhadap hak-Nya, akan tetapi Allah tidak termudharati dengan hal itu karena tidak ada sesuatu pun yang dapat memudharati Allah. Allah berfirman:

 إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. Ali Imran: 177)

Dalam hadits qudsi Allah berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي

“Hai hamba-Ku, kamu sekalian tidak akan dapat menimpakan mudharat sedikit pun kepada-Ku, sehingga kamu dapat memudharati-Ku.” [2]

Maka harus dibedakan antara memudharati dengan menyakiti.” [3]

Pelajaran Ketujuh, Dzat Allah  di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.

Tidak ada satu pun makhluk yang bersatu atau melebur bersama Allah, sebagaimana hal ini merupakan keyakinan sebagian orang-orang sufi, keyakinan wihdatul wujud yaitu kayakinan bersatunya Allah dengan makhluk. Imam Al-Muzani ingin menyampaikan bahwa meski ilmu Allah meliputi semua makhluknya akan tetapi Dzat-Nya berada di atas Arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya.

[1]        HR. Bukhari: 4826, Muslim: 2246

[2]        HR. Muslim: 2577

[3]        I’anatul Mustafid: 2/241

Lihat arsip pembahasan kitab Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani disini:

Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani

Selesai disusun di Jatimurni Bekasi, Jum’at 7 Rajab 1442 H/ 19 Februari 2021M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp chat