Beranda / Ilmu Syar'i / Tafsir / TIDAK MECAMPUR IMAN DAN SYIRIK – Surat Al-An’am: 82

TIDAK MECAMPUR IMAN DAN SYIRIK – Surat Al-An’am: 82

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 82)

____________________________

Makna Iman dan Kedudukan Mukmin

Iman menurut ahlussunnah wal jama’ah adalah keyakinan dalam hati yang diucapkan dengan lisan dan dibuktikan oleh amal perbuatan.

Agama kita ada tiga tingkatan yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Adapun orang yang berada pada tingkatan-tingkatan tersebut disebut Muslim, Mukmin dan Muhsin. Tingkatan yang paling tinggi adalah muhsin. Para ulama mengatakan:

إِذَا تَحَقَّقَ الإِحْسَانَ تَحَقَّقَ الإِيْمَانُ وَالإِسْلَامُ، كُلُّ مُحْسِنٍ مُؤْمِنٌ مُسْلِمٌ، وَلَيْسَ كُلُّ مُسْلِمٍ مُؤْمِنًا مُحْسِنًا

“Apabila terwujud ihsan maka pasti terwujud iman dan Islam. Setiap muhsin adalah mukmin muslim. Sedangkan tidak setiap muslim itu adalah mukmin dan muhsin.” (Hushulul Ma’mul: 140)

Suatu ketika beberapa orang arab Badui baru saja masuk Islam, kemudian mereka mengatakan “Kami adalah orang-orang mukmin” Maka Allah menurunkan wahyu untuk menegur mereka:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah hai Muhammad: “Kalian belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah Islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (QS. Al-Hujurat: 14)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan: “Faidah yang dapat diambil dari ayat mulia ini bahwasanya iman lebih khusus daripada Islam, sebagaimana hal ini merupakan madzab Ahlussunnah wal jama’ah.” (Tafsir al-Qur’anil Azhim: 7/394)

Makna Zalim dan Macam-macamnya

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan:

الظُلْمُ وَضْعُ الشَّيْءِ فِيْ غَيْرِ مَوْضُعِهِ

“Zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.” (Al-Mulakhas fi Syarh Kitabit Tauhid: 24)

Kezaliman itu ada tiga macam. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Kezaliman bermacam-macam; Pertama, kezaliman yang paling besar yaitu syirik dalam hak Allah. Kedua, kezaliman seorang terhadap dirinya sendiri, ia tidak memberikan hak dirinya tersebut seperti ia berpuasa dan tidak berbuka, shala malam tanpa tidur. Ketiga, kezaliman kepada orang lain seperti menyakiti orang lain dengan memukul, membunuh, merampas hartanya, atau yang semisalnya.” (Al-Qaulul Mufid: 1/56)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda :

عِندَ اللهِ يَومَ القِيَامَةِ ثَلَاثَةُ دَوَاوِين؛ دِيْوَانٌ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ مِنْهُ شَيْئًا وَهُوَ الشِّرْكُ بِااللَّه ثُمَّ قَرَأَ : إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ – النساء: ٤٨ – دِيْوَانٌ لَا يَتْرُكُ اللَّهُ مِنْهُ شَيْئًا وَهُوَ مَظَالِمُ العِبَادِ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَدِيْوَانٌ لَا يَعْبَأُ اللَّهُ بِهِ وَهُوَ ظُلْمُ العَبْدِ نَفْسَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ

“Di sisi Allah pada hari kiamat nanti ada tiga catatan dosa; catatan dosa yang tidak akan diampuni Allah sedikit pun yaitu dosa syirik. Kemudian beliau membaca (firman Allah):’Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.’ (An-Nisa’: 48,116). Catatan dosa yang tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Allah, yaitu kezaliman seorang kepada orang lain. Catatan dosa yang tidak dipedulikan oleh Allah (jika Allah berkehendak maka Allah akan mengampuninya), yaitu kezaliman seorang terhadap dirinya sendiri, dosa antara dia dengan Rabbnya.” (HR. Ahmad 6/240)

Syirik Kezaliman Yang Paling Besar

Kesyirikan adalah kezaliman yang paling besar. Al-Imam Bukhari menyebutkan sebuah hadits dalam kitabnya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ –
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ – شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا أَيُّنَا لَمْ يَلْبِسْ إِيمَانَهُ بِظُلْمٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَيْسَ بِذَاكَ أَلَا تَسْمَعُ إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dari Abdullah ia menuturkan: “Ketika turun ayat ini; Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, hal itu terasa berat bagi sahabat Rasulullah. Mereka mengatkan: ‘Siapa pula di antara kita yang tidak pernah mencampur keimanannya dengan kezaliman?’ Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Bukan seperti itu, tidakkah engkau mendengar (mencermati) ucapan Lukman kepada anaknya; Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.’” (HR. Bukhari: 4776)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah pernah mengatakan:

المُشْرِكُ أَصْلًا مَنْ وَضَعَ الشَّيْءَ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ؛ لِأَنَّهُ جَعَلَ لِمَنْ أَخْرَجَهُ مِنَ العَدَمِ إِلَى الوُجُوْدِ مَسَاوِيًا فَنَسَبَ النِّعْمَةَ إِلَى غَيْرِ المُنْعِمِ بِهَا

“Seorang pelaku kesyirikan hakikatnya adalah seorang yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Karena ia menjadikan bagi Dzat yang mengeluarkannya dari ketidakadaan menjadi ada (Allah) tandingan, kemudian ia menisbatkan nikmat kepada selain pemberi nikmat.” (Mausu’ah Nadhratin Na’im:10/4749)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan: ” Dinamakan syirik sebagai sebuah kezaliman karena meletakkan ibadah tidak pada tempatnya serta mengalihkannya kepada yang bukan pemilik hak.” (Al-Mulakhas fi Syarh Kitabit Tauhid: 24)

Faidah Berharga Dari Ayat:

1. Keutamaan tauhid serta buahnya di dunia dan akhirat

2. Syirik merupakan pembatak keimanan jika ia syirik besar dan apabila syirik kecil maka ia mengurangi nilai dan kwalitas keimanan.

3. Kesyirikan itu tidak diampuni.

4. Syirik adalah sebab ketakutan di dunia dan akhirat.

Referensi:

1. Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitabit Tauhid,Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Darul ‘Ashimah
2. Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid,Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Darul ‘Ashimah

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Tabarruk; Ngalap Berkah

Kita tidak memungkiri bahwa keberkahanlah yang kita cari dan idam-idamkan. Bahkan, boleh dikatakan bahwa semua …

Tulis Komentar