Al-Bidayah fi Ulum Al-Qur’an – Bab Pertama: Al-Wahyu #1

Cara Turunnya Wahyu & Sahabat Yang Menulis Al-Qur'an

Bab Pertama: Al-Wahyu

Artikel ini adalah serial penjelasan singkat dari Matan Al-Bidayah Fi Ulum Al-Qur’an yang ditulis oleh Sami bin Ibrahim bin Bali (Keponakan dari Syaikh Wahid Abdussalam Bali) yang merupakan bagian dari kitab Al-Bidayat Fi Thalab Al-Ilmi

Pada bab ini ada 3 kaidah, yaitu:

Kaidah pertama: Maratib (tingkatan atau kategori) turunnya wahyu ada empat yaitu:[1]

  1. Mimpi dalam tidur

Mimpi para Nabi adalah wahyu tidak seperti manusia biasa. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim dalam kisah perintah untuk menyembelih Ismail yang dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS.Ash-Shafat: 102)

Ubaid bin Umair (salah seorang Tabi’in senior) mengatakan:

 رُؤْيَا الْأَنْبِيَاءِ وَحْيٌ ثُمَّ قَرَأَ : إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

“Mimpi para Nabi adalah wahyu. Kemudian ia membaca firman Allah QS. Ash-Shaffat: 102: aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari: 138)

Itu pula yang terjadi dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata:

 أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لا يَرَى رُؤْيَا إِلا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ

“Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. (HR. Bukhari: 3)

  1. Hembusan ke dalam hati

Maksudnya adalah Allah memasukkan ke dalam hati Nabi yang diwahyukan apa yang dikehendaki-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ في رُوعي أَنّه لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتكْمِلَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا في الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ عَلَى أَن تَطْلُبُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لاَ يُنَالُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Sesungguhnya Ruhul Qudus telah menghembuskan kedalam hatiku, bahwasanya seorang tidak akan mati hingga sempurna rezekinya maka bertakwalah kalian kepada Allah dan perbagusilah cara mencarinya. Jangan sampai karena lambatnya rezeki membawa kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak 2/4 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’: 2085)

Imam Al-Munawi rahimahullah mengatakan:

c في رُوعِي  بضم الراء ، أي : ألقى الوحي في خلَدي وبالي ، أو في نفسي ، أو قلبي ، أو عقلي ، من غير أن أسمعه ولا أراه

Fi Ruu’i dengan mendhammah huruf Ra’ artinya dimasukkan wahyu ke dalam pikiranku atau jiwaku atau hatiku atau akalku tanpa aku mendengar dan melihatnya. (Faidhu Al-Qadir: 2/571)

  1. Berbicara dibalik hijab

Maksudnya adalah Allah langsung berbicara dengan seorang Nabi yang dalam keadaan terjaga dari balik penghalang. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاء حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاء إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS.Asy-Syura: 51)

Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Nabi Musa saat Allah berbicara dengan beliau di bukit Tursina dan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat Isra’ dan Mi’raj ketika menerima perintah shalat.

  1. Melalui perantara malaikat

Maksudnya melalui perantara Malaikat Jibril dan ini dalam beberapa bentuk, diantaranya:

  • Jibril datang dengan bentuk aslinya

Dari Masruq (seorang Tabi’in), ia pernah bertanya kepada Aisyah mengenai firman Allah QS. At-Takwir: 23[2] dan QS. An-Najm: 13-14[3], maka Aisyah mengatakan:

 أَنَا أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ سَأَلَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ( إِنَّمَا هُوَ جِبْرِيلُ لَمْ أَرَهُ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَّتَيْنِ رَأَيْتُهُ مُنْهَبِطًا مِنْ السَّمَاءِ سَادًّا عِظَمُ خَلْقِهِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

Aku adalah orang pertama dari umat ini yang menanyakan perihal itu kepada Rasulullah. Beliau bersabda: Itu adalah Jibril, aku tidak pernah melihatnya dalam bentuk aslinya yang Allah menciptakannya dalam bentuk itu selain dari dua waktu ini. Aku melihatnya turun dari langit besarnya bentuknya hingga menutupi antara laingit dan bumi. (QS. Muslim: 177)

  • Jibril datang menyampaikan wahyu (Al-Qur’an atau hadits) dengan bentuk menyerupai manusia dan dapat dilihat oleh para sahabat Nabi seperti dalam hadits Jibril yang terkenal dimana ia datang datanm rupa seorang laki-laki asing yang bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan serta tanda-tanda hari kiamat. Dan terkadatang tidak dapat dilihat oleh para sahabat.
  • Seperti gemerincing rantai besi

Dari Aisyah Ummul Mu’minin, bahwa Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

“Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya”. Aisyah berkata: “Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat.” (HR. Bukhari: 2, Muslim: 2333)

Kaidah Kedua: Penulis wahyu (Al-Qur’an)

para sahabat yang menuliskan Al-Qur’an ada 16 orang yaitu:

  1. Ubai bin Ka’ab
  2. Zaid bin Tsabit
  3. Abu Bakar Ash-Shiddiq
  4. Umar bin Khaththab
  5. Utsman bin Affan
  6. Ali bin Abi Thalib
  7. Mu’awiyah bin Abi Sufyan
  8. Abdullah bin Abi Sarh
  9. Zubair bin Awwam
  10. Mughirah bin Syu’bah
  11. Hanzalah bin Rabi’
  12. ‘Amir bin Fuhairah
  13. Yazid bin Abi Sufyan
  14. Khalid bin Walid
  15. ‘Amr bin Ash
  16. Tsabit bin Qais

___________________________________________________________

[1] Penjelasan ini banyak mengambil faidah dari artikel islamqa.info

[2] Firman Allah: وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ

[3] Firman Allah : وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى

Lihat artikel lainnya:

DEFENISI FIKIH DAN SUMBER HUKUMNYA

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp chat