Beranda / Artikel Salayok / Apalah Arti Sebuah Nama?!

Apalah Arti Sebuah Nama?!

Apalah arti sebuah nama, sebuah ungkapan yang sering kita dengar. Seolah-olah ungkapan ini mengatakan bahwa nama itu tidak terlalu penting, tidak berpengaruh. Padahal di dalam agama justru sebaliknya, nama memiliki pengaruh besar bagi pemiliknya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

بل للأسماء تأثير في المسميات ، وللمسميات تأثر عن أسمائها في الحسن والقبح والخفة والثقل واللطافة والكثافة

Bahkan, nama-nama itu memiliki pengaruh terhadap yang diberi nama. Dan yang diberi nama akan terpengaruh dengan nama-namanya dalam hal kebaikan, kejelekan, ringan, berat, ramah dan lemah lembut serta kekasaran.” (Zadul Ma’ad: 2/336)

Orang-orang Arab dahulu mengatakan:

لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ

Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”

Kalau nama tidak berarti, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan adanya nama terbaik yang paling dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

Sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim: 2132)

Nama sangat berarti, karena inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengubah beberapa nama sahabatnya menjadi nama yang lebih baik. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Umar:

أَنَّ ابْنَةً لِعُمَرَ كَانَتْ يُقَالُ لَهَا عَاصِيَةُ فَسَمَّاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيلَةَ

Seorang anak perempuan ‘Umar dahulunya bernama ‘Ashiyah (Durhaka). Maka kemudian diganti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama ‘Jamilah’ (Cantik).” (HR. Muslim: 2139)

Karena ini pulalah banyak para sahabat yang ketika anak-anaknya lahir mereka datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan harapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nama terbaik bagi anak-anak mereka. Dari Abu Musa radhiyallahu anhu ia berkata:

وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ وَدَفَعَهُ إِلَيَّ

Aku pernah memiliki seorang anak yang baru lahir, lalu aku serahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya (mengunyahkan kurma kemudian menyuapkan ke mulut bayi) dengan kurma, setelah itu beliau mendoakannya dengan keberkahan, lalu beliau mengembalikannya kepadaku.” (HR. Bukhari: 6198)

Karena memang sangat berpengaruh kepada yang diberi nama. Selain itu, pengaruh lainnya lagi, dari namalah seseorang dapat mengetahui bagaimanakah orang tuanya. Orang tuanya dapat diketahui dari nama anaknya, apakah orang tuanya itu shalih atau tidak, tahu agama atau tidak. Sebagaimana orang Arab pun mengatakan:

مِنَ اسْمِكَ أَعْرِفُ أَبَاكَ

Dari namamu, aku bisa mengetahui bagaimanakah ayahmu.”

Jika ada nama anak Abdullah maka bisa dipastikan orang tuanya adalah muslim dan tahu agama. Namun kalau nama anaknya adalah nama pemain musik, para artis, nama orang-orang kafir, pelaku maksiat, maka bisa ditebak pula bahwa orang tuanya pengagum mereka, dst.

Oleh sebab itu, pilihlah nama-nama yang baik terutama untuk anak-anak kita. Karena memang nama itu sangat berarti dan menduduki peranan yang penting dalam kehidupan. Jangan katakan seperti yang dikatakan oleh orang-orang, apalah arti sebuah nama, karena ungkapan tersebut bertentangan dengan anjuran agama kita.

Baca juga Artikel:

Agar Mereka Tahu Bahwa Mereka Hanyalah Abdullah; Hamba Allah

KITABUT TAUHID BAB 47 – Memuliakan Nama-nama Allah dan Mengganti Nama Untuk Tujuan Ini

Selesai ditulis di rumah mertua tercinta, Jatimurni Bekasi. Jum’at, 25 Rabi’ul awwal 1441H/ 22 November 2019M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

Suami Adalah Nahkoda Keluarga

Riyadhush Shalihin Bab 35 – Hak Suami Atas Istrinya Allah subhanahu wata’ala berfirman: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ …

Tulis Komentar

WhatsApp chat