Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / BAB 6: HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH – Silsilah Akidah

BAB 6: HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH – Silsilah Akidah

Hidayah hanya milik Allah, firman Allah:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al qashash: 56).

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari, dari Ibnu Musayyab, bahwa bapaknya berkata: “Ketika Abu Thalib akan meninggal dunia, maka datanglah Rasulullah, dan pada saat itu Abdullah bin Abi Umayyah, dan Abu Jahal ada disisinya, lalu Rasulullah bersabda kepadanya:

يَا عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ

“Wahai pamanku, ucapkanlah “la ilaha illallah” kalimat yang dapat aku jadikan bukti untukmu dihadapan Allah”.
Tetapi Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal berkata kepada Abu Thalib: “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib? Kemudian Rasulullah mengulangi sabdanya lagi, dan mereka berduapun mengulangi kata-katanya pula. Maka ucapan terakhir yang dikatakan oleh Abu Thalib adalah: bahwa ia tetap masih berada pada agamanya Abdul Muthalib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat: “la ilaha illallah”, kemudian Rasulullah bersabda: “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang”, lalu Allah menurunkan firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

Dan berkaitan dengan Abu Thalib, Allah menurunkan firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad tak sanggup memberikan hidayah (petunjuk) kepada orang-orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Qashash: 56)

Pelajaran Penting:
1. Hidayah taufiq hanya milik Allah, maka cari dan mintalah kepada-Nya
2. Bersungguh-sungguh mencari dan menyebarkan hidayah irsyad.
3. Bahaya berteman dengan orang-orang jelek dan taklid buta pada kepercayaan nenek moyang.

______________________________

Hidayah Bayan dan Hidayah Taufiq

Hidah terbagi menjadi dua, yaitu

Pertama, hidayatul bayan yaitu petunjuk berupa keterangan dan ilmu agama. Hidayah ini bersifat umum, semua manusia memiliki kesempatan untuk mendapatkan dan memberikan hidayah ini. Semisal seorang da’i yang menjelaskan perkara agama, maka dia telah memberikan hidayah bayan. Karenanya Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52)

Kedua, hidayut taufiq yaitu hidayah dari Allah kepada hambanya untuk menerima kebenaran, memeluk islam dan beriman. Hidayah ini murni milik Allah. Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat memberikan hidayah ini. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad berkaitan dengan Abu Thalib:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash: 56)

Lihat pembahasannya di kitab Daf’ul Idhthirab Syaikh Asy-Syinqithi hal. 9-11

Hidayah Dari Allah sedangkan sebab dari hamba

Hidayah di tangan Allah. Dialah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk pun. (QS. Az-Zumar: 24)

Memang hidayah dan kesesatan di tangan Allah, namun sebab dari hidayah dan kesesatan itu berasal dari usaha manusia. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

Allah tabaraka wa ta’ala hanya akan memberikan hidayah kepada yang pantas menerima hidayah dan menyesatkan yang pantas untuk disesatkan. Allah berfirman:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (QS. Ash-Shaf: 5)

Allah juga berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظّاً مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. (QS. Al-Maidah: 13)

Allah menjelaskan bahwa sebab Allah menyesatkan orang yang sesat itu adalah karena sebab dari hamba itu sendiri.

Lihat: https://www.google.com/amp/s/islamqa.info/amp/ar/answers/220690

Baca juga :

BERSUNGGUH-SUNGGUH MENGGAPAI HIDAYAH

Cukuplah kita mengambil pelajaran dari kisah perjalanan panjang Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu dalam mengapai hidayah.

Sebab-sebab hidayah

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan : Hidayah memiliki sebab-sebab,  diantaranya:

1. Berdo’a dan bersungguh-sungguh memintanya, Allah berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Ghafir: 60)

Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata dari Allah bahwa Ia berfirman:

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

Hai hamba-Ku, kamu sekalian berada dalam kesesatan, kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk. Oleh karena itu, mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu. (HR. Muslim: 2577)

2. Memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus. (QS. Al-Isra’: 9)

 قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. (QS. Fushshilat: 44)

3. Perhatian dengan sunnah Nabi dan sejarah hidup beliau shallallahu alaihi wasallam
4. Berteman dengan orang-orang shalih
5. Hadir di majelis ilmu.

Lihat lengkapnya di: Min Asbabil Hidayah

Kesimpulan

Wajib mentauhidkan Allah dalam hidayah, dengan meyakini bahwa hidayah hanya ada di tangan Allah. Oleh sebab itu, mintalah hidayah kepada Allah.

Penulis: Zahir Al-Minangkabawi
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut klik

Hidayah

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

Sembilan Sebab Hidayah

Memang hidayah berasal dari Allah, namun sebab hidayah berasal dari usaha manusia. Oleh sebab itu, …

Tulis Komentar

WhatsApp chat