Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / CERITA GELENG-GELENG (Art.Salayok89)

CERITA GELENG-GELENG (Art.Salayok89)

Memang negeri kita kaya dengan cerita. Mulai dari legenda, mitos, dogeng, cerita jenaka, cerita pelipur lara sampai cerita yang tak tahu ujung pangkal dan asal usulnya. Tapi ada juga  cerita fakta yang hanya ada di Indonesia. Cerita itu bernama “cerita geleng-geleng.”

Kemaren, cerita rombongan umrah yang bikin geleng-geleng, sekarang cerita baru lagi dan geleng-geleng juga. Cerita larangan mahasiswi bercadar yang dikeluarkan oleh sebuah universitas. Herannya, universitas yang menetapkan peraturan itu bukan universitas umum tapi malah universitas Islam.

Hebat bukan, kita di Indonesia tapi serasa di Eropa. Kok bisa??? Bukankah negeri ini negeri Islam terbesar? Dan bukankah cadar juga bagian dari Islam?

Kalau Anda mengatakan “tidak” berarti Anda harus belajar lagi. Sepertinya Anda terlalu sibuk dengan whatsapp dan facebook sehingga tak sempat membaca buku-buku fikih Islami.

Tapi sudahlah, sebagai seorang muslim semakin bertambah keyakinan kita dengan kebenaran ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau yang dahulu pernah mengatakan:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam bermula dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 386)

Islam kembali asing bahkan di tengah-tengah masyarakat yang mengatakan dengan lantang, “Kami muslim.” Bahkan, itu terjadi di negeri  kita; negeri yang digelari “Negeri Islam Terbesar” dengan jumlah penduduk muslim terbanyak.

Bagi saudari-saudari kami yang tengah di uji, apa boleh buat harus banyak-banyak bersabar. Karena memang zamannya telah datang. Bukankah Rasulullah pernah mengatakan:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Kelak akan datang suatu masa kepada manusia, seorang yang sabar berpegang teguh dengan agamanya seperti seorang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi: 2260 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 2/682)

Tapi Anda tak perlu sedih, genggam terus bara itu. Ingat bahwa:

 إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ

“Sesungguhnya besarnya pahala bersama besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan ujian kepada mereka.” (HR. Tirmidzi: 2396, ash-Shahihah: 1220)

Jangan ragu tetap genggam bara itu meski tangan melepuh. Ingat bahwa Rasulullah pernah bersabda  kepada para sahabatnya:

“إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الْمُتَمَسِّكُ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ لَهُ كَأَجْرِ خَمْسِينَ مِنْكُمْ”

“Sesungguhnya nanti di belakang kalian akan ada hari-hari kesabaran, seorang yang berpegang teguh dengan agamanya pada hari itu seperti kalian hari ini akan memperoleh ganjaran lima puluh dari kalian.” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabir, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/812)

Jangan heran dan tak usah risau, ingat bahwa kita di Indonesia; negeri yang punya banyak cerita.(zhr)

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Ikhlas Akan Memudahkan Seorang Hijrah Meninggalkan Kebiasaan Buruk

Hijrah tak semudah diucapkan, karena meninggalkan kebiasaan buruk memang tak semudah membalik kedua telapak tangan. …

Tulis Komentar