Beranda / Artikel Salayok / KISAH KITA (Art.Salayok65)

KISAH KITA (Art.Salayok65)

Banyak di antara kita yang idealis dalam masalah dunia, namun dalam masalah akhirat biasa-biasa  saja. Bukankah selama ini kita mati-matian memberikan yang terbaik untuk karier dan cita-cita dunia. Tapi, tak peduli dengan karier akhirat kita.

Kapan kita kembali mempelajari tata cara shalat?! Jangan-jangan sampai saat ini shalat kita masih sama persis seperti apa yang kita pelajari saat dulu di TPA.

Kapan kita menambah hafalan?! Bukan hafalan rumus-rumus yang kata kita rumit itu, tapi hafalan al-qur’an. Jangan-jangan sampai hari ini bacaan surat dalam shalat kita masih saja berputar-putar antara Qulhuallah, al-Falaq, an-Nas, atau surat-surat dengan panjang yang serupa.

Kita kerahkan segenap usaha untuk mendapatkan gelar pendidikan tertinggi di dunia, tapi kita biarkan saja diri kita bodoh dalam urusan agama. Jujur saja, kita banyak “tidak tahu-nya.” Bukan karena kita segitu mampunya tapi karena semaunya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِي جَوَّاظٍ سَخَابٍ فِي الأَسْوَاقِ جَيْفَةٌ بِاللَّيْلِ حِمَارٌ بِالنَّهَارِ عَالِمٌ بِالدُّنْيَا جَاهِلٌ بِالآخِرَةِ

“Allah sangat membenci orang ja’dzari (orang sombong), Jawwadz (rakus lagi pelit), suka teriak di pasar (bertengkar berebut hak), bangkai di malam hari (tidur sampai pagi), keledai di siang hari (karena yang dipikir hanya makan), pintar masalah dunia, namun bodoh masalah akhirat.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Kita sematkan berbagai gelar di depan atau belakang nama yang menunjukkan kita pintar dalam bidang dunia kita. Namun, dalam masalah agama, kita sadari dengan anak-anak SD kita tak jauh beda.

Dan ternyata, itulah satu golongan yang amat dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala, orang-orang yang pintar masalah dunia tapi bodoh masalah agama. Sekarang atau mungkin sebelumnya juga, kita tahu, kita sudah baca. Tapi, itulah kisah kita.

Hari ini, sudah saatnya kita berbenah diri, untuk kembali menata karier akhirat, karena kita akan hidup abadi di alam sana. Kita tentu tidak ingin berjumpa dengan Allah dalam keadaan dibenci. Oleh sebab itu, “maribaraja; mari belajar” untuk mempersiapkan kehidupan itu. Menyiapkan bekal sebelum kita meninggal.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Bila Anak Berumur Tujuh Hari

Islam adalah agama yang sempurna, yang membahas semua masalah hidup manusia. Bayi yang berumur tujuh …

Tulis Komentar