Beranda / Khutbah Jum'at / Mengejar Besarnya Pahala di Tengah Pandemi Yang Melanda – Khutbah Jum’at

Mengejar Besarnya Pahala di Tengah Pandemi Yang Melanda – Khutbah Jum’at

Khutbah kali ini membahas anjuran bersedekah mengejar besarnya pahala di tengah pandemi yang melanda.

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَيُّها المُسْلِمُونَ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله فقد فاز المتقون قال الله: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Ali bin Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib atau yang lebih dikenal dengan Zainal Abidin rahimahullah, cicit Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, orang shalih dari generasi tabi’in. Disebutkan bahwa apabila malam sudah mulai gelap, ia memanggul karung-karung gandum di atas punggungnya yang kurus dan lemah lalu keluar membawanya di kegelapan malam pada saat manusia sedang tertidur lelap.

Dia mengelilingi kampung-kampung Madinah sambil memanggulnya untuk disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan yang tidak mau meminta-minta kepada manusia. Banyak orang dari penduduk Madinah yang bertahan hidup sedang mereka tidak tahu dari mana datangnya rezeki yang baik itu.

Tatkala Zainal Abidin wafat, mereka kehilangan rezeki yang dahulu mendatangi mereka, barulah mereka mengetahui dari mana asal sumber rezeki tersebut. Ketika Zainal Abidin diletakkan di atas pemandian, orang-orang yang memandikannya memandang kepadanya, mereka menemukan bekas-bekas hitam di punggungnya. Sehingga mereka pun bertanya, “Bekas apakah ini?” Maka ada yang menjawab:

إِنَّهُ مِن آثَارِ حَمْلِ أَكْيَاسِ الدَّقِيقِ إِلَى مِائَةِ بَيتٍ فِي المَدِينَةِ فَقَدَت عَائِلَهَا بِفَقدِهِ

“Sesungguhnya itu adalah bekas memanggul karung-karung gandum kepada seratus rumah di Madinah yang sekarang telah kehilangan orang yang menghidupi mereka dengan kematiannya.” (Suwar min Hayatit Tabi’in: 347-348)

Zubaid bin Al-Harits Al-Yami rahimahullah, masih seorang tabi’in. Disebutkan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya Shifatus Shafwah:

كَانَ زُبَيْدٌ إِذَا كَانَتِ اللَّيْلَةُ مُطِيْرَةً ، أَخَذَ شُعْلَةً مِنَ النَّارِ، فَطَافَ بِهَا عَلَى عَجَائِزِ الحَيِّ فَقَالَ : أُوْكِف عَلَيْكُمْ بَيْتٌ؟ أَتُرِيْدُوْنَ نَاراً؟ فَإِذَا أَصْبَحَ طَافَ عَلَى عَجَائِزِ الحَيِّ فَقَالَ: أَلَكُمْ فِي السُّوْقِ حَاجَةٌ؟ أَتُرِيْدُوْنَ شَيْئاً؟

Dahulu Zubaid apabila malam turun hujan maka ia mengambil obor api kemudian berkeliling ke orang-orang kampung yang lemah (fakir) seraya berkata: “Apakah rumah kalian ada yang bocor? Apakah kalian membutuhkan api?” Ketika pagi hari ia kembali berkeliling kepada mereka seraya berkata: “Apakah kalian memiliki kebutuhan dari pasar? Apakah kalian menginginkan sesuatu?” (Shifatu Ash-Shawah: 560)

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Memperhatikan kehidupan orang-orang miskin, lemah, orang yang tengah dalam kondisi kesusahan adalah kebiasaan dan sifat orang-orang shalih zaman dahulu. Ketika kondisi menjadi lebih sulit dari biasanya bagi orang-orang miskin tersebut maka perhatian Salafus Shalih pun semakin besar pula.

Bercermin dari kehidupan Salafus Shalih ini, kami mengajak kita semua untuk meneladani mereka. Bulan ini, tepat satu tahun pademi Covid-19 telah melanda negeri kita. Semua kita merasakan kesusahan dan kesulitan. Terlebih saudara-saudara kita dari kalangan fakir miskin, mereka yang sebelum pandemi telah merasakan kesusahan maka dengan pandemi ini menjadi jauh lebih susah. Oleh karena itulah, saat inilah kesempatan bagi kita untuk saling membantu, meringankan kesusahan mereka, memberikan hiburan kepada hati mereka yang tengah sedih gulana, dengan memberikan sesuatu yang mereka butuhkan, sehingga moga-moga dengan hal itu kita bisa mendatangkan senyuman di sela-sela tangisan mereka.

Sungguh, memberikan kelapangan kepada orang yang berada dalam kesempitan merupakan seutama-utamanya amal kebajikan. Dan semua balasan kebajikan ini, kembali untuk diri kita sendiri. Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya bersabda:

  مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesusahan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim: 2699)

Berikanlah apa yang kita mampu kepada mereka dari hal-hal yang sangat mereka butuhkan hari ini. Mereka butuh beras, lauk pauk, minyak dan gas untuk memasak, mereka butuh uang untuk membayar uang sekolah anak-anak mereka, atau membayar tagihan listrik. Mari kita bantu mereka dengan infak dan sedekah kita, baik secara terang-terangan seperti yang dilakukan Zubaid Al-Yami atau pun secara sembunyi-sembunyi seperti yang dilakukan oleh cicit Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu Zainal Abidin sebagaimana yang telah kita sebutkan di atas.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…

Sedekah atau infak kepada orang-orang yang membutuhkan dimasa-masa seperti hari ini, nilai pahalanya jauh lebih besar. Karena sebagaimana yang dikatakan para ulama, pahala sedekah akan menjadi lebih besar ketika sedekah itu dapat memberikan kebahagiaan kepada penerima. Semakin besar kebahagian mereka maka semakin besar pula pahalanya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

أَفْضَلُ الأَعْمَالِ : إِدْخَالُُ السُّرُورِ عَلَى المُؤمِنِ : كَسَوْتَ عَوْرَتَهُ ، وَأَشْبَعْتَ جَوْعَتَه ، أَوْ قَضَيتَ لَهُ حَاجَةً

Amalan yang paling utama adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin; engkau memberikan pakaian untuk menutupi auratnya, engkau menghilangkan rasa laparnya atau engkau tunaikan kebutuhannya. (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath: 5/202 dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 2090, disadur dari islamqa.info dengan judul Ayya As-Sailin Aula bi I’thaihi Ash-Shadaqah)

Dan masa pandemi ini, saat keadaan menjadi lebih sulit dari sebelumnya, maka kebahagiaan yang ditimbulkan dari sedekah kita kepada orang-orang yang tengah kesusahan menjadi lebih besar pastinya. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kita untuk menjalani masa-masa sulit seperti ini, dan semoga Allah segera mengangkat musibah pandemi ini dari kita semua.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللهم احْمِنَا مِنْ هَذَا البَلاَءِ ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا هَذَا الوَبَاءَ

اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالجُنُونِ وَالجُذَامِ، وَسَيْئِ الأَسْقَامِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi, Jum’at 6 Sya’ban 1442 H/ 19 Maret 2021M di tengah pandemi yang masih berlangsung

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Bolehkan Memberikan Mahar kepada Ibu?

Soal: Bismillah, Assalamu’alaikum, saya mau tanya bagaimana hukumnya jika sebuah mahar itu kita persembahkan untuk …

Tulis Komentar

WhatsApp chat