Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / Pengharaman Dari Neraka

Pengharaman Dari Neraka

Tauhid yang merupakan kewajiban utama bagi setiap manusia memiliki banyak keutamaan dan faidah. Di antaranya adalah mengaharamkan atau mengahalangi seseorang dari neraka. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka seorang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, mengharapkan dengan ucapannya itu wajah Allah. (HR. Bukhari: 425, Muslim: 33)

Bentuk pengharaman Allah tersebut ada dua macam:

Pertama, pengharaman masuk. Maksudnya yaitu Allah akan menghalangi seseorang yang bertauhid agar tidak masuk neraka, meskipun dosanya selain syirik membumbung setinggi langit. Kalau Allah berkehendak maka Ia akan mengampuni dosa-dosa tersebut lalu memasukkan hambanya itu ke dalam surga tanpa harus masuk dulu ke dalam neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا ، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلَ مَدِّ الْبَصَرِ ، ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا ؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ ؟ فَيَقُولُ : لَا يَا رَبِّ ! فَيَقُولُ : أَفَلَكَ عُذْرٌ ؟ قَالَ : لَا يَا رَبِّ ! فَيَقُولُ : بَلَى ؛ إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً ، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ ، فَتُخْرَجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، فَيَقُولُ : احْضُرْ وَزْنَكَ ، فَيَقُولُ : يَا رَبِّ ! مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ ؟ فَيَقُولُ : إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ ، قَالَ : فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ ؛ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

Sesungguhnya Allah akan memilih seorang dari ummatku dihadapan sekian banyak makhluk nanti di hari kiamat. Kemudian dibukakan kepadanya sembilan puluh sembilan catatan dosa. Setiap catatan sejauh mata memandang. Kembali Allah berkata: “Apakah ada yang engkau ingkari dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?” Orang itu mengatakan: “Tidah wahai Rabbku.” Allah bertanya: “Apakah engkau mempunyai udzur?” Ia menjawab: “Tidak ada wahai Rabbku.” Kemudian Allah berkata: “Ya, sungguh engkau memiliki kebaikan disisi kami, dan engkau tidak akan dizalimi pada hari ini.” Kemudian dikeluarkan sebuah kartu kecil yang bertuliskan : Asyhadu an la ilaha illah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Kemudian Allah berkata: “Hadirkanlah timbanganmu.” Maka orang itu pun berkata: “Wahai Rabbku apalah artinya satu kartu ini dengan sekian banyak catatan dosa ini.” Allah berkata: “Sungguh engkau tidak akan dizalimi.” Kemudian catatan-catatan dosa diletakkan di daun timbangan dan kartu diletakkan di daun timbangan yang lain. Ternyata cacatan dosa itu ringan sedangkan kartu berat. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan nama Allah. (HR. Tirmidzi: 2639, Ibnu Majah: 4300, Ash-Shahihah: 135)

Kedua, pengharaman kekekalan. Maksudnya seorang yang bertauhid meski masuk ke dalam neraka untuk menerima balasan dari dosa-dosa yang telah ia kerjakan, kelak akan dikeluarkan oleh Allah dari sana lalu dimasukkan ke dalam surga. Dia dihalangi oleh Allah agar tidak kekal di dalam neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ

Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah dan di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kebaikan. (HR. Bukhari: 44, Muslim: 193)

Oleh sebab itu maka tinggal usaha kita untuk merealisasikan tauhid agar kita diharamkan dari neraka oleh Allah subhanahu wata’ala. Wallahul muwaffiq.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Ushul Tsalatsah – Hanifiyyah Agamanya Nabi Ibrahim

Pada bagian ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membahas tentang Hanifiyyah agamanya Nabi Ibrahim, yang …

Tulis Komentar

WhatsApp chat